PILEULEUYAN, KANG AJIP (1938-2020)

15

 

“Tarli, tolong sampaikan ke Dawam, itu buku-buku yang dulu dia pinjam dari keluarga Sjafruddin, agar segera dikembalikan!” suara hardikan itu meluncur dari gagang telepon yang saya genggam.

Saya cuma bisa melongo. Terus terang itu bukan sambutan yang saya harapkan. Sehari sebelumnya, saya berkomunikasi dengan orang yang ada di seberang telepon itu melalui pesan pendek. Saya menyampaikan pesan jika Muhammad Dawam Rahardjo ingin bertemu dan berdiskusi dengannya mengenai Sjafruddin Prawiranegara, termasuk meminjam atau meminta kopi beberapa karya Sjafruddin yang sulit ditemukan.

Ceritanya, Dawam diminta oleh panitia peringatan Satu Abad Sajafruddin Prawiranegara untuk menyumbangkan artikel mengenai Presiden PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) tersebut. Namun, Dawam menolak. Ia ingin menulis buku mengenai Pak Sjaf, bukan sekadar artikel. Untuk keperluan itulah ia ingin mengajak diskusi orang yang saya telepon tadi. Dia tak lain adalah Ajip Rosidi.

Kang Ajip, demikian biasanya ia disapa, adalah orang yang memang perlu diajak diskusi oleh siapapun yang hendak menulis mengenai Sjafruddin. Sebab, dialah penulis biografi Sjafruddin. Bahkan, Ajip bukan hanya penulis biografi dan pengarsip karya-karya Sjafruddin, melainkan telah menganggap Sjafruddin sebagai orang tuanya sendiri. Dalam otobiografinya, Ajip selalu memanggil Presiden PDRI itu sebagai “ayah Sjafruddin”. Sebagai sesama “urang Sunda”, saya sangat paham betapa besar penghormatan Pak Ajip pada Pak Sjaf.

Melalui pesan pendek, Ajip sebelumnya mengaku belum bisa menentukan waktu pertemuan, karena sedang banyak bolak-balik Magelang-Bandung. Di sisi lain, waktu itu Dawam juga harus bolak-balik Yogya-Jakarta. Jadi, pertemuan di antara keduanya memang perlu diatur sedemikian rupa. Sehingga, saat siang itu mendapat telepon, saya mengira Pak Ajip akan memberikan tanggal serta jam pertemuan. Paling tidak ancang-ancangnya. Tapi dugaan saya ternyata keliru. Ia malah menyemprot Dawam. Dari keluarga Sjafruddin, Ajip mendengar jika Dawam pernah meminjam sejumlah koleksi buku pada medio awal 1990-an, dan buku-buku itu tidak pernah dikembalikannya.

Meski harus menghadapi nada tinggi, namun di sisi lain saya merasa sedikit bersyukur. Untunglah yang mengawali perbincangan dengan Ajip adalah saya, bukan Dawam langsung. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya yang mengangkat telepon tadi adalah Dawam sendiri.

Dalam otobiografinya yang mahatebal—lebih dari 1200 halaman, “Hidup Tanpa Ijazah” (2008), yang hanya bisa disaingi oleh otobiografi Deliar Noer, “Aku Bagian Umat, Aku Bagian Bangsa” (1996), yang tebalnya seribuan halaman; Ajip mengakui jika sejak muda mulut dan lidahnya memang tajam, sehingga sering “melukai” banyak orang.

Ajip memang tak segan untuk bicara blak-blakan. Jika Anda pernah membaca otobiografinya, sikap terus-terangnya mungkin bisa membuat kita terkaget-kaget. Perseteruannya dengan Goenawan Mohamad serta Umar Kayam, sewaktu Ajip masih bergiat di Dewan Kesenian Jakarta, misalnya, diceritakan tanpa beban sama sekali.

Ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI, pada masa yang hampir bersamaan sejumlah cendekiawan Sunda kita tahu juga sedang menapaki puncak karirnya, seperti Ajip Rosidi, Ramadhan K.H., Ayatrohaedi, dan lain-lain. Para cendekiawan inilah yang secara kebetulan banyak mendampingi Ali Sadikin di wilayah kebudayaan, dan menghidupi lembaga-lembaga kebudayaan yang didirikan Bang Ali.

