Next Leader Untuk Surabaya

323 views

 

Suhu politik di Kota Surabaya mulai menghangat, meski pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya masih digelar setahun lagi. Dalam politik, ukuran waktu memang tak menjadi hitungan, meski waktu juga turut menentukan. Sebab, politik juga terkait momentum. Politik juga bicara soal kesempatan. Setuju?

Mengapa suhu politik Surabaya menghangat? Ya karena nama-nama sosok bakal calon wali kotanya sudah mulai diperbincangkan publik. Tulisan ini hanya sebagai upaya menangkap untuk memanfaatkan momentum tersebut. Nah, benar kan momentum tetap diperhitungkan.

Saya mengalami fase tinggal di Surabaya sebagai warga pendatang karena harus menyelesaikan studi di FISIP Universitas Airlangga. Selama masa studi tersebut, setidaknya saya mengalami masa kepemimpinan sejumlah wali kota. Kalau dikategorikan, saya mengalami kepemimpinan wali kota berlatar belakang militer, politisi, dan birokrat.

Dari militer, tentu tak asing bagi saya dan pembaca yang pernah tinggal di Surabaya sekitar tahun 1994-2002. Adalah Soenarto Soemoprawiro memimpin Surabaya dengan penuh kontroversinya.

Cak Narto, demikian biasa dia dipanggil dikenal sangat pro rakyat kecil. Bahkan, maraknya pedagang kaki lima di kota ini juga tak lepas dari kebijakan Cak Narto yang jarang sekali melakukan penggusuran. Akibatnya, wajah kota terkesan kumuh.Termasuk juga pembangunan gedung-gedung yang tak jarang memakai lahan hijau, sehingga fenomena banjir paling kerap terjadi di era Cak Narto ini. Bahkan, saya dulu bersama teman-teman BEM Fisip Unair sempat melakukan aksi mengkritik kebijakan Cak Narto yang gagal mengendalikan banjir di Surabaya.

Namun, kepemimpinan Cak Narto yang tegas dan pemberani dan penuh kontroversi memang membawa sejarah tersendiri bagi Surabaya. Faktor kesehatan yang kemudian Cak Narto harus diberhentikan pada Oktober 2001.

Kepemimpinan Cak Narto kemudian dilanjutkan oleh wakilnya, Bambang DH, seorang politisi PDIP yang sedang naik daun. Kesuksesan Bambang kemudian berlanjut di pilkada 2005 yang kemudian memimpin Surabaya sampai 2010. Sejumlah kebijakan populis dilakukan Bambang selama memimpin Surabaya, terutama memperbaiki drainase kota untuk mengatasi banjir Surabaya.

Tahun 2010, karena Mahkamah Konstitusi memutuskan satu periode itu minimal separuh dari masa bakti, Bambang pun gagal maju jadi calon wali kota di pilkada. Namun, dia maju sebagai wakil wali kota mendampingi mantan anak buahnya, Tri Rismaharini yang sebelumnya menjadi Kepala Dinas Pertamanan dan Kepala Bappeko Surabaya.

Kepemimpinan Risma membawa Surabaya, selama fase yang saya alami, memasuki fase kepemimpinan seorang birokrat. Di bawah Risma, banyak gebrakan dilakukannya, seperti penutupan Dolly dan penolakan tol tengah kota yang kemudian Risma lebih memilih pembuatan jalur frontage road di A Yani serta pembukaan jalur utara untuk mengurangi beban Jl A Yani yang selama ini menjadi pusat kemacetan.

Satu lagi yang menjadi ikon dari Risma adalah perubahan wajah Kota Surabaya yang lebih hijau dan sejuk, menggeser persepsi orang tentang Surabaya yang panas dan kering.

Setelah dua periode memimpin Surabaya, kini menjelang Pilkada Surabaya 2020, suhu politik kian menghangat dengan munculnya nama-nama calon pengganti Risma. Banyak nama disodorkan, namun saya kok berpandangan sudah waktunya rasanya Surabaya juga harus berganti model kepemimpinan. Jika selama pengalaman tinggal di Surabaya, kota hebat ini dipimpin oleh militer, politisi, dan birokrat, rasanya lima tahun ke depan Surabaya harus dipimpinan oleh anak muda yang memiliki kapasitas memajukan aktivasi sosial (social activations) dan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship)!

Mengapa? Tantangan ke depan itu adalah perubahan yang begitu cepat. Kebutuhan-kebutuhan sebuah kota tak akan lepas dari perubahan tersebut. Baik gaya hidup, kebutuhan, dan tentu pola relasi sosial dan ekonomi yang mengalami disruption dengan kuat dan cepat. Surabaya harus mampu beradaptasi dengan tantangan zaman yang berlangsung global ini.

Kata kuncinya tentu adalah generasi muda, kewirausahaan sosial dan inovasi. Tiga hal ini akan mampu menjawab tantangan perubahan sebuah kota dalam menghadapi perkembangan kini dan masa depan.

