PKI dan G30S (4): Gagalnya Usaha PKI Membubarkan HMI

191

Pernah suatu ketika, saya bersama tim penulis lainnya berjanji bertemu Pak Achmad Tirtosudiro pukul 15.00 WIB, di Bandung. Kami pagi sekali telah berangkat dari Jakarta. Karena macetnya jalan dari Jakarta ke Bandung, kami terlambat sampai ke rumah beliau. Kami tiba pukul 15.05 WIB, jadi terlambat lima menit. Apa yang terjadi? Ajudannya mengatakan: “Pak Achmad sudah tidur dan jadwal wawancara diatur kembali besok.”

Itulah yang saya alami. Lima menit terlambat sudah tidak ada kompromi. Pak Achmad sosok yang disiplin, disamping konsisten.

Cerita ini mungkin tidak terdapat di dalam buku yang kami tulis bertiga, yaitu Ahmad Zacky Siradj, saya sendiri, yaitu Dasman Djamaluddin danToto Izul Fatah: ” Kenangan 70 Tahun Achmad Tirtosudiro Profil Prajurit Pengabdi ” (Jakarta: PT Intermasa, 1992), tetapi ketika HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) menghadapi pengganyangan PKI (Partai Komunis Indonesia) sebagaimana diceritakan Pak Achmad Tirtosudiro kepada kami yang tertulis dalam buku itu dari halaman 105 – 108.

Pada tanggal 29 September 1965, PKI mengadakan rapat akbar dan mengatakan telah memberi instruksi kepada CGMI untuk membubarkan HMI.

“Kalau Tidak Bisa Membubarkan HMI, pakai sarung sajalah,” itu ucapan D.N. Aidit ketika itu.

CGMI atau Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia adalah sebuah organisasi mahasiswa di Indonesia, terkait dengan Partai Komunis Indonesia. CGMI didirikan pada tahun 1956, melalui penggabungan komunis yang dipimpin kelompok mahasiswa universitas di Bogor, Bandung dan Yogyakarta (yang telah muncul pada awal 1950-an).

Pada saat pendiriannya, CGMI beranggotakan sekitar 1.180. Di awal 1960, CGMI mengklaim keanggotaan sekitar 7.000. Cabang Yogyakarta dan Bandung mengklaim masing-masing keanggotaannya sekitar 1.750. Organisasi di Surabaya mengklaim 500 anggota, 400 di Malang dan 300 di Universitas Indonesia Jakarta. Organisasi mahasiswa Rival memperkirakan keanggotaan CGMI di sekitar 4.000.

Tahun 1963, CGMI mengklaim keanggotaannya sekitar 17.000. Ekspansi dapat dijelaskan, setidaknya sebagian, karena rekrutmen di lembaga-lembaga yang berbeda yang didirikan oleh Partai Komunis (seperti UNRA). Secara resmi sebuah organisasi non-partisan, CGMI adalah gerakan-satunya mahasiswa terbuka untuk siswa terlepas dari politik dan orientasi keagamaan. Sebagian besar anggota CGMI pendukung Partai Komunis.

CGMI menjalankan berbagai kampanye sosial dan politik. Berkampanye melawan imperialisme (Belanda, Inggris dan Amerika), mendukung pemerintah nasional terhadap pemberontakan PRRI. Organisasi ini kukuh menentang perpeloncoan mahasiswa baru.Organisasi berkampanye untuk peningkatan tunjangan pelajar dan penurunan harga buku untuk siswa. Mengenai budaya, CGMI berkampanye melawan budaya ‘rock n’ Roll (yang dilihatnya sebagai un-Indonesia). Organisasi ini juga menyelenggarakan kegiatan olahraga, seperti tenis meja dan bulu tangkis. CGMI juga menyelenggarakan wisata bagi siswa

Hardoyo (Anggota Parlemen) menjadi presiden nasional CGMI pada tahun 1962. Pada paruh pertama tahun 1960-an, bentrokan antara organisasi mahasiswa pro dan anti-pemerintah mengguncang banyak perguruan tinggi di Indonesia. CGMI milik kubu pro-pemerintah, mendukung GMNI. CGMI menuntut agar organisasi mahasiswa pro-Masyumi dilarang (Masyumi sudah dilarang).

CGMI menggelar kongres ketiga sebelum militer 1965 mengambil-alih. Soekarno berpidato untuk kongres pada tanggal 29 September 1965. CGMI dilarang setelah militer mengambil-alih. Organisasi ini yang pertama kali “dibekukan” oleh pemerintah pada 1 November 1965.

Kemudian siapa D.N. Aidit ? D.N. Aidit atau Dipa Nusantara Aidit adalah seorang pemimpin senior Partai Komunis Indonesia. Lahir dengan nama Ahmad Aidit di Pulau Belitung, ia akrab dipanggil “Amat” oleh orang-orang yang akrab dengannya. Aidit mendapat pendidikan dalam sistem kolonial Belanda. Ia lahir pada 30 Juli 1923, di Pangkal Lalang, sebuah Kelurahan di Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung dan meninggal pada 22 November 1965,di Kabupaten Boyolali.

