Masjid Harus Jadi Sumber Pemberdayaan Ekonomi Umat Menuju Kebangkitan Pasca Pandemi Covid-19

22
Prof. Dr. KH. Moh Ali Aziz dari UINSA sebagai salah satu pembicara dalam webinar internasional tentang Manajemen Masjid 2020 yang diselenggarakan STIDKI Ar-Rahmah Surabaya, Sabtu (19/9/2020) nampak memberikan materinya tentang pentingnya pemaknaan kembali tentang pengelolaan dana wakaf. (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Sabtu (19/9/2020) mahasiswa STIDKI Ar-Rahmah Surabaya kembali menyelengarakan Live Webinar Internasional tentang Manajemen Masjid 2020 pada masa pandemi Covid-19 untuk seri ke-3 yang digelar angkatan 2017 dalam Program Kuliah Kerja Dakwah (KKD).

Ketua panitia acara webinar internasional Seneng Al-jauzi menyampaikan pendaftaran peserta mencapai lebih dari 800 orang.

“Antusiasme publik sungguh luar biasa untuk memahami betapa pentingnya peran masjid di tengah masyarakat khususnya dj era kekinian ini. Harapan kami, setelah webinar ini, ada peningkatan pemahaman dari setiap unsur  yang berhubungan dengan kepengurusan masjid di indonesia khususnya dan bisa naik pada level internasional,” ujar Seneng kepada cakrawarta.com, Senin (21/9/2020) siang.

Webinar Internasional seri ke-3 ini diisi langsung oleh dua narasumber yaitu KH. Moh Ali Aziz dari UIN Sunan Ampel dan Raditya Sukmana dari Universitas Airlangga.

Dalam webinar dengan tema “Peran Masjid Dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi” ini Moh. Ali Aziz menjelaskan tentang pentingnya revolusi mindset atau cara pandang umat Islam dalam memaknai aspek-aspek kehidupan mereka.

“Harta itu adalah kunci surga, bukan gemboknya. Kita juga ditantang untuk kembali menggali hukum fiqih mengenai pemanfaatan dana dan aset masjid untuk hal-hal produktif tidak seperti dulu lagi. Pengurus Masjid juga harus melihat jamaah sebagai subjek ekonomi yang amat potensial dan tidak lagi objek semata. Bahkan umat dan khusus antar masjid harus bisa menjalan bisnis berjamaah tidak lagi fardiyah atau parsial. Jika ini bisa dilakukan maka akan tumbuh ekonomi syirkah sehingga umat ke depan bisa menitikberatkan pada urgensi silaturrahim dengan berjejaring dan kerjasama,” papar dosen yang telah menjadi guru besar itu.

Sementara itu, Raditya Sukmana menegaskan bahwa dana wakaf sangat potensial untuk dikelola sebagai dana pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat melalui masjid. 

“Indonesia memiliki potensi wakaf uang tunai mencapai Rp 100 miliar per bulan. Asumsinya dengan populasi 240 juta dimana jumlah muslimnya sekitar 85% atau sekitar 200 juta. Katakanlah separuh muslim tidak miskin, jika setiap orang dari yang tidak miskin itu berwakaf Rp 1.000,- per bulan. Apalagi klo lebih dari itu nilai wakafnya. Luar biasa potensinya umat Islam di Indonesia ini. Sayang jika tidak dikelola untuk mengentaskan kemiskinan yang ada,” papar pria yang juga guru besar itu.

Untuk diketahui, seminar internasioal STIDKI Ar-Rahmah bertajuk “International Webinar Series on Mosque Management 2020”, mengusung tema “Semangat Memakmurkan Masjid sebagai wujud Optimisme Bangkit dari Pandemi Covid-19”. Dengan adanya seminar ini diharapkan masyarakat kembali bangkit dari segala keterpurukan dan dimulai dari Masjid sebagaimana dulu Masjid adalah pusat kegiatan umat.

(mukhlas/bti)