Karya Seni dan Pandangan Hidup Islam

81 views

 

Tempo hari saya datang ke Ngayogjazz untuk menyaksikan salah satu musisi favorit saya, Frau alias Mbak Leilani Hermiasih. Diantara rangkaian lagu dengan musik dan suara khas Frau yang memanjakan telinga, ia menyanyikan satu lagu istimewa untuk mengenang almarhum Mas Djaduk Feriyanto, judulnya Nderek Dewi Maria yang merupakan karangan Mas Djaduk.

Indah dalam partitur dan nadanya, magis karena penghayatan penyanyinya dan tentu saja tidak sekuler. Disaat banyak musisi atau seniman menjunjung tinggi art for art, supremasi kemurnian seni hanya untuk seni itu sendiri. Djaduk dan juga Frau sebagai penganut Katolik taat tidak ragu menghadirkan pandangan hidup Katolik dalam karya seninya.

Sebagai seorang Muslim, saya merasa iri sekaligus kekurangan referensi dalam mencari seniman muslim yang cerdas dalam cipta, rasa dan karsa sehingga bisa menghadirkan karya seni yang indah dalam menghadirkan pandangan hidup Islam. Mentok di Indonesia yang saya temukan hanya Kiai Kanjeng yang musikalitasnya tinggi dan pesan dari lagunya mengena di hati.

Padahal dahulu, karya seni yang canggih yang lahir dari cipta, rasa dan karsa yang paripurna adalah medium Wali Songo dalam memasyarakatkan pandangan hidup Islam hingga hari ini menyebar ke seantero Nusantara. Namun hari ini rasanya aspek estetika dan kebudayaan umat Islam rasanya hambar sekali. Apalagi agama hanya dipahami sebatas hitam putih, halal haram, boleh dan tidak boleh, surga neraka.

Memasyarakatkan pandangan hidup Islam lewat kebudayaan dan karya seni menurut saya amat penting, sebab medium ini mudah dicerna karena menyesuaikan dengan kebutuhan rasa manusia akan estetika. Ia bisa dengan mudah meluruskan kesalahpahaman tanpa perdebatan, baku omong apalagi baku hantam yang dewasa ini justru mewarnai wacana keberagamaan umat.

Sebagai contoh, diantara karya seni yang dengan ciamik bisa menghadirkan pandangan hidup Islam ialah Sohibu Baiti yang merupakan lagu kebangsaan Kiai Kanjeng yang diciptakan oleh Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Mbah Nun. Dalam senandung itu kita disadarkan akan Allah yang merupan Sohibul Bait atau tuan rumah dari diri kita yang Ia ciptakan, masyarakat kita, bahkan negara. Kita diajarkan bagaimana agar benar-benar menghadirkan Allah sebagai tuan rumah, bukan sebagai pembantu yang kita panggil hanya ketika butuh sesuatu, atau satpam yang kita panggil ketika kita sedang butuh pengayoman.

Ada lagi yang menarik, kali ini justru dari Jiran yakni Raihan, lagu-lagunya yang mendayu benar-benar ampuh mengajarkan kita banyak pandangan hidup Islam dengan lirik yang sastrawi. Saya yakin banyak diantara kita yang menggemari dan punya kenangan dengan lagu-lagu Raihan, setelah itu mana ada grup nasyid yang bisa menandingi Raihan dalam kedalaman lirik dan senandung yang menggetarkan hati.

Baru-baru ini Palestina kembali bergejolak, kita sebagai muslim bangun lagi, namun kemudian jika kondisi mulai mendingin kita tertidur lagi, bahkan bagi kita tak jarang korban hanya jadi sekadar hitungan statistika, semakin banyak korban jadi pemicu (trigger) semakin besar uang yang terkumpul. Pada akhirnya urusan Palestina atau lebih tepatnya Baitul Maqdis seolah-olah prioritasnya ialah urusan harta. Ada pula yang memandangnya sebagai urusan politik semata, sebab ia mudah memicu sentimen umat Islam, boleh jadi banyak negara yang menjadikan Palestina sebatas dagangan politik untuk memperoleh simpati dunia Islam.

Lalu bagaimana hakikatnya muslim memandang urusan Palestina atau Baitul Maqdis? Raihan dalam lagu untukmu Palestina menegaskan ia bukan soal harta atau politik semata, namun diatas itu semua ia adalah urusan transendental. Hati seorang muslim ketika tertaut kepada Tuhannya akan otomatis tertaut pula pada Tanah Suci Baitul Maqdis. Raihan mengajak umat Islam bertaubat, memperbaiki hubungan dengan Allah, lalu bermunajat dengan rasa hamba, sebab sejatinya amat mudah bagiNya memerdekakan Palestina jika Ia menghendaki. Karena yang paling otoritatif menolong sejatinya bukan uang kita, atau lobby politik negara semata, tapi yang paling utama ialah Sang Pemilik Semesta.

Ah, saya jadi ngalor ngidul bicara, intinya mari kita sebagai umat Islam jangan putus dalam berkebudayaan dan berkesenian, meski sebatas hanya jadi penikmat saja macam saya. Sudah terlalu jauh kita terputus dari hikmah kebudayaan para wali. Kalau cipta, rasa dan karsa tak kita tautkan antara Islam dan estetika, siap-siap “wajah Islam” makin terlihat tak indah dan tak ramah, serta narasi dan tafsir kebudayaan tak menyisakan ruang untuk Islam hadir disana, lalu kita jadi penonton saja, hanya diam sekadar terpana.

Boleh setuju boleh tidak, Wallahu a’lam bisshowab.

 

AHMAD JILUL QUR’ANI FARID

Jurnalis, Alumnus Hubungan Internasional Unair Surabaya dan tinggal di Yogyakarta

author