Kepribumian dan Kita

392 views

 

Tentu saja kita semua pernah mengucapkan kata pribumi. Tetapi lain cerita jika kita mengucapkannya dalam sebuah pidato inaugurasi, apalagi inaugurasi pejabat publik yang berhutang kekuasaan pada upaya-upaya eksploitasi isu SARA sebelum ini.

Seperti halnya kerisauan kita ketika mendengar Donald Trump menyebut kata pribumi dalam pengertian yang ia buat seenaknya sendiri, kita patut risau atas penggunaan kata pribumi kali ini.

Tetapi akan keliru jika kita menganggap kerisauan ini muncul sebagai empati kita terhadap mereka yang bukan pribumi. Di hadapan dunia yang bukan milik kita, tidak ada yang benar-benar pribumi di dunia ini.

Sebaliknya, di hadapan dunia yang bukan milik kita, kita adalah manusia yang sama dengan satu tugas utama: menjadi rahmat untuk semesta.

Dalam kaitan asas kerahmatan semesta itu, prioritas afirmatif bagi mereka yang kurang beruntung hidupnya perlu dipastikan berkembang dalam kerangka ikhtiar dan cara pandang yang inklusif, bukan ekslusif. Bukankah kita diperintahkan untuk menyantuni anak yatim tanpa pandang bulu, bukan anak yatim dengan embel-embel pribumi atau bahkan muslim sekalipun?

Seperti keserakahan yang tidak mengenal batas ras, etnis dan keyakinan; demikian seyogyanya empati terhadap kemiskinan, ketidakberuntungan dan ketertindasan.

Adalah dalam semangat sejenis ini sesungguhnya Indonesia sebagai bangsa ditegakkan. Adalah dalam semangat sejenis ini Pancasila sebagai dasar negara kita sepakati.

Kita bukan bangsa di seberang sana yang membedakan mana bumiputera dan mana yang tidak bumiputera. Kita bukan kerajaan nun jauh di sana yang menilai seseorang dari asalnya. Kita adalah bangsa yang menilai seseorang lebih pada kesamaan kehendak untuk bersama dan kesediaan untuk berkontribusi pada pemuliaan tujuan-tujuan kebersamaan itu.

Itulah sebab, dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya kita berbicara soal “di sanalah kami berdiri”, bukan “di sinilah kami berdiri”. Itulah sebab, dalam Sumpah Pemuda kita bersumpah untuk “bertumpah darah satu, bukan bersumpah sebagai “sekumpulan warga sedarah yang bersatu”.

Dalam satunya ketumpahdarahan itu, keIndonesiaan sesungguhnya bukan soal kesamaan golongan darah, kesamaan asal daerah atau kesamaan keyakinan dalam beribadah; melainkan kesamaan tentang di mana darah pertama kita tumpah dan kesamaan tentang ke mana darah terakhir kita hendak tercurah.

Maka alih alih berbicara soal asal, Keindonesiaan sesungguhnya berbicara soal usul. Soal kesamaaan sebagai penduduk, soal kesamaan kita dalam berbagi tujuan, serta soal kesediaan setiap penduduk untuk berkontribusi dalam kebersamaan yang terikat tujuan.

Dalam kaitannya, berbicara kepribumian selain mengalihkan kita pada inti persoalan keadilan, sesungguhnya juga menjauhkan kita dari esensi keadilan yang ingin kita capai secara tujuan.

Kita adalah bangsa yang muncul sebagai antitesis pendekatan rasial pemerintahan kolonial dan sekali-kali bukanlah bangsa yang diharapkan muncul sebagai penerus pendekatan rasialnya.

Kolonialisme tidak pernah memutus semangat kita untuk membangun bangsa dalam susunan kerahmatan yang terbuka. Sebaliknya, kolonialisme justru mengajarkan kita tentang betapa berbahaya pendekatan rasial pada umumnya.

Membalik pemahamannya hanya akan mengetengahkan distorsi ahistoris yang berbahaya. Demikian kiranya.

Surabaya, 18 Oktober 2017

JOKO SUSANTO

Dosen FISIP Unair

author