PKI dan G30S (2): Anggota PKI Menyusup ke Harian “Merdeka”

96
(foto: istimewa)

Sebelum kemerdekaan, tepatnya di bulan Mei 1920 di Semarang, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibentuk. Tahun 1925, Komite Exec dari Komintern dalam rapat pleno memerintahkan komunis di Indonesia untuk membentuk sebuah front anti-imperialis bersatu dengan organisasi nasionalis non-komunis, tetapi unsur-unsur ekstremis didominasi oleh Alimin & Musso menyerukan revolusi untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda. Penjajah Belanda kemudian melarang berdirinya PKI pada 23 Maret 1928. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya di bulan Oktober 1945, PKI kembali berdiri, malah ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Soviet Republik Indonesia.

Cerita Joesoef Isak mantan Pemimpin Redaksi Harian “Merdeka” ini yang menggantikan sementara Burhanudin Mohamad (B.M) Diah ketika ditugaskan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Muangthai (Thailand) pernah saya tulis di Kompasiana.

Joesoef Isak ketika saya bertemu di rumahnya tahun 2009 mengakui dirinya dituduh sebagai wartawan yang condong mendukung PKI. Karena tuduhan PKI ini, ia pernah dipenjara selama 10 tahun di Penjara Salemba. Ia pun memulai pembicaraannya sejak berdirinya Harian “Merdeka.”

Pada 29 September 1945 pagi-pagi sekitar pukul sembilan, demikian ujar Joesoef Isak, B.M. Diah mengajak Frans Soemarto Mendur dan Yep Kamsar, dua temannya yang pernah menjadi tukang setting dan korektor koran “Asia Raya.” Namun Diah tutup mulut ketika ditanya ke mana tujuan mereka.

Tapi di tempat lain Rosihan Anwar serta Dal Bassa Pulungan sudah diberi isyarat dan berjanji akan membantu. Aksi tutup mulut atas rencana ini ia lakukan mengingat ia sendiri tahu betapa nekat apa yang akan ia lakukan. Bahkan untuk berjaga-jaga, B.M. Diah menyelipkan sepucuk revolver di saku celananya.

Mereka pergi ke Molenvliet, beberapa waktu kemudian bernama Jalan Hayam Wuruk, di mana terdapat gedung percetakan De Unie. Diiringi teman-temannya, B.M. Diah memimpin masuk ke ruang direksi “Djawa Shimbun.”

B.M. Diah berpikir, bangsa yang sudah kalah perang seperti Jepang, pasti tak punya semangat lagi untuk meneruskan perang, maka ia berani saja melakukan tindakan nekatnya. Tapi ternyata apa yang ia hadapi tak semengerikan bayangannya. Revolver di kantongnya, jangankan dipakai, bahkan tak pernah dikeluarkan.

Orang-orang Jepang itu, seolah tak peduli, menyerahkan percetakan kepada mereka tanpa perlawanan sedikit pun. Pada hari itulah mereka menjadi pemilik percetakan, “Atas Nama Republik Indonesia”.

Keesokan harinya mereka mulai bekerja, mempersiapkan beberapa tulisan. Nama “Merdeka” dipilih, mengingat salam nasional yang telah diresmikan itu. Bentuk huruf dirancang, dan mereka kemudian mempergunakan jenis huruf Wiwosch yang dicetak dengan tinta merah. Sepanjang umur “Merdeka,” jenis huruf itu tetap dipertahankan. Kebetulan waktu itu di gedung De Unie masih ada persediaan kertas yang banyak, cukup untuk enam bulan.

Beberapa tulisan yang sudah di-setting dicetak pada hari itu, siang-siang. Lembar pertama dibaca beramai-ramai, dan korektor mulai membaca proefdruk untuk mengoreksi berita yang salah ketik. Mesin berputar lagi, dan suara sorak-sorai orang-orang nekat itu menggema penuh kegembiraan. Sore 1 Oktober 1945 akhirnya koran itu beredar, meski cuma empat halaman.

