Kita dan Generasi Akik

2122 views

47726_146061262092437_8105670_n

Masyarakat Indonesia kini tengah gandrung dengan batu akik. Mulai dari kelas elit hingga tukang becak bahkan kalangan akademisi pun tak terlepas dari demam akik ini. Tidak ada yang salah dengan akik. Ia hanyalah sebuah batu yang digosok sedemikian, hingga dirasakan memancarkan sebuah “energi”. Ironisnya, masyarakat saat ini lebih melihat “energi” pada dimensi belaka.

Dampak dari fenomena tersebut salah satunya ada kajian ulama korelasinya dengan bagaimana masyarakat memandang akik hanya pada dimensi ‘energi’ belaka ini. Kalau akik dikatakan syirik. Saya rasa kurang tepat. Kenyataannya orang yang mengoleksi akik itu bukan untuk disembah. Akik tidak diyakini sebagai penyelamat kehidupan dari marabahaya. Jadi letak kesyirikan sesungguhnya bukan pada benda atau aktivitasnya, akan tetapi cara kita memperlakukannya. Sepanjang hati manusia itu tidak bergantung pada sesuatu, maka ia bebas dari syirik.

Fenomena akik yang lagi trend dimana-mana patut kita cermati. Di setiap sudut jalan, banyak lapak yang dipenuhi berbagai variasi batu dengan ditemani lampu penerangan. Uniknya banyak orang yang mengerubutinya. Para pengoleksi akik ini hobi menggosok batu tersebut agar keluar auranya. Apakah ini sebuah fenomena, orang sudah tidak mampu lagi membedakan batu kali dengan mutiara ?. Sehingga melampiaskan dengan memoles batu agar secara tampilan menyerupai mutiara.

Hal ini barangkali paralel dengan kualitas masyarakat kebanyakan hari ini. Pengetahuannya sudah amat rendah, hingga tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Parameter kehidupannya hanya berkisar pada hitungan untung dan rugi. Lebih parah lagi, yang mereka tampakkan ke publik bukan lagi perilakunya, kemanfaatannya dan akhlaqnya melainkan identitasnya. Kuantitas menyeruak hebat menyingkirkan aspek kualitas. Disangka kalau sudah banyak rakaat shalat misalnya otomatis mampu menyelesaikan problem keummatan. Belum tentu. Seharusnya, identitas ini harus dimurnikan untuk dipersembahkan hanya kepada Tuhan Yang Kuasa.

Dus, perlu adanya revolusi berpikir. Karena mental hanyalah sebagai output. Bahwa yang namanya mutiara tidak perlu digosok-gosok, tetaplah ia sebagai barang berharga. Mindset masyarakat mestilah direvolusi, bahwa meskipun batu akik dicitrakan memiliki aura kekuatan, tetaplah ia hanya seonggok batu. Jika pikirannya benar maka mentalnya menjadi luar biasa.

Semoga kita tidak terjebak untuk melahirkan generasi Akik. Pikirannya senantiasa diperbudak oleh imajinasi penjual. Sedangkan mentalnya lemah yang berakibatkan menempatkan segala sesuatu tidak pada tempatnya.

ANJAYA WIBAWANA

Pemerhati Pendidikan dan Ketua Pengurus Harian Pesantren Griya Madani Indonesia (GMI) Surabaya

author