Layanan Kesehatan (Belum) Berbenah di Tengah Seruan New Normal (Bag.1)

1,207

 

Berita duka datang dari Jawa Timur. Satu keluarga tenaga kesehatan (nakes) di Sampang Madura berpulang secara bergantian. Herannya masih banyak yang tidak percaya dengan wabah Covid-19 ini. Banyak yang menganggap nakes tidak jujur, media bohong. Meninggal bukan karena Covid-19 tapi karena penyakit lain, dibilangnya Covid-19. Begitu yang selalu ditulis sebagai komentar dari warganet (netizen).

Di luar sana sedang ramai tentang temuan kombinasi obat yang bisa menekan penyebaran virus di dalam tubuh. Banyak yang melihat ini sebagai kabar gembira. Masyarakat mulai bangkit rasa optimismenya. Tapi sepertinya tidak dengan teman-teman nakes dan juga PPDS. Yang mereka punya hanya harapan bukan semata-mata tentang Covid-19, tapi harapan perbaikan dari sistem layanan kesehatan di Rumah Sakit (RS) tempat mereka bekerja.

Di luar sana sedang ramai mengucapkan selamat menempuh hidup normal baru (New Normal). Protokol kesehatan disiapkan, tempat, gedung, perilaku dsb. Tapi kok RS tempat merawat pasien Covid-19 justru tidak dipersiapkan menyambut normal baru? Tempat dimana digunakan untuk perawatan justru menjadi tempat paling rawan tertular. Dimana protokol kesehatan selevel RS? Kalau hanya sekedar tempat isolasi, di rumah juga bisa. Kalau hanya sekedar cuci tangan, APD ya tidak harus ke RS juga. Apa yang membedakan RS rujukan dengan tempat lain?

Kabar gembira di luar sana berbanding terbalik dengan kabar di dalam rumah sakit. Dan itu tidak diketahui public. Why? Karena memang tidak diekspose. Satu, karena memang ada kebijakan yang membuat informasi itu tidak bisa keluar, dan kedua, kondisi masyarakat dengan banyaknya teori konspirasi dan tudingan negatif membuat masyarakat menganggap semua hanya drama. Ya kali, sakit sampai meninggal adalah bagian dari drama. Kalau bagian dari drama, seharusnya setelah tepuk tangan penonton, mereka akan hidup lagi. Toh faktanya tidak. Saya ingat betul bagaimana tontonan untuk orang dewasa tidak boleh dilihat anak-anak tanpa bimbingan orang tua. Herannya tontonan konspirasi yang notabene hanya cocok untuk dikonsumsi dalam ruang akademik, malah ditonton masyarakat luas tanpa filter yang cukup.

Kembali ke soal keadaan di rumah sakit dengan para perawat yang sudah berstatus karyawan, atau yang bahkan yang masih PPDS, lulusan dokter yang masih belajar untuk menjadi spesialis. Belum bekerja, belum dapat duit, masih belajar. Lanjutan dari tulisan saya sebelum ini berjudul “Sejenak Menengok Nasib PPD di Tengah Pandemi Covid-19”. Tak berselang lama sejak tulisan itu naik, saya dapat share dari beberapa kawan nakes dan PPDS. Sepertinya mulai banyak yang berani mengutarakan uneg-unegnya. Saya hargai keberanian mereka demi sebuah perubahan dan perbaikan. Kali ini, saya coba bagikan beberapa suara itu. Luangkan waktu sejenak. Kalau pernah punya waktu banyak untuk nonton dan dengerin teori konspirasi dalam waktu lama, maka saat ini, kita coba ubah sudut pandang sejenak melihat kondisi mereka di dalam RS.

Kemarin sore, beberapa saat setelah tulisan naik, seorang kawan sebut saja namanya si B. Mem-forward chat dari temannya. Beritanya: “10 PPDS jurusan itu hasil swab PCR +, PPDS jurusan lain 1 MRS, 6 rapid reaktif”. Saya kaget. Berdasar obrolan sebelumnya, biasanya temuan ini adalah “tembung jare”. Tidak diumumkan secara langsung oleh tempat mereka bekerja. Lagi-lagi menjadi pertanyaan, PPDS ini adalah milik fakultas, kenapa harus takut dengan rumah sakit tempat mereka magang? Apa karena menjadi satu-satunya tempat magang untuk mendapat gelar spesialis? Coba kita berbicara dengan logika mapping tenaga kesehatan dalam masa pandemi. Pemerintah bisa dengan mudah memberi informasi bahwa untuk orang-orang dengan risiko tinggi tertular (punya penyakit bawaan, kormobid) harus benar-benar jaga diri. Masyarakat diminta untuk menjaga kebersihan agar tidak menulari mereka yang rentan. Lalu bagaimana dengan nakes/PPDS yang punya penyakit bawaan? Mapping nakes merupakan skrining awal, siapa yang boleh tetap kerja dan siapa yang tidak boleh kerja di ruangan yang berbahaya. Misi kita sama, menyelamatkan nyawa manusia, siapapun itu, karena nakes juga merupakan masyarakat. Saya sempat berpikir, seandainya pimpinan RS punya anak, dan anaknya sedang punya penyakit bawaan yang rentan tertular, saya yakin pasti tidak akan diterjunkan ke lapangan. Tapi mungkin karena itu hanya pikiran saya saja, maka mapping seperti itu tidak terpikirkan oleh pihak RS. Saya sempat bertanya, para ortu PPDS tidak ada yang protes kah? Pasrah aja? Tingkat kepasrahan orang tua PPDS ternyata hanya sampai meminta anaknya cuti, tidak bisa atau belum ada yang sampai mau menuntut, karena sebagian besar orang tua PPDS juga dokter. Yeap, dilemma.

Masih dari cerita si B. Sumbangan APD mengalir dimana-mana. Tidak ada yang meragukan kegotongroyongan masyarakat kita. Hanya saja rasa gengsi kadang membawa kita enggan untuk berkata kami butuh. Padahal para donator juga bergerak berdasarkan kebutuhan. Jangan pernah tunjukkan bahwa kita ga mampu. Di sisi lain, faktanya memang tidak mampu. Alhasil, PPDS berupaya sendiri untuk membuat/ mengadakan APD. Tidak jarang di-support oleh dosen mereka. Terimakasih dosen. Semua sedang tidak berdaya, tapi tetap harus berjuang. Anyway, karena sekarang lagi pandemi, sistem pendidikan PPDS tentunya ikut freeze, jadi kenaikan kelas agak tertunda, dan juga sepertinya tidak bayar SPP. Tapi kalau saya sih, lebih baik bayar SPP daripada nyawa saya “dicemplungkan” ke tempat kerja yang tidak aman. Sebelum saya akhiri percakapan dengan si B, kembali dia mem-forward informasi. Beritanya : “Juniorku tadi jaga IRD, gak kuat karena demam + lemes. CT scan GGO. Nambah lagi”. Note : CT Scan dada, GGO=Ground Glass Opacity. Gambaran khas Covid di paru. Saya coba kirim ke teman lain, belum dapat kabar soal ini. Benar-benar berita baru di jam tersebut.

(bersambung)

 

AGNES SANTOSO

Jurnalis