Akibat banyaknya orang Sunda inilah, secara gegabah GM pernah menuduh Ajip Rosidi sengaja mendesain “naon-isasi” di tubuh DKJ. “Naon” adalah kosakata bahasa Sunda, yang artinya “apa”. Tuduhan itu disangkal Ajip. Menurut Ajip, GM hanya sedang mengintriknya, tujuannya adalah untuk mendudukkan sejumlah teman dekatnya di DKJ. Ironisnya, ujar Ajip, ketika orang-orang itu berhasil masuk kemudian hari, mereka ternyata tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan DKJ.

Tanpa sungkan, Ajip juga menulis jika Umar Kayam pernah menghalang-halangi dirinya menjadi Ketua DKJ. Kayam secara vulgar menghasut banyak orang agar tidak memilih Ajip. Alasannya? “Karena dia orang Sunda!” Cerita ini disampaikan oleh Iravati M. Soediarso. “Kayam mengira aku orang Jawa, Yip, padahal aku kan orang Madura,” ujar Iravati, sembari terbahak kepada Ajip.

Bukan hanya Iravati yang dihasut. Menurut Ajip, sejumlah sastrawan senior seperti Sutan Takdir dan A.A. Navis juga pernah dihasut untuk memusuhi Ajip. Suatu ketika Takdir, misalnya, pernah menegurnya secara keras di depan umum, dalam sebuah perjamuan di rumah Duta Besar Belanda, sebuah peristiwa yang sangat menyinggung hatinya.

“Saudara Ajip, apa betul kata Saudara Kayam bahwa Pustaka Jaya itu menjadi Pustaka Sunda?”

Ajip, yang segera tahu arah pembicaraan Takdir, segera menjawabnya dengan pernyataan yang tak kalah tajam.

“Ah, Pak Takdir ini, soal kecil saja kok dipikirkan. Apalah artinya Pustaka Jaya, sedangkan Republik Indonesia ini sudah menjadi Jawa semua. Presidennya Jawa. Wakil Presidennya Jawa. Menterinyapun kebanyakan Jawa. Kok Pak Takdir diam saja?”

Ajip melontarkan jawaban itu dengan suara keras, agar bisa didengar semua orang. Dan semua orang yang mendengarnya segera terbahak. Begitulah contoh ketajaman lidah Ajip.

Kembali ke soal Ajip dan Dawam, di sisi lain, sejak muda Dawam juga dikenal sebagai pemberang. Jadi, Anda bisa membayangkan, bagaimana jika percakapan dalam telepon tadi harus dihadapi oleh keduanya secara langsung.

Saat pesan Ajip itu saya teruskan ke Dawam, tentu dengan nada yang lebih lunak, Dawam terlihat kaget. Dia bilang, dia memang pernah mendapatkan beberapa buku Sjafruddin dari keluarganya, pada awal tahun 1990-an. Tapi buku-buku itu diberikan sebagai pemberian, bukan sebagai pinjaman. Dan sebagian di antaranya juga hanya fotokopian.

“Saya tidak pernah meminjam buku Pak Sjaf dari keluarganya. Kalau dikasih, memang iya. Saya pernah berkunjung ke rumah Pak Sjaf, dan pulangnya diberi hadiah beberapa buku karyanya. Bukunya adalah buku-buku tipis yang sekarang Anda pinjam itu,” jelas Dawam.

Keterangan Dawam itu kemudian saya teruskan ke Pak Ajip. Saat saya menghubunginya kembali, nada bicaranya masih tinggi, sampai kemudian saya menjelaskan duduk perkara mengenai buku-buku Sjafruddin tadi. Sesudah mendengar klarifikasi Dawam, iapun menurunkan nada bicaranya. Saat itulah saya mempersilakan kedua orang tua itu untuk bertukar omongan secara langsung.

Akhirnya, Dawam dengan Ajip tidak pernah bertemu secara langsung, seperti yang semula direncanakan, karena keduanya kemudian bisa menyelesaikan urusannya masing-masing melalui pesawat telepon. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2011. Seingat saya, bulan Juli.

+ + +

Ajip adalah satu-satunya penulis yang bisa membuat saya iri. Dan ini ada kaitannya dengan soal bahasa. Ia adalah satu dari sedikit pengarang kita yang bisa menulis cerpen sama baiknya dengan saat ia menulis “carpon” (carita pondok, alias cerita pendek dalam bahasa Sunda). Ya, karya-karya Ajip bukan hanya berisi karya-karya sastra, kritik sastra, ataupun esai-esai berbahasa Indonesia, melainkan juga karya-karya yang ditulis dengan bahasa ibunya, bahasa Sunda.

Dan Ajip bukan hanya bisa menulis carpon, tapi juga puisi, pantun, esai, korespondensi, dan karya tulis lainnya yang semuanya ditulis dengan bahasa Sunda yang bagus. Pendek kata, Ajip adalah contoh orang Sunda yang tidak gagal menjadi Indonesia, dan contoh orang Indonesia yang tidak gagal dengan kebudayaan ibunya. Itu adalah keistimewaan yang layak menerbitkan iri.

Coba Anda periksa, ada berapa banyak pengarang kita yang masih bisa menulis dengan bahasa ibu sama baiknya dengan ketika mereka menulis dalam bahasa Indonesia?!

Sangat langka!

Sejak bahasa Indonesia kita terima sebagai bahasa persatuan, ia memang telah jadi pedang bermata dua. Di satu sisi ia bisa mempersatukan para penutur dari berbagai macam bahasa, namun di sisi lain, seiring dengan perkembangannya, bahasa Indonesia telah membuat banyak orang tercerabut dari bahasa ibunya (baca: bahasa daerah). Dengan kata lain, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ternyata telah membawa konsekuensi matinya sejumlah bahasa daerah di ranah lain.

Meskipun hingga SMA saya cukup rajin membaca Majalah Manglé, misalnya, sebuah majalah berbahasa Sunda milik Grup Pikiran Rakyat, namun selain pantun, saya tak pernah bisa menulis dalam bahasa Sunda. Dan ketidakmampuan itu, menurut saya, bersifat struktural. Sejak kelas satu sekolah dasar, bahasa tutur resmi dan bahasa pikiran kita sudah menggunakan coding tunggal, yaitu bahasa Indonesia. Kita tak punya pengalaman merumuskan pikiran melalui bahasa ibu.

Posisi Ajip yang bisa berdiri secara seimbang di atas kaki bahasa Indonesia sekaligus bahasa Sunda itulah, menurut saya, yang telah membuatnya berada di luar pusaran konflik antara Lekra dengan golongan Manifes Kebudayaan pada tahun 1960-an. Dia bisa memproblematisasi secara proporsional gagasan seni untuk rakyat, atau seni untuk seni, tanpa terjatuh terpleset menjadi lawan dari masing-masing gagasan tadi.

+ + +

Ajip adalah adalah nama besar dalam kesusastraan Indonesia. Itu tak perlu diperdebatkan lagi. Sementara, dalam dunia kebudayaan Sunda, kebesarannya lebih berlipat lagi. Ajip adalah sebuah monumen raksasa. Dia bukan hanya menulis karya dalam bahasa Sunda, tapi telah melakukan banyak hal untuk menghidupi kesusastraan dan kebudayaan Sunda. Ajip, misalnya, menulis ensiklopedi mengenai orang Sunda, menginisiasi penulisan ensiklopedia budaya Sunda, menjadi inisiator kongres kebudayaan Sunda, mengelola penerbitan majalah dan jurnal berbahasa Sunda, mengelola penerbitan buku-buku Sunda, dan pendiri Yayasan Kebudayaan Rancage.

Siapa tak tahu Penghargaan Sastra Rancage? Kita tak bisa membayangkan lembaga atau kegiatan semacam itu bisa ada tanpa kehadiran manusia Ajip Rosidi.

Kecintaannya pada bahasa Sunda telah membuatnya berkali-kali “gagal” mendapatkan gelar doktor honoris causa. Sebab, Ajip hanya bersedia diberi gelar doktor honoris causa jika dia diperbolehkan menyampaikan pidato dalam bahasa Sunda. Birokrasi akademik di Indonesia yang dekaden ternyata tidak memungkinkannya. Sehingga, ia baru bisa mendapatkan gelar terhormat itu pada 2011 silam. Padahal, sejak lama ia pantas mendapatkannya.

Tadi malam, lelaki berlidah tajam yang telah menulis sejak umur 12 tahun itu berpulang. Urang Sunda yang menjadi kebanggaan seluruh urang Sunda itu telah mendahului kita.

Jika saya ditanya, apa sumbangan terbesar orang Sunda bagi kesusastraan Indonesia, maka saya akan menjawab pendek: Ajip Rosidi.

Pileuleuyan, Kang Ajip…

Inalillahi wa’inna ilaihi rajiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu.

KARAWANG, 30 Juli 2020

 

TARLI NUGROHO

Pegiat Literasi