Mengenang Lahirnya Organisasi Pembebasan Palestina, PLO

127
foto: istimewa

Organisasi Pembebasan Palestina atau “Palestine Liberation Organisation” dan disingkat PLO, adalah organisasi yang dibentuk pada 28 Mei 1964 dengan tujuan untuk “kemerdekaan Palestina”. Organisasi ini dikenal sebagai “perwakilan sah dari bangsa Palestina” oleh 100 negara, dan mendapatkan status peninjau oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 1974. Maka, pada 28 Mei 1964 itu, Dewan Nasional Palestina menyelenggarakan sidang di Yerusalem untuk secara resmi mendirikan PLO.

PLO bertindak seperti payung yang menaungi berbagai faksi yang membela Palestina sejak berdirinya negara Israel. PLO membuat perjuangan lebih terarah, yakni membebaskan rakyat Palestina dari cengkeraman Zionisme melalui perjuangan bersenjata. Visinya agar mereka yang sedang berdiaspora bisa pulang ke tanah air. Tetapi, hingga hari ini, perjuangan mewujudkan Negara Palestina merdeka dan berdaulat itu belum terwujud.

Jika kita berdasarkan kepada peta Palestina tahun 1947, wilayah Negara Israel yang diproklamirkan tahun 1948, dulunya adalah wilayah Palestina.

Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai “Israel”. Sehari kemudian, gabungan enam negara Arab –Arab Saudi, Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak– menyerang Israel, menimbulkan Perang Arab-Israel 1948. Tetapi negara-negara Arab kalah dalam perang. Bahkan wilayah Palestina hanya tersisa Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selanjutnya terjadi lagi perang antara Israel dengan negara Arab, tetap saja Israel keluar sebagai pemenang, karena selalu dibantu oleh Amerika Serikat (AS).

Usaha Inggris untuk mengembalikan kelompok Yahudi ini sudah dimulai sejak 1825, di mana seorang kolonel Inggris bernama George Gawler mendirikan sebuah organisasi yang menghimpun kaum Yahudi untuk ditempatkan di Palestina.

Adalah sebuah kenyataan, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1947 menggantikan peranan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dianggap tidak mampu, malah PBB mengeluarkan Resolusi Dewan Keamanan No.181 tanggal 29 November 1947, membagi wilayah Palestina yang luas itu. Anehnya kaum Yahudi memperoleh 56 persen dari seluruh wilayah Palestina. Sedangkan penduduk Arab Palestina yang awalnya pemilih sah tanah sebagaimana peta Palestina tahun 1947, hanya mendapat bagian 42 persen. Dua persen lagi, termasuk kota tua Jerusalem masuk dalam pengawasan internasional. Itu pun dulu. Sekarang, tentara Israel yang menguasai wilayah tersebut tanpa seorang pun melihat tentara perdamaian PBB. Dulu memang ada, tetapi hanya beberapa tahun.

Ini yang membuat dunia internasional mengecam, termasuk Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Hingga hari ini Indonesia tetap meminta pengembalian wilayah Palestina yang pernah diduduki Israel.

Yang terjadi sebaliknya. Penduduk Yahudi diberi wewenang mendirikan pemukiman baru di wilayah Palestina, sehingga wilayahnya semakin kecil.

Berbicara tentang Palestina sudah tentu Mohammed Yasser Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini atau lebih dikenal sebagai Yasser Arafat, adalah Presiden pertama bangsa Palestina.Yasser Arafat juga dikenal dengan  Abu Ammar (bahasa Arab). Jika menjadi Ketua PLO dari 1969 hingga 2004.

Yasser Arafat meninggal dunia pada 11 November 2004 (berusia 75 tahun) di rumah sakit Clamart, Hauts-de Seine, Prancis. Kemudian dimakamkan di Ramallah.

Makam Yasser Arafat memang pernah dibongkar sebagai persiapan pemeriksaan forensik terkait tuduhan pemimpin Palestina itu diracun.

