Maryam Jamilah: Konsepsi Iman Kepada Hari Akhir

226 views

 

Saya sedang mengumpulkan tulisan-tulisan Margaret Marcus/Maryam Jamilah. Perempuan asal New York yang beragama Yahudi dan akhirnya menemukan Islam sebagai cahaya dalam menerangi jalan hidupnya.

Beberapa bukunya sudah banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia seperti Surat-Menyurat Maryam Jamilah Maududi, Biografi Abul ‘Ala Al-Maududi, Islam dan Modernisme, Kebudayaan Barat dan Kesejahteraan Umat Manusia, Islam Versus Barat, dll. Karya-karya Maryam Jamilah ini hanya dapat ditemukan pada cetakan lama. Untuk cetakan terbaru sudah tidak beredar lagi. Ini dikarenakan, siapa yang akan membaca buku-buku seperti itu pada zaman ini. Zaman yang disebut sebagai zaman ‘milenial’.

Maryam Jamilah hidup di saat umat Islam kehilangan kepercayaan dirinya dan sikap rendah hati dihadapan kekuatan peradaban Barat. Pun sampai hari ini kondisi umat Islam masih demikian. Meskipun begitu, tetap ada orang-orang yang berjuang dan berusaha untuk mengembalikan eksistensi Islam di kancah dunia. Sebut saja, Maulana Abul ‘Ala Al-Maududi di Pakistan yang berjuang dengan Jamaat El-Islami. Hasan Al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Sayyid Rasyid Ridha dengan gerakan salafiah. Termasuk di Indonesia juga tumbuh gerakan-gerakan serupa. Yang demikian itu adalah usaha-usaha untuk menyadarkan kembali kaum muslimin terkait kemuliaan agama Islam.

Perlawanan Maryam Jamilah adalah perlawanan terhadap sekularisme Barat yang telah menjangkiti generasi Islam. Sikap rendah diri dan putus asa, membuat sebagian dari kaum muslimin mencari perlindungan dan menghadapkan wajahnya ke Barat. Akhirnya muncul semboyan ‘pembaharuan’ dalam Islam. Namun, yang mereka bawa adalah prinsip dan paradigma Barat dalam memandang agama. Dengan rasa perhatian mendalam inilah Maryam Jamilah memberikan penyadaran tentang kehidupan materialis Barat yang tidak memiliki kebaikan apa-apa untuk Islam.

Islam mengajarkan kita bahwa setiap kehidupan ada akhirnya. Dunia yang kita tempati saat ini sekadar singgah semata. Dia tidak boleh dijadikan tujuan hidup. Karena diciptakannya jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Dialah Yang Awal dan Dialah Yang Akhir. Inilah yang kita sebut dengan iman.

Definisi iman bukan saja membenarkan di dalam hati. Tetapi ia juga mesti diimplementasikan dalam perbuatan dan juga terucap melalui lisan. Dan seluruh rukun iman adalah keyakinan percaya terhadap segala hal yang gaib.

Hal yang gaib ini kita ambil contoh, iman kepada hari akhir. Saya diingatkan kembali konsepsi ketika saya beriman kepada hari akhir. Ternyata hal ini bukan doktrin semata atau ucapan yang tiada maknanya. Dia mesti bisa dimaknai dengan logis sehingga bisa dirasakan dampaknya.

Dalam surat Maryam Jamilah kepada Maududi, 12 April 1961 ia menuliskan begitu pentingnya beriman terhadap Hari Akhir. Dan ditekankan di dalam al-Quran hampir di setiap ayat. “Begitu seseorang mulai beriman kepada Hari Akhir, maka nilai-nilai dunia yang dipandang hebat menjadi kehilangan artinya. Iman kepada Hari Akhir sekaligus memberi wawasan yang benar tentang kehidupan orang yang beriman, sehingga ia mampu membedakan mana yang benar-benar dan mana yang tidak”.

Secara moral, beriman kepada Hari Akhir akan membentuk manusia menjadi lebih peduli terhadap nasib manusia yang lainnya. Dengan beriman kepada Hari Akhir pula, tidak ada manusia yang memperbudak manusia lainnya. Hak Asasi Manusia yang digaungkan oleh Barat lebih hidup. Keadilan, kesejahteraan, saling membantu, dan sikap toleransi akan tumbuh dan lebih bermakna. Karena setiap manusia meyakini bahwa semua itu nanti akan ada balasan dan pengadilan dari Pemilik Hari Pembalasan.

Hal ini tidak terjadi pada Barat. Sehingga, kehidupan mereka adalah kehidupan yang suka menindas dan memperkosa hak orang lain. Kehidupan yang materialistis membuat mereka tidak mempedulikan orang-orang sekitar. Kecongkakkan dan kesombongan merupakan tabiat dari peradaban Barat akibat jauhnya merek dari agama.

“Sekularisme, nasionalisme dan materialisme masa kini dihadapi dari filosof-filosof yang membangkitkan revolusi Perancis, seperti Voltaire, Rousseau, Montesquieu, dan lain-lain. Mereka adalah pembenci-pembenci fanatik terhadap seluruh agama,” terang Maryam Jamilah dalam suratnya kepada Maududi, 5 Desember 1960.

Gerakan penyadaran beriman terhadap Hari Akhir semestinya sudah harus dilakukan. Kaum muslimin mesti kembali mempelajari esensi dari keimanan terhadap Hari Akhir. Agar keyakinan itu bersemi di jiwa-jiwa kaum muslimin. Dengan itu kita akan melihat generasi muslim yang lebih mencintai kematian daripada kehidupan yang fana. Mereka akan berjuang dengan harta dan jiwa.

“Ia akan mulai mendambakan benda-benda yang abadi dan bukannya benda-benda material yang ditakdirkan akan musnah segera tanpa bekas”, tulis Maryam Jamilah.

 

HAMDI IBRAHIM
Founder Pojok Rumi dan Ketua Komunitas Pojok Sastra

author