Libya, Khadafy dan Masjid Az-Zikra di Indonesia

81

 

 

Situasi di Libya belum juga tenang setelah kepergian pemimpin kharismatik mereka, Khadafy. Di bulan suci Ramadhan ini, “Tentara Nasional Libya” mengumumkan penembakan sebuah pesawat Turki, sementara media setempat melaporkan bahwa “Tentara Nasional” memukul mundur serangan “pasukan yang didukung Turki di poros Ramleh, selatan ibukota, Tripoli.”

Ruang Operasi Al-Karama dari “Tentara Nasional Libya”, melalui Facebook, mengatakan bahwa pertahanan udara tentara berhasil dimana pada hari Selasa, 13 Mei 2020 menembak jatuh sebuah pesawat Turki di dekat kota Shweref di barat daya negara itu. Untuk bagiannya, Batalyon Infanteri ke-82 dikonfirmasi oleh “Tentara Nasional” bahwa pesawat Turki ditembak jatuh di Wadi Al-Rutam dekat daerah Al-Shweref.

Menurut berita “Gerbang Afrika” Libya, “Tentara Nasional” pada Selasa malam itu menanggapi serangan dan upaya untuk memajukan pasukan pemerintah rekonsiliasi nasional yang didukung oleh Turki, di poros Ramla di sekitar Bandara Internasional Tripoli, di tengah laporan bentrokan keras antara kedua pihak di wilayah tersebut.

Memang Libya setelah kepergian Khadafy tidak pernah tenang. Bahkan banyak di antara warga Libya menyesalkan kepergian Khadafy yang pernah berkuasa di Libya sekitar tahun 1969-2011. Seorang penduduk Libya mengungkapkan: “Mayoritas orang Libya menyesalkan penggulingan Khadafy, bukan karena mereka mencintainya, tetapi karena hasil revolusi tidak sesuai harapan.”

Memang benar, Khadafy adalah “Pemimpin dan Penuntun Revolusi” Jamahiriyah Arab Libya dari tahun 1977 hingga 2011. Ia awalnya memperjuangkan nasionalisme dan sosialisme Arab, tetapi kemudian mengikuti ideologinya sendiri yang disebut Teori Internasional Ketiga.

Khadafy adalah seorang tokoh revolusi dan politikus asal Libya. Ia berkuasa di Libya sebagai Kepala Revolusioner Republik Arab Libya dari tahun 1969 hingga 1977. Nama lengkapnya adalah Muammar Muhammad Abu Minyar Khadafi atau Gaddafi. Lahir tanggal 7 Juni 1942 di  Qasr Abu Hadi, Libya. Ia dibunuh tanggal 20 Oktober 2011, di Sirte, Libya. Lima hari kemudian, ia baru dimakamkan, yaitu pada 25 Oktober 2011. Kenapa baru lima hari dimakamkan, sementara ia seorang Muslim?

Sedikit demi sedikit saat-saat terakhir Kolonel Muammar Khadafi memang mulai terungkap. Komandan pasukan yang menangkap sang kolonel mengungkapkan detik-detik terakhir kehidupan Khadafi kepada BBC. Omran al-Oweib, nama komandan itu, kepada BBC mengatakan Khadafi yang sudah cedera diseret dari sebuah pipa saluran drainase tempatnya berlindung di Sirte.

Namun, baru berjalan sekitar 10 langkah, Khadafi tersungkur akibat tertembak. Omran menyatakan sulit mengidentifikasi orang yang menembak Khadafi hingga tewas.

“Saya tidak melihat siapa yang menembak atau senjata apa yang membunuh Khadafi,” kata Oweib dalam wawancara ekslusif dengan BBC.

Oweib menambahkan sejak awal sejumlah pejuang berniat untuk membunuh Khadafi, namun dia berusaha untuk menjaga eks diktator Libya itu tetap hidup.

“Setelah Khadafi rubuh, saya melarikannya ke rumah sakit, di mana akhirnya dia dinyatakan meninggal dunia. Saya berusaha menyelamatkan nyawanya, namun saya gagal,” tambah Oweib.

Kematian Khadafi hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan. Sebuah video amatir mengesankan Khadafi diseret di sepanjang jalan kota Sirte. Amerika Serikat bahkan meminta keterangan yang transparan dan terbuka atas kematian Khadafi ini. Sementara Rusia menilai kematian Khadafi masih menyisakan banyak pertanyaan. Kematian Khadafi ini juga disesalkan pemerintah sementara Libya yang menegaskan mereka menginginkan Khadafi dalam keadaan hidup.

“Secara pribadi saya menginginkan Khadafi hidup. Saya ingin mengetahui mengapa dia melakukan semua perbuatannya selama ini. Saya berharap menjadi penuntutnya dalam pengadilan,” kata Perdana Menteri Lybia waktu itu, Mahmoud Jibril kepada BBC.

Jibril menegaskan pemerintahannya menyetujui jika dunia internasional menginginkan penyelidikan terbuka selama pemakaman sesuai hukum Islam juga dihormati. Jadi tertundanya selama lima hari pemakaman Khadafi, dikarenakan belum adanya kepastian di mana dimakamkan. Namun, sejumlah pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC) menyatakan mereka menginginkan pemakaman Khadafi dilakukan secara rahasia. Kerahasiaan ini penting untuk menghindari agar makam Khadafi tidak dijadikan tempat ziarah bagi para pengikutnya.

Khadafy dan Masjid Az-Zikra Indonesia

Kaitan Khadafi dengan Ustadz Arifin Ilham dari Indonesia, diberitakan inilahkoran.com, sewaktu menceritakan tentang kepergian Ustadz Arifin Ilham. Ketika ribuan jamaah memenuhi Masjid Az-Zikra, Sentul, Kabupaten Bogor, sambil menunggu kedatangan jenazah almarhum Ustadz Arifin Ilham, terdengarlah cerita tentang Pemimpin Libya, Moammar Khadafi.

KH. Muhyidin Junaidi, salah satunya. Dia sahabat Ustaz Arifin Ilham dan sama-sama mendirikan Masjid Az-Zikra Sentul dan Ponpes Az Zikra di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Junaidi mengatakan dirinya mengenal almarhum pada tahun 2002 lalu. Di tahun itu pula dia mengetahui Ustadz Arifin Ilham mempunyai cita-cita mendirikan masjid besar di Kabupaten Bogor.

“Kebetulan saya mewakili utusan jami’iyatul dakwah dari Libya dan Ustadz Arifin Ilham saat itu menyampaikan kepada pemerintah Libya di masa kepemimpinan Muammar Khadafi bahwa beliau memiliki cita-cita membangun masjid besar di Kabupaten Bogor,” kata KH Muhyidin Kamis, 23 Mei 2019.

Salah satu ketua bidang di MUI ini menerangkan ada dua calon lokasi masjid yaitu Hambalang, Cuteureup dan Sentul, Babakan Madang. Sayang saja, di Hambalang air sulit maka Ustad Arifin Ilham memilih lokasi Masjid Az Zikra di Sentul.

“Karena di Hambalang air susah, sementara di Sentul air berlimpah, maka akhirnya kami memilih Sentul sebagai lokasi Masjid Az Zikra,” terangnya.

Ia menuturkan setelah menentukan lokasi pada tahun 2005 atas kesepakatan bersama dengan 4 ustadz lainnya berangkat ke Jerman untuk bertemu Preside Libya Muammar Khadafi.

“Di Jerman saat itu masuk musim panas dan pakaian wanita cenderung terbuka hingga untuk menghindari zinah mata Ustadz Arifin Ilham selalu menggunakan kaca mata hitam dan menundukkan kepalanya, saat itu Presiden Muammar Khadafi bertanya kepada kami apa yang kamu inginkan dari kami dan Ustadz ArifinI Ilham menjawab membangun Masjid Az Zikra dan dua rusunawa untuk menjadi Islamic Center,” tuturnya.

Saat Islamic Center di Sentul memasuki tahap pembangunan ternyata pada bulan Oktober tahun 2011 Presiden Libya Muammar Khadafi terbunuh dan terputuslah bantuan dana dari Pemerintah Libya.

“Karena peta politik berubah di Negara Libya dengan terbunuhnya Presiden Muammar Khadafi maka bantuan dana pembangunan Islamic Center di Sentul ini pun terhenti, hingga kami menemukan jalan keluar untuk membangun Islamic Center di Sentul  dan Ponpes Az Zikra di Gunung Sindur,” papar KH Muhyidin.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis dan Sejarawan Senior