Siapa yang kira-kira memenuhi kriteria itu? Dari banyak nama yang beredar, saya cukup membahas tiga nama, yang mungkin bagi publik bisa sesuai atau sebaliknya. Tapi dari kriteria di atas ketiga anak muda ini lumayan mendekati kebutuhan Surabaya ke depan.

Pertama, adalah anak muda yang berlatarbelakang usaha besar, dia lahir dari sebuah korporasi besar yang dekat dan bersentuhan dengan perkembangan Kota Surabaya. Di kelompok ini yang pertama saya melihat nama Azrul Ananda, mantan CEO Jawa Pos dan sekarang menjabat Presiden Persatuan Sepak Bola Surabaya. Ia adalah putra wartawan senior dan mantan Menteri BUMN era SBY, Dahlan Iskan.

Nama Azrul sudah cukup dikenal oleh publik Surabaya. Bakat inovasinya terlihat saat membuka rubrik Deteksi khusus untuk pembaca anak muda dan ketika mendirikan Development Basketball League (DBL) yang melibatkan sma-sma se-Indonesia.

Tentu ini menjadi peluang bagi Azrul untuk masuk dalam gelanggang politik di kota ini. Di kalangan partai, tentu Azrul mudah diterima sebagai entitas kekuatan media yang selama ini cukup berpengaruh.

Kedua, anak-anak muda yang lahir dari usaha menengah dan memiliki potensi sosial kultural di Surabaya. Di kelompok ini ada nama Kuncarsono Prasetyo, pengusaha kaos khas Sawoong dari Surabaya. Kuncar juga mendirikan tempat nongkrong asyik dan kerap menjadi tujuan para turis asing ke Surabaya.

Kuncar adalah sahabat saya yang sejak kuliah dikenal unik, kreatif dan menyenangkan. Ia adalah aktivis 98 dan pernah pula menjadi jurnalis yang konsen pada isu-isu budaya dan sejarah Kota Surabaya. Nama Kuncar di kalangan elite Surabaya tentu tidak asing, meski soal akseptabilitas di kalangan partai tetap harus diuji.

Tampaknya Kuncar telah pula serius menapaki peluangnya untuk masuk dalam bursa kepemimpinan Surabaya mendatang. Baru-baru ini ia membuat sebuah platform aktivasi sosial bernama Walikota Suroboyo Mbois. Dengan platform ini Kuncar mengajak anak muda Surabaya untuk mengenal sejarah dan keunikan Surabaya.

Ketiga, adalah anak-anak muda yang konsen di dunia usaha, kewirausahaan sosial sekaligus fokus pada penguatan kapasitas serta partisipasi anak-anak muda. Di kategori ini saya melihat sosok Dimas Oky Nugroho bisa dijadikan alternatif di bursa pilkada Surabaya.

Dimas selama ini dikenal sebagai multiprofesi. Pernah mengajar di FISIP Unair, pernah juga jurnalis, ia juga enterprenuer sekaligus aktif di dunia komunitas yang menghimpun dan menggerakkan anak-anak muda di tanah air. Ia adalah pendiri sekolah kepemimpinan anak muda dan program pertukaran pemimpin muda ke sejumlah negara sahabat. Di Jakarta ia mendirikan platform co-working space yang dikombinasikan dengan kopi dan kuliner.

Di kalangan elite politik nasional, Dimas yang merupakan profesional pernah diusung 6 partai untuk maju sebagai calon Wali Kota Depok tahun 2015. Saat ini ia menjabat sebagai Komisaris Independen di Bank Syariah Mandiri. Satu dari sedikit anak muda yang dipercaya pada posisi itu. Meski tinggal di ibu kota, Dimas lahir dari pergerakan mahasiswa di Surabaya. Ia adalah Presiden BEM Fisip Unair pertama yang kemudian saya gantikan. Fotonya pernah terpampang di koran ketika bersama elemen mahasiswa berhasil meminta RRI Jawa Timur saat itu untuk menggelorakan agenda reformasi 1998.

Mereka adalah anak-anak muda dan punya potensi masing-masing di bidangnya. Tentu pesaing berat mereka adalah para elite politik yang selama ini memang sudah bersiap dan berambisi untuk merebut dan bertarung dalam sebuah kontestasi politik menggantikan Risma sebagai Wali Kota.

Boleh jadi peluang anak-anak muda ini akan kandas oleh mereka para elite partai, namun sejarah membuktikan, kemauan publik adalah basis utama untuk meraih kesuksesan dalam politik elektoral. Tinggal bagaimana anak-anak muda ini tampil dan merebut kesempatan dan berjuang. Momentum politik saat ini adalah milik mereka. Saatnya Surabaya dilanjutkan dengan kepemimpinan berkualitas dan berintegritas. Setelah Risma kini zamannya anak muda!

 

YOHAN WAHYU

Peneliti dan Pegiat Konten Kreatif
Mantan Aktifis Mahasiswa di Surabaya

author