Setelah Yasser Arafat meninggal dunia di rumah sakit militer Prancis pada 2004 dan banyak warga Palestina yang percaya ada sesuatu yang ganjil dari kematian Arafat. Mereka menduga Arafat sudah diracun. Makam Arafat terletak di jalan masuk kantor presiden di Ramallah, Tepi Barat.

Penggalian yang diperkirakan akan memakan waktu 15 hari itu dimulai dengan membongkar beton dan keramik di seputar makam. Keputusan untuk membuka penyelidikan diambil setelah Kejaksaan Prancis memulai penyelidikan pembunuhan Agustus lalu. Ini menyusul siaran televisi Al-Jazeera tentang penelitian pakar Swiss yang menyebutkan mereka menemukan radioaktif polonium pada barang-barang pribadi Arafat.

Presiden Palestina sekarang Mahmud Abbas mengatakan, Rusia juga akan membantu penyelidikan. “Kami terus mengadakan kontak dengan penyidik Prancis, pakar di Swiss, dan pemerintah Rusia untuk menggali makam Yasser Arafat,” kata Abbas.

Adalah juga Khadija Arafat, saudari mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat, dipenuhi kesedihan, cuma beberapa jam sebelum para ahli internasional mengeluarkan kerangka kakaknya dari kuburannya di Kota Ramalla, Tepi Barat Sungai Jordan, untuk mengetahui penyebab kematiannya. Adik perempuan Yasser Arafat itu, yang berusia 80 tahun, hidup kesepian di satu apartemen di Kota Gaza dengan hanya ditemani seorang pembantunya. Di dalam wawancara dengan Xinhua –yang dipantau ANTARA di Jakarta– Khadija mengatakan ia menentang keras pembongkaran makam kakaknya dan pengambilan sampel dari kerangkanya.

“Menentang seluruh masalah itu bukan Hanya pendapat saya, atau pendapat keluarga, tapi juga banyak orang Palestina di wilayah Palestina dan di luar negeri. Mereka menentang pembongkaran kuburan Abu Ammar –julukan Yassser Arafat,” kata Khadija dengan suara tersendat dan air mata mengalir di pipinya. “Sekarang ia telah beristirahat di kuburannya, jadi tolong biarkan dia istirahat dalam kedamaian,” kata Khadija. Ia merujuk kepada keputusan Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) untuk membongkar kuburan Arafat. Tujuannya ialah untuk mengkaji sampel dari kerangkanya dan mengetahui penyebab kematiannya delapan tahun lalu.

Beberapa ahli internasional dari Prancis, Swiss dan Rusia tiba di Ramallah untuk menggali kerangka Arafat. Namun Khadija, yang menyuarakan kemarahan, mengatakan, “Tak seorang pun pernah meminta izin saya untuk membongkar kuburan kakak saya dan mengambil sampel dari kerangkanya.” “Tak seorang pun di kalangan pemimpin Palestina atau di Pemerintah Otonomi Palestina pernah mengontak saya dalam masalah apa pun yang berkaitan dengan Yasser Arafat,” kata Khadija. Namun ia mengatakan beberapa orang di PNA “pernah menghubungi saya secara pribadi dan menjelaskan kepada saya mengenai apa yang terjadi dan bertanya tentang kesehatan saya”.

Ketika ditanya apakah Suha Arafat –janda Yasser Arafat, yang pergi ke satu pengadilan di Prancis untuk meminta dilakukannya penyelesaian mengenai penyebab kematian suaminya, pernah menghubungi dia, Khadija berkata, “Sejak ia (Arafat) meninggal pada 2004, Suha tak pernah menghubungi saya dan saya hanya mendengar tentang dia dari media massa.” Sebelumnya Nasser al-Qedwa (Arafat), kemenakan laki-laki Yasser Arafat, memberitahu Xinhua, pada prinsipnya, ia menentang pembongkaran makam pamannya sebab ia ragu apakah tindakan tersebut akan bermanfaat setelah delapan tahun Yasser Arafat meninggal.

“Saya ragu mereka akan menemukan bukti,” katanya. Satu pengadilan di Paris telah memutuskan untuk mengirim ahli ke Ramallah guna menyelidiki kondisi kematian presiden Palestina itu.

Arafat lahir dari orang tua Palestina di Kairo , Mesir, tempat ia menghabiskan sebagian besar masa mudanya dan belajar di Universitas King Fuad I. Sebagai seorang mahasiswa, ia menganut ide-ide nasionalis dan anti Zionis Arab. Menentang penciptaan Negara Israel  tahun 1948, ia berperang bersama Ikhwanul Muslimin selama Perang Arab-Israel 1948. Kembali ke Kairo, ia menjabat sebagai Presiden Persatuan Umum Pelajar Palestina dari tahun 1952 hingga 1956. Pada bagian akhir tahun 1950-an ia ikut mendirikan Fatah, sebuah organisasi paramiliter yang mencari pembubaran Israel dan penggantinya dengan negara Palestina.

Fatah beroperasi di beberapa negara Arab, dari mana ia meluncurkan serangan terhadap target Israel. Pada bagian akhir tahun 1960-an profil Arafat dikenal; pada 1967 ia bergabung dengan PLO dan pada 1969 terpilih sebagai Ketua Dewan Nasional Palestina (PNC). Kehadiran Fatah yang meningkat di Yordania mengakibatkan bentrokan militer dengan pemerintah Yordania Raja Hussein dan pada awal 1970-an mereka pindah ke Libanon. Di sana, Fatah membantu Gerakan Nasional Lebanon selama Perang Sipil Lebanon dan melanjutkan serangannya ke Israel, sehingga menjadi sasaran utama invasi Israel tahun 1978 dan 1982.

Dari 1983 hingga 1993, Arafat bermukim di Tunisia, dan mulai mengubah pendekatannya dari konflik terbuka dengan Israel ke negosiasi. Pada tahun 1988, ia mengakui hak Israel untuk hidup dan mencari solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Pada tahun 1994 ia kembali ke Palestina, menetap di Kota Gaza dan mempromosikan pemerintahan sendiri untuk wilayah Palestina. Dia terlibat dalam serangkaian negosiasi dengan pemerintah Israel untuk mengakhiri konflik antara Israel dan PLO.Termasuk Konferensi Madrid tahun 1991 termasuk Kesepakatan Oslo 1993 dan KTT Camp David 2000.

Pada 1994 Arafat menerima Hadiah Nobel Perdamaian , bersama dengan Yitzhak Rabin dan Shimon Peres , untuk negosiasi di Oslo. Pada saat itu, dukungan Fatah di kalangan Palestina menurun dengan pertumbuhan Hamas dan rival-rival militan lainnya. Pada akhir 2004, setelah secara efektif dikurung di dalam kompleks Ramallah selama lebih dari dua tahun oleh tentara Israel, Arafat jatuh koma dan meninggal. Sementara penyebab kematian Arafat tetap menjadi subyek spekulasi, investigasi oleh tim Rusia dan Prancis menentukan tidak ada permainan curang yang terlibat.

Arafat tetap menjadi sosok yang kontroversial. Mayoritas rakyat Palestina memandangnya sebagai pejuang kemerdekaan dan martir yang heroik dan melambangkan aspirasi nasional rakyatnya. Sebaliknya, sebagian besar warga Israel menganggapnya sebagai teroris yang tidak bertobat, sementara saingan-saingan Palestina, termasuk kaum Islamis dan beberapa orang kiri PLO, sering mengecamnya karena korupsi atau terlalu tunduk dalam konsesinya kepada Pemerintah Israel.

Itulah Yasser Arafat dan Kelahiran PLO, 28 Mei 1964. Bagaimanapun persoalan Palestina semakin rumit, setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peta baru Palestina dan Israel. Hal ini terjadi setelah mengatakan, Jerusalem adalah ibukota Israel.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis dan Sejarawan Senior