Namun cerita riang itu tak berumur panjang. Jepang pergi tapi Sekutu datang. Tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger, Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda) dengan seragam NICA (Nederlands Indies Civil Administration– Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) datang bersama tentara Inggris, memenuhi kota dan mempersempit ruang gerak, termasuk para wartawan di koran “Merdeka.”

Di sana-sini, di pelosok-pelosok jalan, tampak tentara-tentara NICA siap menahaan atau menginterograsi orang-orang yang dicurigai. Yang paling mengerikan adalah ketika suatu hari kantor “Merdeka” diserbu segerombolan anak-anak muda NICA. Mereka berlarian di kantor yang luas tersebut sambil menembak ke sana-ke mari. Memang tak ada yang tertembak, tapi sudah cukup membuat orang nyaris semaput.

Dengan berjalannya waktu, terutama setelah kedatangan wartawan-wartawan asing serta perkenalan dengan seorang kapten asal Gurkha yang senang nongkrong di “Merdeka” bernama Sen Grupta, kantor “Merdeka” tak pernah diganggu lagi.

Itulah sebagian pembicaraan saya dengan Joesoef Isak di rumahnya di bulan Juli 2009, saya waktu itu sebagai Redaktur Senior Majalah “Biografi Politik,” berkunjung ke rumah Joesoef Isak, yang pernah diangkat B.M. Diah sebagai Pemimpin Redaksi harian “Merdeka.” Ia bercerita panjang lebar tentang perkenalannya dengan B.M. Diah hingga ia dipecat.

Isak adalah perokok berat. Ketika berbicara dengan saya, tangannya tidak lepas memegang sebatang rokok. Saya bertemu pada bulan Juli 2009 itu merupakan pertemuan pertama dan terakhir saya, karena sebulan setelah saya bertemu, tepatnya 15 Agustus 2009, ia meninggal dunia di usia 81 tahun.

Masalah pecat memecat sangat sering terjadi di Harian “Merdeka,” meski beberapa orang berjasa besar terhadap surat kabar itu, di antaranya Josoef Isak. Joesoef Isak, mengatakan “Orang boleh saja bekerja di Harian ‘Merdeka’. Boleh saja menjadi Pemimpin Redaksi seperti saya. Tetapi Pemimpin Redaksi sebenarnya adalah B.M. Diah.”

Joesoef Isak lahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai pegawai kantor pos, Keluarganya berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Terdidik dalam sistem kolonial Belanda, Isak tidak berbicara bahasa Indonesia sebagai seorang pemuda, tetapi kemudian menjadi pendukung bahasa tersebut. Pada tahun 2005, Isak menerima Keneally Award dari masyarakat Australia untuk karyanya.

Joesoef Isak selain wartawan, adalah seorang penerbit Indonesia, penerjemah, dan intelektual sayap kiri. Dia adalah seorang penganjur kebebasan berbicara selama pemerintahan Presiden Soeharto, dan dipenjarakan selama 1967-1977 tanpa pengadilan.

Harian “Merdeka” Sangar Menentang PKI

Harian “Merdeka,” sejak lahirnya memiliki visi yang jelas dan garis politik. Landasannya, Republik Indonesia, Pancasila dan UUD ’45. Itu sebabnya, sebagai wartawan, B.M. Diah cukup dikenal dekat Bung Karno. Namun melalui tulisan di “Merdeka,” Diah tak segan-segan menyerang politik Bung Karno, yang ketika itu mulai dipengaruhi PKI.

Pada tahun 1964, melalui tulisannya di “Merdeka,” Diah menyerang politik PKI. Ini menimbulkan kemarahan PKI. Polemik pun tak terhindarkan, antara “Merdeka” dengan Harian “Rakyat” milik PKI. Tujuan pokok Diah, menurut Roeslan Abdoelgani, adalah untuk: “Ada musang srigala yang bersembunyi. Biarkan dia keluar!”

PKI yang disebut Diah “musang srigala yang bersembunyi dalam selimut UUD ’45,” terpaksa keluar dan melakukan kudeta pada 30 September 1965.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior