KAMMI Surabaya Selenggarakan Diskusi Lintas Gerakan Mahasiswa

Suasana Diskusi Lintas Gerakan Mahasiswa  IBF 2015 di Balai Pemuda tadi malam (FAA/AMA)

Suasana Diskusi Lintas Gerakan Mahasiswa IBF 2015 di Balai Pemuda tadi malam (FAA/AMA)

Surabaya – Ada yang menarik di penyelenggaraan Islamic Book Fair 2015 kali ini. Dalam rangka ikut berpartisipasi pada event akbar ini, Saga Press bekerjasama dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Surabaya mengadakan Diskusi Lintas Gerakan Mahasiswa Islam Jawa Timur dan Bedah buku “Menjaga Nafas Gerakan” karya Gading Eka Puja Aurizki yang juga aktivis mahasiswa. Acara yang dihelat di Balai Pemuda Kota Surabaya, berjalan sukses dan meriah.

Pada diskusi pertama, yang dipandu oleh moderator Faqih Addien Al Haq,  menghadirkan 5 orang panelis mewakili berbagai gerakan mahasiswa Islam, diantaranya: Ahmad Mubarok Abdullah (KAMMI), Kharisma Firdaus (HMI), Ibnu Tsani Rosyada (PMII), Dhani Nur Kholis (IMM) dan Yodhi Setyawan (GP).

Diskusi lintas gerakan ini berhasil menarik perhatian lebih dari 300 pengunjung pameran buku, baik dari kalangan mahasiswa maupun khalayak umum. Kegiatan yang dapat disebut langka ini bertujuan untuk memberikan wacana perjuangan mahasiswa, sebagai bagian dari sumber daya yang strategis untuk membangun bangsa.

Menurut Arif Syaifurisal, Direktur Saga Press kegiatan ini diharapkan mampu memberi ruang silaturahim dan mengungkap kesadaran, peran penting organisasi gerakan sebagai wadah utama kaderisasi yang efektif. Panelis-panelis yang merupakan kader-kader gerakan mahasiswa Islam, pada diskusi semalam juga memberikan penjelasan bahwa organisasi mahasiswa hari ini masih bersifat kritis terhadap pemerintah, selalu bersifaf oposisi dan memberikan tafsir baru terhadap aktivitas dan gerakan mahasiswa hari ini. Hal ini dibuktikan dengan peran organisasi pergerakan mahasiswa yang turut aktif mengawal kebijakan pemerintah, serta berkontribusi terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan. Pertanyaan-pertanyaan kritis dan menggelitik dari moderator membuat para panelis memberikan informasi yang konstruktif terkait dengan kondisi organisasi, serta kegiatan apa yang sudah dilakukan oleh masing-masing gerakan tersebut.

Diskusi tersebut ditutup dengan foto bersama seluruh pengurus dan kader gerakan mahasiswa Islam di panggung IBF. Ditemui di sebelah panggung, beberapa pengunjung IBF pun berharap agar kegiatan-kegiatan gerakan kemahasiswaan seperti ini semakin marak dan seringkali diselenggarakan. (FAA/AMA)

author