Karena Hanya China Yang Mau

1111 views
Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Kebijakan, Ir. Agus Hidayat saat memaparkan mengenai topik perkembangan teknologi penerbangan dan antariksa di Ruang Adi Sukadana, FISIP Universitas Airlangga, Rabu (11/5/2016) siang.

Kepala Pusat Kajian Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Ir. Agus Hidayat,M.Sc (tanpa kacamata) saat memaparkan mengenai topik perkembangan teknologi penerbangan dan antariksa di Ruang Adi Sukadana, FISIP Universitas Airlangga, Rabu (11/5/2016) siang.

SURABAYA – Kepala Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Ir. Agus Hidayat, M.Sc hadir dalam Diskusi terbatas di Ruang Adi Sukadana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga.

Dalam diskusi bertajuk “Kebijakan Keantariksaan Nasional dan Internasional” tersebut Agus menyebutkan bahwa Indonesia walau menang teknologi antariksa dengan Malaysia tetapi kalah unggul karena Malaysia kini tercatat telah sukses menerbangkan astronotnya ke luar angkasa.

“Di ASEAN teknologi kita bagus tetapi karena ketiadaan national pride akhirnya kita terkesan jalan di tempat,” ujar Agus, Rabu (11/5/2016).

Selain itu problematika berikutnya adalah kurangnya dukungan elit nasional dan publik terkait isu seputar keantariksaan. Padahal di Amerika Serikat misalnya isu antariksa menjadi salah satu “jualan” para kandidat di momentum pemilihan Presiden.

“Memang harus diakui topik antariksa ini masih seperti menara gading. Makanya kita menyambangi kampus agar bisa mendorong adanya sinergisitas. Jadi arah kajian di kampus dan LAPAN bisa diselaraskan. Tidak berjalan sendiri-sendiri,” imbuhnya.

Isu mengenai antariksa itu memiliki 3 sifat utama yaitu high risk, high cost, high technology. Sehingga amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan mesti dibarengi dengan dukungan elit nasional terutama di pengembangan teknologi yang membutuhkan pendanaan besar.

“Misalnya untuk pengembangan roket. Butuh dana minimal 400 miliar. Belum lagi masalah keeengganan negara maju untuk knowledge sharing dengan kita. Makanya sampai sekarang kenapa China? Karena hanya China yang mau berbagi. Itu dibuktikan dengan penandatanganan kerjasama antara Xi Jinping dan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Negara maju lainnya masih enggan melakukan technology sharing,” tegas Agus.

Ke depan agar isu ini menjadi isu bersama menurut Agus diperlukan pembentukan opini terkait adanya “musuh bersama”. Ia mencontohkan bagaimana misalnya Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dan maju teknologi karena pemerintahnya dengan didukung media dan publik menciptakan ” musuh bersama” yakni Jepang. Bagi Korsel bisa “mengalahkan” Jepang adalah keharusan. Maka tak pelak saat ini mereka mulai bisa menggeser Jepang dalam perkembangan teknologi.

“Amerika Serikat adalah yang paling rajin menciptakan “musuh bersama” sehingga pengembangan teknologinya bisa pesat. Jika dulu ada komunisme saat ini mereka sukses menggiring isu bahwa “musuh bersama”nya adalah kelompok teroris yang punya teknologi. Makanya pendanaan untuk pengembangan teknologi di sana besar dan didukung penuh elit nasionalnya,” pungkas Agus.

Untuk diketahui, terkait perkembangan teknologi perkembangan, Agus menjelaskan saat ini PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tengah memproduksi pesawat utuh jenis N219. Sebuah pesawat berkapasitas 19 penumpang yang bisa dipakai di daerah perintis seperti di Papua yang landasan pesawatnya belum sebagus di Jawa. Ini adalah tonggak bersejarah bagi Indonesia karena sebelumnya hanya memproduksi bagian terpisah pesawat seperti ekor atau sayap. Menurut informasi, saat ini telah ada pesanan sebanyak 100 unit dari maskapai penerbangan domestik.

(bus/bti)

author