Mengapa Terjadi KLB Hepatitis A di Jawa Timur?

337 views

 

Indonesia khususnya provinsi Jawa Timur dikejutkan dengan pernyataan resmi pemerintah Kabupaten Pacitan bahwa daerahnya mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A. Menurut informasi pada 13 Juni 2019 terdeteksi penderita Hepatitis A ini hanya dialami 24 orang tetapi pada 27 Juni 2019 atau dua pekan setelahnya korban mencapai 877 orang. Tentu saja bertambahnya penderita dalam jumlah mendekati seribu orang hanya dalam waktu dua pekan adalah kejadian luar biasa.

Hepatitis A sendiri sebenarnya merupakan sebuah penyakit yang pada umumnya disebabkan oleh agen virus hepatitis A. Penularan virus Hepatitis A dapat ditransmisikan melalui fecal-oral atau penularannya melalui makanan dan feses (tinja, pen.). Pada umumnya virus ini mengontaminasi makanan, minuman, sumber air. Lingkungan yang kotor dan pemukiman padat penduduk merupakan faktor resiko pemicu timbulnya KLB. Kasus yang terjadi di Pacitan dan telah memakan korban pula di daerah yang menjadi tetangganya seperti Trenggalek dan Ponorogo telah memenuhi kriteria sebagai status KLB karena telah mencapai ratusan orang dan telah memenuhi kriteria Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tentang KLB. Menurut informasi penderita berasal dari 3 kecamatan yaitu Sudimono, Ngadirojo, dan Tulakan. Dan bahkan penularan ini dilaporkan udah merambah ke kecamatan lain seperti di kecamatan Kebonagung. Penetapan kasus KLB Hepatitis A didasarkan pada data terkait dengan jumlah penderita dan melihat gejala klinis yang ditimbulkan pada kasus. Untuk data sudah memenuhi karena sudah banyak korban yang timbul. Sedangkan untuk gejala, penderita tersebut akan menunjukkan gejala klinis yang mirip antara lain demam, lemas, mual dan muntah, warna urine menajdi gelap dan warna tinja menjadi pucat.

Selain itu, untuk penegakan diagnosis perlu dilakukan sampling sampel penderita dan dilakukan uji laboratorium, hasil ini dapat memastikan agen penyebab Hepatitis A apakah disebabkan oleh virus hepatitis A atau tidak. Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur sudah melakukan sidak di Pacitan bersama dengan Badan Penelitian Kesehatan Lingkungan (BPTKL) Jawa Timur. Dari data yang didapat dipastikan bahwa penderita yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pacitan positif Hepatitis A.

Membahas detail tentang agen virus hepatitis A, sebagai peneliti beberapa riset sudah pernah saya lakukan terkait dengan virus hepatitis bersama tim di Universitas Airlangga (Unair). Penelitian sebelumnya kami melakukan analisis Kasus KLB hepatitis A yang disebabkan oleh virus hepatitis A di 2 SMP di Surabaya yang terjadi pada periode 2015-2016. Hasil studi yang kami dapatkan dapat menujukkan karakteristik dari virus hepatitis A yang telah menyebabkan KLB tersebut apakah dari satu sumber. Jadi, selain kita bisa mengambil sampel dari penderita sebagai bahan uji, kita juga bisa mengambil dari sumber kontaminasi misalkan makanan, minuman, air atau tanah di sekitaran kejadian. Sehingga apakah berasal dari sumber lingkungan atau dari individu rentan yang tertular dengan virus hepatitis A dari sumber di luar mereka tinggal.

Penulis punya pengalaman dimana ada mahasiswa asing datang dari Jepang untuk melakukan kegiatan penelitian di Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair. Mahasiswa tersebut sakit dengan gejala rasa tidak enak dan demam, gejala tersebut berkembang 12 hari setelah pulang ke Jepang dari Indonesia. Kemudian mahasiswa tersebut melakukan uji cek laboratorium dan mengalami peningkatan IgM anti-HAV antibodi. Kemudian mahasiswa tersebut positif terdiagnosis dengan acute hepatitis A. Setelah dilakukan penelitian lebih intensif untuk karakter dari virusnya, ditemukan data bahwa virus tersebut secara karakter molekularnya mirip 100% dengan strain yang diidentifikasi di Surabaya pada penelitian sebelumnya. Hal tersebut membuktikan bahwa virus tersebut didapatkan mahasiswa ketika tinggal di Surabaya atau virus impor. Pentingnya mempelajari karakter molekular dari virus karena kita tahu bahwa di era mobilitas populasi seperti sekarang ini sudah memudahkan individu berpindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain. Sehingga penyerabaran strain virus yang sifatnya ekslusif di suatu negara dapat menyebar ke negara lain.

Sebagai dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) di departemen Epidemiologi, ini merupakan tantangan bagi kami untuk mencari sumber penularan virus tersebut dan perlu pemberian sosialisasi untuk memutus mata rantai penularan agen tersebut. Karena epidemiolog harus mampu menginvestigasi sumber penularan dan mencegah resiko penularan. Hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menjaga higienitas atau kebersihan dari lingkungan dan melakukan upaya untuk meminimalisir penyebaran agen virus tersebut, misalkan apakah perlu vaksin hepatitis A diberikan di masyarakat sekitar yang dekat dengan area KLB.

Ada laporan yang disampaikan oleh Pemkab Pacitan, kasus ini penularannya bukan hanya dari kontaminasi makanan atau minuman tetapi sudah tertular dari orang ke orang. Ini berarti bahwa diperlukan investigasi kepadatan penduduk area tersebut dan bagaimana dari Tim Dinkes bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa mencegah penularan virus hepatitis A. Pencegahan virus hepatitis A sebenarnya juga bisa dicegah dengan melakukan imunisasi hepatitis A. Sayangnya, program vaksinasi virus hepatitis A masih belum menjadi program vaksinasi wajib dan rutin di Indonesia. Berbeda dengan negara lain, program vaksinasi hepatitis A ini merupakan program vaksinasi yang diwajibkan untuk warga negaranya ketika akan datang di negara Indonesia.

Salah satu negara yang ketat dalam imunisasi Hepatitis A adalah Jepang. Saat orang Jepang ada rencana berkunjung ke Indonesia, maka pemerintahnya menyarankan untuk mahasiswa yang tinggal sekitar 3 minggu diwajibkan untuk mendapatkan vaksinasi hepatitis A. Ini merupakan upaya preventif bagi mereka untuk terjangkit virus hepatitis A. Karena Jepang mengetahui Indonesia merupakan negara yang endemic dengan hepatitis virus A.

Memang virus hepatitis A merupaka tipe penyakit yang hanya sampai pada tingkat akut dan tidak pernah menimbulkan tingkat kronis sehingga tingkat penyembuhannya lebih besar bahkan mungkin tidak menimbulkan kematian. Tetapi sekali lagi perlu diingat bahwa ketika virus hepatitis A menjangkit pada kelompok yang rentan misalnya orang tua atau anak-anak inilah yang bisa menimbulkan gejala yang lebih serius dengan komplikasi bahkan kematian. Sehingga perlu dilakukan penanganan cepat untuk pemberantasan penularan dari hepatitis virus A tersebut sehingga tidak menimbulkan korban.

 

LAURA NAVIKA YAMANI, S.Si., M.Si., Ph.D
Dosen Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) dan P.hD dari Kobe University Jepang

author