Pemboman di Jalur Gaza Coreng Kesepakatan Israel-UEA dan Bahrain

8
foto: istimewa

 

Israel memang tidak mampu menahan diri. Hari Rabu waktu setempat, tanggal 16 September 2020 kemarin, pesawat tempurnya membom wilayah Palestina di Jalur Gaza.

Asap dan api terlihat membubung menyusul serangan udara Israel di Khan Yunis, di selatan Jalur Gaza pada hari Rabu tersebut. Israel mengebom tempat itu setelah dua roket ditembakkan dari Gaza, dengan salah satunya jatuh di Ashdod dan melukai dua orang.

Serangan ini merupakan respon atas peluncuran dua roket dari wilayah Gaza ke kawasan Israel.

Insiden itu terjadi di tengah penandatanganan perjanjian damai antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Serangan balasan terjadi ketika sebelumnya dua roket ditembakkan dari Jalur Gaza pada Selasa malam, 15 September 2020, dengan salah satunya bisa dihancurkan sistem pertahanan Iron Dome.

Sebelum peristiwa itu pula, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memuji kesepakatan damai antara Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. Dia menyebutnya sebagai “fajar Timur Tengah yang baru”.

Trump berbicara setelah dua negara Teluk tersebut menandatangani perjanjian untuk sepenuhnya menormalkan hubungan mereka dengan Israel.

Ketiga negara menganggap perjanjian tersebut sebagai momen bersejarah, begitu pula dengan Trump, yang pemerintahannya telah membantu sebagai perantara.

UEA dan Bahrain adalah negara Arab ketiga dan keempat yang mengakui Israel sejak berdiri pada 1948. Sebelumnya, hanya Mesir dan Yordania yang menandatangani traktat perdamaian dengan Israel di Timur Tengah, masing-masing pada 1978 dan 1994.

Trump dalam pidatonya berharap negara lain bisa mengikuti, tapi Palestina meminta mereka tidak melakukannya selama konflik mereka dengan Israel belum terselesaikan.

Selama puluhan tahun, sebagian besar negara Arab memboikot Israel, bersikeras bahwa mereka hanya akan menjalin hubungan setelah perselisihan Israel dengan Palestina diselesaikan.

Kekejaman tentara Israel selama ini terus saja terjadi. Kita masih ingat betapa kejamnya tentara Israel terhadap warga Palestina. Tentu kita masih ingat peristiwa yang terjadi, ketika serdadu Israel menindih leher pria Palestina. Itu juga membuat marah warga Palestina.

Sekedar Ambisi Trump untuk Memperoleh Hadiah Nobel

Banyak yang menyangsikan konsep perdamaian antara Israel-UEA dan Bahrain hanyalah sekedar batu loncatan Trump agar berhasil memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian 2021. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump pernah juga diajukan oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

“Saya telah menominasikan Anda, dengan hormat, atas nama Jepang. Saya meminta mereka untuk memberi Anda hadiah Nobel Perdamaian,” Trump membacakan surat Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Waktu itu, masuknya Trump dalam nominasi peraih Nobel dikaitkan dengan upayanya yang membuka dialog dengan Korea Utara yang selama ini berseteru dengan Gedung Putih.

Pada 2018, Trump dan Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara akhirnya bertemu di Singapura setelah selama ini keduanya kerap perang mulut dan saling mengancam. Tetapi usaha pengajuan itu gagal.

Waktu itu, pertemuan bersejarah itu, diklaim Trump, bahwa Korea Utara bukan lagi ancaman terkait senjata nuklir yang dimilikinya.

Sekarang, Pesiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dicalonkan sebagai penerima Nobel perdamaian 2021. Seorang politisi sayap kanan Norwegia mencalonkannya, sebagaimana dimuat AFP, 10 September 2020.

“Terima kasih!” kata Trump dalam Tweet dan retweet yang merayakan pencalonannya itu.

Anggota parlemen Norwegia Christian Tybring-Gjedde mengatakan bahwa Trump membuat sejarah. Ia berhasil menengahi perjanjian normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab dan Israel.

“Perjanjian unik dan bersejarah antara Israel dan UEA. Sebuah perjanjian yang, kami harap, dapat diperluas ke negara-negara Arab lainnya sehingga kami dapat memiliki kedamaian abadi di Timur Tengah,” tegas anggota partai Progress, yang dikenal anti imigran tersebut.

Aksi pemboman Israel telah telah mencederai perjanjian damai tersebut. Apalagi Qatar pun menolak melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Alasannya, alasan normalisasi hubungan bukanlah inti solusi konflik Israel-Palestina yang sampai saat ini masih berlangsung.

“Kami tidak berpikir bahwa normalisasi adalah inti dari konflik ini dan karenanya tidak bisa menjadi jawabannya,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Lolwah Rashid Al-Khater kepada Bloomberg.

“Inti dari konflik ini adalah tentang kondisi drastis yang dialami Palestina sebagai ‘orang tanpa negara’, hidup di bawah pendudukan,” lanjut Al-Khater.

Dia juga menyinggung kemajuan menuju solusi untuk krisis dengan Arab Saudi, Bahrain, dan UEA yang memberlakukan blokade yang mencekik terhadap Qatar sejak Juni 2017.

Diplomat tersebut memuji upaya Kuwait untuk mengakhiri perselisihan dan blokade ekonomi dan diplomatik terhadap Doha. “Dalam dua bulan terakhir, ada pesan dan pembawa pesan yang bolak-balik,” katanya.

“Masih terlalu dini untuk membicarakan terobosan nyata, tetapi beberapa minggu ke depan mungkin akan mengungkap sesuatu,” ujarnya.

Negara Qatar adalah sebuah negara emirat di Timur Tengah yang terletak di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab di Asia Barat. Satu-satunya batas darat mereka adalah Arab Saudi di selatan dan sisanya berbatasan dengan Teluk Persia. Teluk ini juga yang memisahkan Qatar dari negara pulau Bahrain.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior