Pemuda Ujung Tombak Kemerdekaan Indonesia (6): Harapan dan Kecemasan Azyumardi Azra

54
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Bangsa Indonesia tahun 2020 ini genap berusia 75 tahun, berarti menjelang satu abad. Rasa syukur sudah tentu kita panjatkan kepada pencipta alam dan segala isinya ini. Oleh karena itu, tidaklah keliru jika di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, para pendiri negara mencantumkan kalimat: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Tulisan Prof. Dr. Azyumardi Azra, di harian “Kompas,” Kamis, 13 Agustus 2020, sangatlah menarik. Klipingan tulisannya itu, pada hari itu juga dikirimkannya kepada saya.

Setelah membaca tulisan Azyumardi Azra, saya memperoleh gambaran tentang 75 tahun Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 2020 yang tinggal beberapa hari lagi. Ada satu pesan kehati-hatian bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan ke masa depan setelah melihat akibat yang ditimbulkan wabah Covid-19.

Dalam hal mengatasi penyebaran Covid-19 ini diakui Azyumardi Azra, tidak hanya bangsa Indonesia saja yang sedang berada di antara harapan dan kecemasan, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia.

Yang sudah pasti, tidak seorang pun bisa memastikan kapan berakhirnya wabah corona yang sudah merenggut nyawa manusia setiap harinya di dunia ini. Meskipun demikian, tulisan Azyumardi Azra juga memberi rasa optimis di tengah Covid-19. Ia memprediksi Indonesia ketika merayakan Kemerdekaan ke-100 tahun 2045. Juga memberikan arahan di masa sekarang ini degan konsep pemikiran “rem dan gas.” Kapan bangsa ini harus mengerem dan kapan menekan gas di saat Covid-19 belum jelas kapan berakhirnya.

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE adalah akademisi Muslim asal Indonesia. Lebih lengkapnya, ia lahir di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia juga dikenal sebagai cendekiawan muslim. Pernah sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1998 dan mengakhirinya pada 2006.

Suku Minangkabau

Membicarakan tentang Azyumardi Azra sudah tentu tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan suku Minangkabau.

Di awal kemerdekaan Republik Indonesia (RI), banyak sekali suku Minangkabau yang berperan di berbagai bidang. Misalnya Mohammad Hatta yang sering dipanggil Bung Hatta, yang dikenal sebagai tokoh proklamator dan Pahlawan Nasional. Peristiwa yang tidak dapat dilupakan, bagaimana Bung Karno menolak permintaan tokoh pemuda membacakan Proklamasi tanpa kehadiran Bung Hatta.

“Tidak, saya tidak akan membacakan Proklamasi sebelum Hatta datang. Bung Hatta memang agak terlambat datang ke rumah Bung Karno, di Pegangsaan Timur 56 Jakarta (Sekarang Jl1. Proklamasi). Setelah Bung Hatta hadir, kemudian dibacakan teks Proklamasi yang malamnya telah dirumuskan di rumah Laksamana Muda Jepang Maeda. Sekarang, rumah Maeda dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat. Juga Sjahrir yang pernah menjadi perdana menteri RI.

Selain itu, di bidang Sastera tercantum nama-nama seperti Marah Rusli (Roesli) dan terkenal dengan buku karangannya, “Siti Nurbaya.”

Itu adalah sebuah kebanggaan, sekaligus kehormatan. Bukan hanya itu saja yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau, tetapi juga bagi kita bangsa Indonesia. Kebanggan yang akan mengingatkan kita tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejumlah nama selain Marah Rusli (Roesli), ada pula nama-nama seperti Abdul Muis, Idrus, Hamka, dan A.A Navis yang berkarya melalui penulisan novel. Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai penulis novel Indonesia yang paling produktif serta beberapa penulis asal Minang lainnya. Chairil Anwar dan Taufiq Ismail berkarya lewat penulisan puisi.

Sutan Takdir Alisjahbana, novelis sekaligus ahli tata bahasa Indonesia, melakukan modernisasi bahasa Indonesia hingga bisa menjadi bahasa persatuan nasional.

Novel-novel karya sastrawan Minang seperti “Siti Nurbaya, ” Salah Asuhan”, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”, “Layar Terkembang”, dan “Robohnya Surau Kami,” telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.

Di bidang jurnalis yang ikut pula melakukan pengembangan bahasa, antara lain, Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus. Di samping itu, Abdul Rivai yang dijuluki Perintis Pers Indonesia, Rohana Kudus yang menerbitkan “Sunting Melayu”, menjadi wartawati dan pemilik koran pertama di Indonesia.

Tuanku Abdul Rahman, salah seorang Tokoh Minang yang berpengaruh di Malaysia. Selain itu, di bidang politik, tokoh asal Minang, banyak yang menjadi motor perjuangan. Selain Bung Hatta dan Sjahrir, sebut saja, Tan Malaka yang terpilih menjadi wakil komunis Se-Asia Tenggara. Muhammad Yamin, pelopor Sumpah Pemuda, Natsir, Agus Salim, Jahja Datoek Kajo dan Abdoel Moeis, politisi yang paling vokal di dewan “voksraad” bentukan Belanda.

Yang lainnya menjadi pimpinan parlemen, Chairul Saleh dan puluhan lain jadi menteri, antaranya, Azwar Anas, Fahmi Idris, Emil Salim. Bahkan, masa Demokrasi Liberal, parlemen didominasi politisi Minang. Pimpinan dan pendiri partai oleh politisi Minang, sebut saja PARI dan Murba yang didirikan oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Muhammad Hatta.

Selanjutnya, pengusaha sukses juga banyak berasal dari Minang, seperti Abdul Latief, Basrizal Koto (pemilik peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara), Hasyim Ning (pengusaha perakitan mobil pertama di Indonesia) dan tuanku Tan Sri Abdullah (pemilik Melewar Corporation Malaysia). Orang Minang juga sukses di jagad hiburan, baik sutradara, pemeran dan penyanyi.

Sutradara, di antaranya Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani dan Arizal. Film-film karya sineas Minang, seperti “Lewat Djam Malam”, “Gita Cinta dari SMA”, “Naga Bonar”, “Pintar Pintar Bodoh” dan “Maju Kena Mundur Kena”, menjadi film terbaik dan banyak digemari penonton.

Pemeran dan penyanyi Minang yang terkenal, seperti Ade Irawan, Dorce Gamalama, Eva Arnaz, Nirina Zubir, Titi Sjuman, Jajang C Noer, Soekarno M. Noor, dan putranya Rano karno telah menghasilkan produksi serial terlaris seperti si “Doel Anak Sekolahan. “ Di luar negeri, konstribusi orang Minang juga dikenal.

Sejarawan dari Minangkabau yaitu Alfian dan Asvi Warman Adam. Di Kepolisian yang pernah menjadi Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri) yaitu Awaloedin Djamin.Di bidang militer, yaitu Letjen (Purn) Rais Abin. Di usianya menuju 92, beliau masih dipercaya menjadi Ketua Umum Legiun Veteran RI (LVRI). Ketika masih berpangkat Mayor Jenderal, Rais Abin dipercaya menjadi Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah.

Di Malaysia dan Singapura, antara lain Tuanku Abdul Rahman (Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia), Yusof bin Ishaq (presiden pertama Singapura), Zubir Said (Komposer Lagu Kebangsaan Singapura, “Majulah Singapura”), Sheikh Muszaphar Shukor (Astronot pertama Malaysia), Tahir Jalaluddin Al-Azhari dan Adnan bin Saidi. Di negeri Belanda, Roestam Effendi menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah duduk di parlemen Belanda.

Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, orang non Arab yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram, Mekah. Keberhasilan yang disebutkan, karena orang Minangkabau terkenal denga pekerja keras. Baik dalam pemikiran maupun bidang lainnya. Itu juga erat dengan kebiasaan orang Padang (Minang) yang gemar merantau, sehingga semangat untuk merubah nasib sangat tinggi. Kita hanya berharap untuk ke depan, banyak putera puteri Minangkabau berperan di berbagai bidang, baik nasional maupun internasional.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior