Kesulitan Media Massa di Era Pandemi Covid-19

346
ilustrasi (foto: istimewa)

 

Pemimpin Redaksi “The Jakarta Post” Nezar Patria memastikan koran “The Jakarta Post” tetap terbit. Dia mengklarifikasi soal isu berjudul ‘Sayonara The Jakarta Post’.

“Hari ini beredar isu ‘Sayonara The Jakarta Post’ dan saya ingin menjelaskan bahwa the Post tetap terbit,” kata Nezar dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 27 Mei 2020.

Menurut dia, isu ini dimulai dari surat internal yang bocor. Judul di surat tersebut, Nezar menuturkan, telah diubah yang kemudian beredar di media sosial. Dia tak mendetail isi surat yang dimaksud.

Nezar menjelaskan, pihaknya mau tak mau harus melakukan efisiensi lantaran terdampak pandemi Covid-19. Efisiensi itu salah satunya dengan menekan biaya operasional.

“Yang mengakibatkan sejumlah tenaga kontrak di newsroom dan juga kontributor terbaik kami di sejumlah daerah terpaksa harus berhenti,” jelas dia.

Meski demikian, lanjut dia, “The Jakarta Post” tetap beroperasi. Manajemen kini tengah berupaya melakukan transformasi ke platform berita digital demi menjawab tantangan media saat ini.

Dia mengklaim jumlah pembaca digital secara nasional tumbuh dalam tiga tahun terakhir ini. Begitu juga dengan pembaca global.

“The Jakarta Post mengalami pertumbuhan di platform digital yang sangat menjanjikan,” ujarnya.

Sebelumnya beredar kabar bahwa “The Jakarta Post,” tidak terbit lagi.

Sayonaraaaa…
The Jakarta post

Dear koresponden dan kontributor yang baik,

Keadaan keuangan The Jakarta Post sedang buruk sehingga board of directors memutuskan mulai 1 Juni tak ada lagi dana untuk kontributor, koresponden yang menerima retainer dan stringer.

Pimpinan redaksi diberi tahu hari Jumat tanggal 22 Mei dan managing editors diberi tahu pas hari Lebaran. Jadi memang kabar buruk ini datang mendadak dan saya sendiri merasa ini seperti hantaman keras.

Saya mewakili redaksi meminta maaf sedalam-dalamnya atas kesusahan ini. Tentu keadaan ini terpaksa. Musibah ini pastinya tidak menghapuskan penghargaan kami atas kerja keras kita semua, terutama teman-teman yang telah bersama Jakpost selama puluhan tahun. Karena meski keadaan keuangan memburuk, sebenarnya pembaca kita meningkat, dan selama COVID-19 justru meningkat cukup tajam. Jakpost juga menerima banyak pujian dari pembaca, termasuk orang-orang penting karena telah menyajikan good journalism terutama di tengah krisis ini.

Tapi apa mau dikata, seperti keadaan media lain di seluruh dunia, peningkatan jumlah pembaca tidak selalu berbanding lurus dengan pemasukan uang dan ini yang terjadi pada The Jakarta Post.

Dari lubuk hati yang paling dalam, dan dengan hati yang berat, saya mewakili redaksi mengucapkan terima kasih atas bakti teman-teman semua, yang siap menerjang badai, segala bencana alam, bom, kebakaran, wabah penyakit demi menyajikan informasi terbaik bagi pembaca.

Masih ada harapan keadaan keuangan The Jakarta Post akan membaik dan situasi ini sementara, meski entah kapan membaik. Dan ketika keadaan membaik semoga hubungan kerja sama ini akan tersambung lagi.

Mari kita berharap yang terbaik bagi The Jakarta Post, tempat kita melakukan apa yang kita percayai: good journalism. Semoga kerja sama yang baik ini bisa tersambung lagi di kemudian hari.

Evi Mariani
Managing Editor.”

“The Jakarta Post” merupakan gagasan dari Menteri Penerangan Ali Moertopo dan politikus Jusuf Wanandi. Moertopo dan Wanandi kecewa pada bias yang dirasakan terhadap Indonesia dalam sumber-sumber berita asing.

Pada saat itu, ada dua harian berbahasa Inggris, “Indonesia Times” dan “Indonesian Observer.”

Koran “The Jakarta Post” ini diharapkan menjadi koran berkualitas berbahasa Inggris, mirip dengan “The Straits Times” di Singapura, “Bangkok Post” di Thailand, dan “New Straits Times” di Malaysia.

