Layanan Kesehatan (Belum) Berbenah di Tengah Seruan New Normal (Bag.3)

714

 

Cerita pada bagian ketiga tulisan ini bukan dari rekan peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS), tapi dari perawat yang juga berharap akan datangnya perubahan dalam layanan kesehatan. Dia seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Sudah beberapa kali menjadi tim Covid-19 di rumah sakit (RS) rujukan. Bahkan pengalamannya bertambah dengan menjadi pasien confirmed Covid-19 yang tertular pasien. Dia katakan bahwa di tempat dia bekerja tidak bisa berkata tidak. Harus mau jaga. Sempat terpikir kalau sudah jaga, maka aman tidak perlu jaga lagi. Ternyata harapan tak semanis kenyataan. Dia tetap dipanggil untuk berjaga kembali, dengan iming-iming tunjangan yang konon kabarnya akan cair bila sudah jaga dalam kurun waktu 1 bulan. Dan pastinya disertai ancaman, kalau tidak mau jaga, akan dirumahkan, untuk tenaga ASN akan mengalami penundaan kenaikan pangkat.

Apa memang sudah mendarah daging ya, sistem yang atas mengancam yang bawah? Kenapa kita suka sekali memberikan pilihan tanpa pilihan. Dengan kondisi itu, berjagalah kembali sang perawat ini. “ajoooorrr atiku mbak, yawes jaga aja” Demikian pesan singkat yang disampaikan ke saya. Ruang isolasinya sangat, sangat, sangaaaaaaaatt miris. Tiga kali pengulangan dan penekanan untuk menggambarkan betapa minimnya protokol perlindungan bagi tenaga kesehatan (nakes) di tempat kerjanya. Ruangan tanpa ventilasi bertekanan negatif, ruangan perawatan yang cocok untuk jadi ruangan penetasan telur ayam karena panas. Alat Pelindung Diri (APD)nya pun ketika dipakai buat gerak saja sobek, semua terkesan dipaksa dan mendadak siap.

Yang lebih miris, sampai saat ini apa yang di-iming-imingkan tak kunjung diberikan. Tanpa ragu sang perawat berkata “lama-lama saya setuju dengan opini masyarakat, bahwa pandemi ini dijadikan lahan bisnis” Saya kaget. Saya katakan, jangan dong, kasihan nasib nakes lain kalau nanti membenarkan opini masyarakat. Dia berkata kembali, “karena memang semua dipaksakan siap, dipaksakan mau, dan dipaksakan bagus, padahal semua ajooooooor.

Trus sekarang gimana kondisi njenengan? Perawat ini bersyukur, bisa pulang ke rumah karena sudah dinyatakan negatif covid. Tapi, yang bikin sakit hati, baginya, adalah pihak manajemen yang tidak mau mengakui kekurangan di tempat kerjanya. Mereka justru cenderung menganggap bahwa yang lalai itu adalah nakes. Yang ga patuh itu adalah nakes. “Siapa yang tidak kesal mbak??

“Kalau memang akan ada rapat mudah-mudahkan bisa membuahkan kegembiraan bukan kenestapaan baru. Nyatanya, malah berencana membuka rawat inap baru untuk pasien covid, padahal ruangannya jauh banget dari standar. Saya sekarang sampai dalam tahap sudah kena covid, saya jalani, tapi tetap berdoa agar para pemimpin dapat segera mendengar dan melakukan perubahan

—————————————————————————-

Masih banyak lagi suara-suara nakes atau PPDS yang sepertinya tenggelam oleh hiruk-pikuknya suara konspirasi dan tudingan-tudingan lain. Banyak yang mungkin tidak tahu, PPDS itu penuh pengabdian, melayani pasien melebihi dokter spesialis dan tanpa dibayar. Atas nama pendidikan, mereka adalah tenaga kerja medis gratisan. Mereka yang paling pertama menjumpai pasien, memberi penanganan pertama sebelum dilaporkan ke dokter di atas mereka. Di negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris dan negara Eropa lainnya, mereka dibayar dengan cukup layak. Mereka dianggap sebagai karyawan ataupun pegawai RS tempat mereka menempuh pendidikan.

Melalui tulisan yang cukup panjang ini, saya mendorong agar teman-teman PPDS punya perkumpulan legal, katakanlah “BEM PPDS” untuk berani menyuarakan aspirasi mereka. Saya sebagai masyarakat yang nantinya butuh perawatan medis, khawatir, kalau dalam proses belajarnya saja mereka sesulit ini, tenaga mereka pastilah sudah habis ketika mereka menjadi spesialis. Alhasil, hanya sekedar periksa dan menulis resep, karena segala effort-nya sudah dikeluarkan ketika mereka masih PPDS. Jangan takut bersuara, perubahan tidak akan datang begitu saja, tapi butuh perjuangan.

Sekali lagi, mungkin tulisan ini tidak akan berpengaruh banyak karena kebjakan PPDS bergantung pada Universitas dan RS pendidikan. PPDS dasarnya anak didik universitas yang dititipkan ke RS pendidikan, kalau PPDS dianggap bermasalah, RS bisa menolak PPDS itu. Tapi akankah kita mewarisi segala sistem ini untuk generasi berikutnya? Tugas saya sudah usai, menyampaikan segala uneg-uneg teman-teman, selanjutnya menjadi tugas bersama untuk berani mendobrak dan melakukan perubahan demi kebaikan bersama, karena apa yang akan kita lakukan di masa depan, urusannya adalah dengan nyawa manusia.

Teruntuk pemerintah, come on! Kebijakan New Normal itu diawali dari layanan kesehatan lebih dulu! Jangan sibuk bikin protokol di mall, di pabrik, tapi tempat untuk menyehatkan manusianya sendiri justru dilupakan. Apa guna mall dan pabrik kalau manusianya tidak ada. Duduklah bersama, sinergikan antara kesehatan dan ekonomi, jangan berjalan sendiri-sendiri.

Khusus untuk masyarakat umum yang mungkin tidak mengerti kondisi teman-teman nakes, itu adalah pilihan kalian mau percaya adanya wabah Covid-19 atau tidak. Tapi saya hanya bisa berpesan, kalau kalian mau tahu seperti apa Covid-19 itu, bertanyalah dan carilah informasi dari mereka yang ada di lingkungan medis. Buka mata dan telinga kita, dan yang utama jangan tutup hati nurani. Jangan pernah bertanya dan percaya tentang sepakbola kepada pelatih baseball. Ga bakal nyambung coy!

 

AGNES SANTOSO

Jurnalis