Berikutnya menjelang kudeta berdarah itu, pimpinan HMI memberi tugas di berbagai kesempatan agar bersedia memberikan ceramah. Memang saat-saat genting, semua pimpinan HMI dituntut menunjukkan kesetiaan dan kesiapan anggota, terutama dalam membela kepentingan organisasi. Hal ini diperlukan sekali untuk menunjukkan massa kekuatan HMI, sekaligus juga untuk menyegarkan jiwa patriotisme dan keberanian para anggota, kader dan para pemimpinnya.

Jenderal A. Yani pun memberi nasihat HMI secara lengkap. ” Sekarang PKI mengancam HMI, sebentar lagi TNI akan mendapat giliran. ” Jadi, HMI mendapat perlindungan dari TNI dan HMI tidak berhasil dibubarkan PKI. Apalagi Achmad Tirtosudiro adalah juga seorang TNI.

Berita Duka

Innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiun. Telah wafat Bapak Achmad Tirtosudiro, Rabu, 9 Maret 2011 Pukul 00.15 WIB dalam usia 89 tahun. Dimakamkan di Tanah Kusir, sebelah makam ibu, pukul 14.00 WIB, berangkat dari Cinere.”

Pesan singkat ini dikirim kepada saya pada pagi hari, Rabu 9 Maret 2011 oleh Ahmad Zacky Siradj, mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI.

Pak Achmad sebutan sehari-hari beliau, terakhir berpangkat Letnan Jenderal TNI AD/Infantri. Lahir pada tanggal 8 April 1922 di Plered, Purwakarta, Jawa Barat. Kesan mendalam yang saya alami ketika bertemu beliau beberapa kali adalah kedisiplinannya dalam segala bidang.

Sebagai seorang militer, Pak Achmad antara tahun 1945-1947 sudah menjabat Komandan Kompi Tentara Republik Kereta Api (TRI-KA) di Bandung. Adalah Abdul Haris Nasution yang mendorong Pak Achmad terjun ke dunia militer. Sejak di Jawa Barat itulah karier militernya sungguh-sungguh dirintis.

Sewaktu bertugas di Cirebon, Pak Achmad meminta dengan sangat kepada Kepala Staf Divisi Siliwangi agar ia secepatnya dapat memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan (disekolahkan). Padahal waktu itu, orang-orang lain disekolahkan.

“Rasanya seperti disingkirkan karena tidak dibutuhkan,’ ujar Pak Achmad masuk SSKAD tahap I (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat). Kebetulan sekolah ini baru saja dipindahkan dari Cililitan (Jakarta) ke Bandung sehingga semua siswa saat itu disediakan kompleks baru. Menyelesaikan sekolah ini pada tahun 1954 dan diangkat oleh Pak Bambang Soegeng, ketika itu sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sebagai Komandan Resimen XVIII Brawijaya. Pak Achmad satu-satunya lulusan waktu itu yang diangkat sebagai komandan resimen. Tahun 1956 hingga 1957 tugas belajar pada CGSC di Amerika Serikat. Sepulangnya di Tanah Air, KSAD, Abdul Haris Nasution memberi tugas dan mengangkat Pak Achmad sebagai Ketua Panitia pendirian Sekolah komando Angkatan Darat (Seskoad). Langkah awal waktu mendirikan sekolah ini mengumpulkan orang-orang yang pernah belajar di luar negeri, baik dari Jerman, India, Pakistan maupun Belanda. Mereka semuanya dilibatkan sebagai anggota Panitia. Seperti Sastraprawira lulusan HKS Belanda, Alibasa Satari lulusan India, Leo Lepolisa lulusan Pakistan, Yasin lulusan Rusia, Surono lulusan Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat dan Tambunan (mantan Gubernur Sumatera Utara dan mantan Panglima manado).

Tahun 1966 pada saat Indonesia sedang mengalami krisis pangan, Pak Achmad ditunjuk sebagai Kabulog (Kepala Badan Urusan Logistik). Kata Bulog ini jelmaan baru dari Kolognas (Komando Logistik Nasional). Kolognas pada waktu itu banyak memperoleh sorotan, malah mosi dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Akhirnya kolognas dibubarkan karena dianggap tidak konstitusional. Pak Harto bilang, ”Ya, bubarkan saja, itukan sudah menjadi keputusan MPR.”

Di samping jabatan-jabatan yang dipegangnya di atas, Pak Achmad pernah menjabat Ketua G-7/Koti pada tanggal 18 Nopember 1965, Duta Besar RI di Bonn 1973-1976, Duta Besar RI untuk Saudi Arabia, Rep.Arab Yaman dan Kesultanan Oman pada 1982-1985.

Pak Achmad merupakan salah seorang pendiri HMI juga. Di dunia pendirikan pernah menjadi Rektor Universitas Bandung (UNISBA). Menguasai lima bahasa asing, Belanda (aktif),Inggris (aktif), Perancis (aktif), Jerman (aktif) dan Arab (pasif).

Tentang Pak Achmad, Habibie, mantan Presiden RI pernah berkomentar:

“Orang pernah bertanya kepada saya, ‘ Pak Habibie, bagaimana sih caranya orang bisa jadi unggul seperti Pak Habibie?’ Saya jawab,’ Shalat lima waktu. Itulah yang saya lakukan.’ Rupanya itu pulalah yang dilakukan Pak Achmad,” ujar Habibie.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior