Membaca Polemik Kandungan Cacing Pada Produk Ikan Kaleng

 

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan temuan cacing pada beberapa produk makarel kaleng oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ada sebanyak 27 merek makarel kaleng yang positif mengandung cacing, dan 11 di antaranya merupakan produk dalam negeri. BPOM juga mengklaim parasit cacing yang ditemukan di beberapa produk makarel kaleng tersebut merupakan jenis Anisakis.

Di lain pihak, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyarankan perlu adanya pengamatan lebih teliti terkait klaim tersebut mengingat adanya kemungkinan kekeliruan pengamatan terhadap objek asing yang terdapat pada produk-produk tersebut. Meski demikian, himbauan KKP, BPOM dan pernyataan Menteri Kesehatan agaknya mengindikasikan bahwa kontaminasi produk makarel kaleng oleh parasit cacing merupakan hal yang boleh jadi benar adanya.

Melihat fenomena semacam ini, apakah lantas membuat kita menjadi enggan makan ikan? Sebagai masyarakat yang cerdas, apa saja yang harus kita lakukan dalam menyikapi fenomena ini?

Ada beberapa fakta yang perlu kita pahami terlebih dahulu sebelum memberikan reaksi yang tidak-tidak terhadap fenomena ini. Pertama, infeksi cacing Anisakis pada produk perikanan bukan merupakan barang baru. Di Indonesia sendiri, laporan mengenai Anisakis sudah ada sejak beberapa dekade lalu hingga saat ini, baik pada produk perikanan segar maupun olahan. Sementara itu, beberapa negara di dunia juga tidak asing dengan temuan Anisakis di beberapa produk perikanan mereka, bahkan tak luput bagi negara dengan tingkat keamanan pangan yang tinggi, seperti Norwegia dan Belanda.

Kedua, Anisakis berbeda dari yang disangkakan oleh beberapa khalayak sebagai cacing pita. Walaupun sama-sama termasuk dalam kategori zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia), Anisakis jelas berbeda dari cacing pita, baik dari segi rupa (morfologi) maupun gejala klinis yang ditimbulkan akibat mengonsumsinya. Lagipula, cacing pita umumnya ditemukan pada hewan-hewan ternak lain seperti babi, sapi atau domba. Jadi, coba sedikit menahan diri dari men-share foto-foto temuan cacing pada ikan dengan mengatakan temuan tersebut sebagai cacing pita.

Bagaimana dengan telur cacing yang “katanya” tahan terhadap suhu ekstrim? Memang, ada penelitian yang membuktikan bahwa telur cacing pita tahan terhadap suhu ekstrim. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa ikan-ikan seperti makarel, tuna, tengiri, kerapu, kembung dan lain-lain merupakan host paratenik bagi Anisakis, yang mana cacing tersebut hanya berkembang sampai tahapan larva stadium 3. Tidak seperti cacing pita, larva Anisakis yang kita temukan di ikan tidak menghasilkan telur yang bisa menginfeksi. Cacing Anisakis baru mencapai stadium dewasa dan bertelur ketika berada di dalam host defenitifnya, seperti mamalia laut dan manusia.

Ketiga, tidak sedikit penelitian yang membuktikan, bahwa resiko terinfeksi oleh cacing Anisakis akibat mengonsumsi ikan sangat rendah, karena cacing ini sangat sedikit ditemukan di daging ikan. Justru, cacing ini ditemukan di rongga tubuh bagian dalam dan organ-organ dalam ikan seperti usus, lambung dan gonad. Selain itu, cacing ini juga cenderung ditemukan pada daging-daging ikan yang mengandung lemak yang tinggi, tidak seperti makarel yang cenderung mengandung lemak yang relatif rendah. Lain cerita bagi yang hobi makan jeroan ikan.

Perkara ditemukannya cacing Anisakis di beberapa produk makarel kaleng tidak serta merta membuat kita panik. Kita semua paham bahwa ikan merupakan salah satu sumber protein terbaik bagi tubuh kita. Kita mungkin tidak sadar, bahwa memakan ikan segar sebenarnya justru lebih rentan terinfeksi Anisakis daripada ikan kaleng yang sudah diproses dengan banyak tahapan. Proses sterilisasi produk-produk ikan kaleng dengan tekanan dan panas yang tinggi sendiri justru sudah membunuh cacing Anisakis yang ada pada produk ikan kaleng. Apalagi sudah dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

Cacing juga memang sumber protein, tapi bukan berarti pernyataan ini membolehkan kita makan cacing. Saya sendiri jelas tidak mau, apalagi sekelas pejabat. Tapi tak perlu khawatir, ada beberapa tips, terutama bagi ibu-ibu, supaya makan ikan tetap tenang tanpa rasa was-was. Pertama, pastikan membersihkan ikan terlebih dahulu dari “dalemannya” sebelum dimasak. Membersihkan (menyiangi) dan membuang organ-organ dalam ikan seperti insang, lambung, usus dan lain-lain akan mencegah kemungkinan besar terinfeksi cacing Anisakis, karena di bagian-bagian inilah base camp mereka.

Selanjutnya, hindari memakan ikan yang mentah atau setengah matang. Ini juga lampu kuning bagi pecinta sushi dan sashimi. Memasak ikan hingga matang akan mencegah kemungkinan terinfeksi Anisakis, karena cacing tersebut akan mati apabila terpapar panas yang tinggi.

Terakhir, ikuti anjuran pihak otoritas terkait pengecekan bahan makanan sebelum dibeli dan dikonsumi. Ingat ya ibu-ibu, anjuran cek KLIK (Kemasan, Label, Izin edar dan Kadaluarsa) sebelum membeli dan mengonsumsi makanan tidak hanya berlaku untuk produk ikan kaleng saja, tapi untuk semua produk. Tetap ikuti himbauan ini meskipun kehebohan tentang cacing ini nanti sudah tidak didengar lagi.

Kita patut waspada terhadap kabar temuan cacing di produk makarel kaleng yang baru-baru ini beredar. Tapi bukan berarti hal tersebut membuat kita sampai enggan makan ikan, paranoid apalagi bereaksi secara berlebihan.So keep calm and eat fish!

 

M R ROYAN

Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Aquaculture Biology di University of Bergen, Norwegia

Tim Riset Anisakis pada Ikan Blue Whiting di bawah Havforksnings Instituttet (Institute of Marine Research) Bergen, Norwegia

author