Mimpi Tentang Gus Dur Jelang Pelengserannya

70 views

 

Saya tidak ingat persis, apakah kejadian ini ada di penghujung tahun 2000 ataukah awal 2001. Yang pasti peristiwa ini terjadi di bulan-bulan akhir menjelang pelengseran KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden.

Waktu itu, saya menghadiri acara Sarasehan Budaya yang diadakan DESANTARA di salah satu hotel di Jakarta. Panitia mengundang Gus Dur untuk menjadi pembicara. Tentu saja, semua peserta sangat berharap Gus Dur bisa hadir. Rasanya istimewa sekali jika acara sekecil dan setidakberguna seperti itu dihadiri Gus Dur sang Presiden, bahkan kalaupun Gus Dur bukan presiden pun rasanya harapan itu terlalu muluk. Panitia sendiri sejak awal tidak bisa memberi jawaban pasti. Siapa juga yang bisa memastikan kedatangan Gus Dur saat itu, apalagi suasana politik nasional sedang panas karena upaya penjatuhan Gus Dur berhembus sangat kencang.

Hari terakhir ketika semua orang sudah ‘ikhlas’, tiba-tiba ada kabar bahwa Gus Dur sudah di jalan menuju ke acara sarasehan. Seketika suasana riuh campur tegang seperti menyambut datangnya hari raya. Tak lama kemudian Gus Dur datang dengan kawalan. Ruang sarasehan yang terbatas itu penuh sesak oleh wartawan. Saya yakin wartawan-wartawan itu memburu statemen Gus Dur terkait dengan politik nasional saat itu. Kami semua was-was bahwa sarasehan kebudayaan itu akan berubah menjadi forum politik.

Akhirnya Gus Dur memulai pembicaraan. Dia duduk di kursi depan. Tampak seperti seorang budayawan, bukan presiden. Sekitar satu setengah jam dia berbicara tentang kebudayaan. Tak ada secuil pun kalimatnya berbicara tentang politik, apalagi menyenggol situasi politik saat itu. Saya yakin wartawan kecewa, karena dalam situasi seperti itu, untuk apa memberitakan statemen Gus Dur tentang strategi pengembangan kebudayaan nasional. Pasti yang dicari adalah statemen politik yang kemudian bisa diolah.

Setelah sesi Gus Dur itu, kami rehat untuk coffee break di teras sambil membincang Gus Dur dan kemungkinan apa yang akan terjadi padanya sebagai presiden. Pembicaraan dimulai dengan kekaguman kami bahwa dalam situasi seperti ini, Gus Dur sama sekali tidak membicarakan politik, bahkan dia tidak terpancing sekalipun dalam sesi tanya jawab ada yang mencoba menggiringnya ke arah sana. Tidak ada sedikit pun raut kepanikan bahwa dia kemungkinan sebagai presiden akan jatuh.

Pembicaraan nyantai itu semakin hangat ketika Mas UAA mulai mengangkat topik “mimpi tentang Gus Dur”. Dia menyatakan bahwa dia cemburu sekali dengan orang-orang yang pernah bermimpi bertemu Gus Dur. Karena, nyaris semua cerita mimpi tentang Gus Dur selalu berkonotasi kebaikan, sedang dia sendiri sampai saat itu tak pernah sekalipun bermimpi tentang Gus Dur.

Mas IA kemudian menimpali bahwa dia yakin sekali kalau Gus Dur akan lengser karena dia beberapa malam sebelumnya bermimpi tentang Gus Dur. Dalam mimpinya, dia melihat Gus Dur melayang dari atas air terjun. Gus Dur melayang, bukan jatuh, bak superman. Ketika sampai di bawah, kaki Gus Dur menapak tanah dengan tenang. Dia tetap berdiri tegak. Tak sedikit pun ada hentakan yang membuatnya sempoyongan, apalagi terjungkal. Pokoknya, anti-gravitasi.

Di dalam mimpi itu, Mas IA melihat ada Soeharto di sisi sebelah kanan turunnya Gus Dur. Sedang di sisi kiri turunnya Gus Dur, ada gubug reot yang dihuni oleh orang tua renta yang tampak sekali miskin. Seklias Gus Dur melihat ke arah Soeharto. Tanpa kata-kata, tanpa langkah. Berikutnya, Gus Dur berbalik memandang ke sebelah kirinya, dan dia melangkah memasuki gubug reot itu.

Dan…mimpi pun usai!

Mas IA menafsiri mimpinya kurang lebih sebagai berikut: Gus Dur tidak akan menyelesaikan periode kepresidenannya secara utuh. Dia akan dijatuhkan. Tapi Gus Dur tidak jatuh dengan rasa sakit dan malu seperti para penguasa yang diberhentikan di tengah jalan. Dia akan turun bukan karena dijungkalkan, tapi karena dia memutuskan untuk turun. Dia tidak akan berkolaborasi dengan penguasa korup, lingkaran oligarki busuk, hanya untuk mendapatkan kekuasaannya kembali. Dia akan melanjutkan perjuangannya: menemani dan membela mereka yang tersingkirkan.

Untukmu Gus Dur, seluruh doa dan penghormatan. Lahu al-fatihah.

SURABAYA, 3 Januari 2020

 

AHMAD INUNG

Gusdurian

author