Panoptikon Kompas

40
(foto: istimewa)

 

Sebetulnya ini terpantik seorang komika yang dirundung pendengung rezim. Dan seorang kawan yang membandingkan kritisnya komika itu dengan sikap bungkam mayoritas “komika intelek” jebolan grup Kompas.

Ada satu tanya menggeledah penasaran saya terkait pengaruh komunitas epistemik bernama Kompas. Sebagai grup media yang dikenal memiliki reputasi bagus dalam jurnalisme, Kompas mampu memengaruhi sebagian manusia yang terlibat dalam proses produksi yang dibuatnya.

Penasaran saya, apakah sehebat itu grup Kompas memengaruhi orang untuk mengikuti pikiran yang dikehendaki kendati sering tidak diakui sebagai sikap resminya? Ataukah subjek yang terpengaruh itu begitu rentan dan idap potensi untuk dihegemoni secara intelektual dalam konsepsi Gramscian.

Bila masa kejayaan era koran cetak banyak talenta penulis muda di rubrik “Opini” Kompas diarahkan dan dikondisikan melalui sistem seleksi pikiran yang disukai redaksi, era digital lewat layar kaca hadir penghiburan komedi-tunggal (stand up comedy) yang membuat kanal artis yang berselera homogen dalam afiliasi politik. Kebutuhan pribadi para personal berbaur dengan hegemoni pengetahuan yang ditebarkan Kompas sebagai komunitas epistemik bermisi.

Kita akhirnya mafhum para alumnusnya komika dari televisi Kompas setali dengan sikap politik mayoritas redaktur elit koran. Jangan bayangkan ada determinasi langsung, sebut saja intervensi berupa tekanan. Naif kalau mekanisme pengetahuan berlaku begitu. Atau secara linier ada tekanan langsung. Abaikan semua ini.

Mekanisme yang berlangsung justru sebaliknya: serasa natural, normal, rasional, dan intelektual. Tak sadar bahwa mereka diam-diam dikontrol dari ruang tak tampak untuk diseleksi mana yang aset, bintang, dan figuran lewat belaka. Konsepsi ruang panoptikon ala Foucault, hemat saya, cukup membantu menjelaskan ruang “pendidikan”, pendisiplinan hingga penaklukan pikiran manusia yang masuk di “CCTV” Kompas.

Bagaimana bila berbeda sikap, anomali? Lihat bagaimana pemimpin redaksi koran harian itu sewaktu ingin tampil imbang dengan mendatangi Prabowo? Masih ingat bukan bagaimana perlawanan dari dalam internal jurnalis hatta yang sudah pensiun sekalipun? Inilah mata demi mata yang mengatur-mengendalikan-mendisiplinkan sesuai kredo grup media itu. Alhasil, mereka lahirkan para talenta yang solid bersikap. Homogen dengan sikap media. Pluralisme yang jadi jualan media ini hakikatnya utopia belaka. Imajinasi menuju yang kosong, selain buat marketing dan pasar. Dari era penulis opini hingga para komika yang selalu senada bersikap. Secara rerata atau mayoritas.

Bahkan, kalau mau sedikit ke belakang, saya amati fenomena serupa berlangsung lebih lawas. Semasa sebelum dekade 1970-an, Rosihan Anwar identik menulis keislaman. Amat kental. Coba kita bandingkan dengan pemosisian persona jurnalis kawakan ini oleh Kompas, terutama dalam memberikan ruang artikulasi gagasan. Sampai akhir hayat, Pak Rosihan memang tak benci Islam politik. Setahu saya begitu. Tapi, ada nuansa yang beda pada beliau kalau pembaca melihat arsip lawas beliau muda.

Itulah panoptikon. Kita seakan merdeka dan bebas merayakan keragaman. Senyampang itu, kita tengah diamati di satu tempat. Persis sel di penjara yang dipantau terus-menerus oleh tim di ruang keamanan. Maka, sekali berada dalam ruang panoptikon bernama Kompas, subjek akan tak nyaman buat berlaku beda. Dia akan menyamakan dengan sekitar, semacam sistem yang tak diakui adanya.

YUSUF MAULANA

Penulis