Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur Hingga Ketua Umum LVRI (1)

Rais Abin cakrawarta

Hari ini, Selasa, 29 Agustus 2017, pagi sekali, saya berkunjung ke Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di Semanggi, Jakarta.

Sekitar pukul 09.30 WIB, saya bertemu Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin yang sudah duduk di ruang pimpinan sebagai Ketua Umum LVRI.

Kita berbicara tentang berbagai hal, hingga beliau menasehati saya, “jaga kesehatan.” Rais Abin salah seorang tokoh militer Indonesia, yang boleh saya katakan, di usia 91 tahun, tetap segar bugar. Wajahnya tetap segar dan tegar, juga dalam hal mengambil keputusan selalu tegas.

Suatu ketika stafnya berujar, “Pak Rais itu, bahasa Inggrisnya sangat fasih. Tidak keliru jika waktu itu Presiden Soeharto dan Menhankam/Panglima TNI M. Jusuf mengangguk tanda setuju ketika Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Dr. Kurt Josef Waldheim mengangkatnya menjadi Panglima Pasukan Perdamaian di Timur Tengah, yang bermarkas di Mesir.” Tugas utamanya mencari celah kedua belah pihak yang bersengketa antara Mesir dan Israel duduk di meja perundingan.

Sudah tentu berbicara tentang hubungan Mesir buat Indonesia tidak masalah, karena Mesir sangat mendukung kemerdekaan. Tetapi dengan Israel?

Sejak di masa Presiden RI Soekarno masalah Palestina mencuat ke permukaan. Kita selalu mengecam Israel karena tidak adil dengan Palestina. Dahulu wilayah Palestina sangat kecil, tetapi sejak Israel merdeka, wilayah luas itu direbut secara ilegal. Caranya Israel mendirikan pemukiman-pemukiman baru, sehingga wilayah yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza, penduduk Palestina melawan. Sangat wajar melawan, karena wilayah penduduk Palestina semakin kecil dan terdesak. Saya khawatir, nanti tidak ada lagi peta wilayah Palestina. Hilang dari muka bumi. Di google saja, ketika kita mencari wilayah Palestina yang muncul wilayah Israel. Sungguh menderita warga Palestina hingga sekarang.

Kenapa ada Duta Besar Palestina di Jakarta. Di dalam Hukum Internasional dikenal Petaluma wilayah oleh sesuatu negara secara “de facto, ” dan “de jure.”

“De facto,” secara nyata, fakta. “De Jure, ” menurut hukum internasional. Negara Israel, diakui oleh kedua syarat itu, begitu pula dengan Indonesia. Palestina hanya memiliki “de facto,” belum “de jure,” meski memiliki Duta Besar di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Mampukah suatu ketika, Indonesia menjadi pioner atau penggagas mendorong kemerdekaan Palestina. Hal ini kita kembali kepada sikap Rais Abin yang dulu berpangkat Mayor Jenderal, jika Israel tidak setuju saya jadi Panglima yang mendamaikan Mesir-Israel, untuk apa saya jadi Panglima, ujarnya. Akhirnya Sekjen PBB setuju dan bertolak ke Israel untuk minta persetujuan.

Itu tentang salah satu sisi dari sikap tegas seorang Rais Abin. Di dalam sikap tegas, ia juga menyadari dirinya ketika diminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Soepardjo Roestam untuk diajak bersama-sama menghadap Pak Harto. Ia menolak. Tidak mungkin, karena ia beristeri orang Sunda, meski ia sendiri dari Minangkabau. Mendagri sendiri yang menghadap Pak Harto. Ternyata dengan pertimbangan kata-kata Pak Rais yang disampaikan Mendagri, Presiden Soeharto juga membenarkan kalimat-kalimat Rais Abin.

Di Legiun Veteran RI, ia termasuk tokoh yang disegani. Salah seorang stafnya berujar, “Yang saya segani dan takuti di LVRI hanya Pak Rais Abin.” Mungkin dalam pandangan saya, ditakuti bukan karena angker, tetapi lebih mengarah kepada sifat bijaksana. Kapan waktunya diam, kapan marah, kapan menghadapi persoalan dengan serius dan kapan santai.

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Wartawan, Sejawaran dan Penulis Senior

author