Setelah mendirikan PT Bina Media Tenggara untuk mendukung koran ini, Wanandi menghabiskan beberapa bulan menghubungi tokoh-tokoh berpengaruh di koran yang ditargetkan. Untuk menerima kerja sama mereka, “Kompas” meminta bagian 25 persen di surat kabar baru, untuk menangani operasi bisnis sehari-hari, seperti pencetakan, sirkulasi, dan iklan. “Tempo” menawarkan untuk membantu dengan manajemen dengan imbalan 15 persen, sementara Sabam Siagian dari “Sinar Harapan” dipekerjakan sebagai pemimpin redaksi pertama, untuk itu “Sinar Harapan” menerima saham. Pembentukan koran selanjutnya dibantu oleh Menteri Penerangan Harmoko, yang menerima bunga 5 persen untuk perannya dalam memperoleh lisensi. Secara total, biaya awal mencapai Rp500 juta (US$700.000 pada saat itu).

Muhammad Chudori, ko-pendiri “The Jakarta Post” yang sebelumnya menjadi wartawan untuk “Antara,” menjadi manajer umum pertama dari koran ini.

Susanto Pudjomartono, mantan pemimpin redaksi “Tempo,” menjadi pemimpin redaksi kedua “The Jakarta Post” pada 1 Agustus 1991, setelah Siagian terpilih menjadi Duta Besar Indonesia untuk Australia.

Di bawah kepemimpinan Pudjomartono, “The Jakarta Post” mulai menerbitkan tulisan hasil liputan sendiri dan mengurangi porsi terjemahan; wartawan juga diminta untuk mengambil peran lebih aktif dalam operasi sehari-hari dari koran ini.

Di bawah kepemimpinan Pudjomartono, “The Jakarta Post” juga menjadi lebih vokal mengenai politik, mengambil pro-sikap demokrasi seperti “Tempo.”

Perubahan sikap ini juga hadir berkat dukungan dari Raymond Toruan, publisher, yang bersama Pudjomartono ikut menghadap ke Jusuf Wanandi untuk mengusulkan “The Jakarta Post” untuk berada di garis depan dalam melaporkan gerakan pro-demokrasi yang baru muncul.

Raymond juga yang kemudian memenangkan kesepakatan dengan “Kompas” untuk membangun kantor baru berlantai dua di tempat yang dulunya sebuah binatu, dibiayai oleh uang dana pensiun “Kompas.”

Pada tahun 1994, “The Jakarta Post” menandatangani sebuah perjanjian distribusi dengan layanan berita Inggris “Reuters” dan “American Dialog Information Services,” yang memungkinkan ceritanya lebih mudah dipromosikan ke luar negeri.

Pada pertengahan 1990an, telah dibentuk sebuah lokakarya untuk membantu staf barunya yang baru lahir dalam mempelajari budaya lokal.

Pada Desember 1998, “The Jakarta Post” memiliki sirkulasi sebesar 41.049, dan merupakan satu dari sedikit surat kabar berbahasa Inggris di Indonesia setelah krisis keuangan Asia 1997, sementara enam harian bahasa Inggris lainnya telah gagal.Tahun itu juga menjadi anggota pendiri “Asia News Web.”

Pada bulan November 2008, “The Jakarta Post” mendapatkan sebuah persaingan dari “Jakarta Globe,” yang didirikan oleh konglomerat James Riady.

Beberapa wartawan dan editor “The Jakarta Post” meninggalkan koran tersebut untuk bergabung dengan “Jakarta Globe.”

Pada Desember 2015, “Jakarta Globe” berhenti mencetak koran dan fokus ke edisi daring sehingga “The Jakarta Post” kembali menjadi satu-satunya koran Indonesia berbahasa Inggris.

Pudjomartono meninggalkan “The Jakarta Post” setelah ditunjuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Rusia pada November 2003 dan Raymond Toruan mengambil alih posisi pemimpin redaksi sampai 2004, ketika ia digantikan oleh Endy Bayuni.

Pada 2010, Meidyatama Suryodiningrat, yang menjadi reporter di “The Jakarta Post” pada tahun 1993, menjadi pemimpin redaksi sampai 2016 ketika ia ditunjuk Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk menjadi direktur utama kantor berita “Antara.” Endy Bayuni kembali menjadi pemimpin redaksi bersama Nezar Patria, yang menjadi pemimpin untuk redaksi daring “The Jakarta Post,” pada periode transisi koran menjadi media daring.

Pada 1 Februari 2018, Nezar resmi menjadi pimpinan redaksi “The Jakarta Post” yang telah terintegrasi antara produksi koran dan daringnya.

Nezar Patria lahir di Sigli, Aceh, 5 Oktober 1970, usia sekarang 49 tahun. Ia seorang Jurnalis yang merupakan salah satu dari tiga belas aktivis korban penculikan aktivis pada masa Orde Baru.

Ia memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1997. Akhir 1998, ia memutuskan menjadi seorang jurnalis. Dia bekerja menjadi wartawan di “Tempo” tahun 2002-2008. Ia juga pernah menjadi relawan di Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Saat ini, ia menduduki jabatan sebagai Pemimpin Redaksi “The Jakarta Post.”

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Wartawan Senior