Kabinet Antiklimaks

177 views

 

Susunan kabinet yang diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Rabu (23/10/2019) adalah kabinet antiklimaks, hambar, kehilangan sensasi, karena semua sudah dihabiskan oleh Jokowi sendiri.

Dalam beberapa hari terakhir Jokowi memainkan peran utama dalam center stage politik nasional. Ia pemeran tunggal, dan bahkan tidak membutuhkan sang wakil, untuk memainkan peran itu. Ia bahkan sekaligus merangkap peran sebagai sutradara dan sekaligus produser.

Judul opera sabun yang sedang ia mainkan adalah “Who’s the Boss?”, kalau Anda cukup senior untuk mengingat sitcom populer itu di televisi Inggris itu. Dan, para figuran itu dengan takzim menunduk hormat sambil berucap, “Yes, President!” (Kalau Anda ingat “Yes, Prime Minister!“)

Jokowi bermain sendirian, dan dia memainkannya dengan keterampilan seorang maestro. Panggung depan (front stage) dramaturgi politik ia mainkan dengan sangat memesona, dan di panggung belakang (backstage) ia melakukan orkestrasi dengan sangat rapi dan hati-hati. Ia, sang dirijen, melakukan mobilisasi dan kemudian memainkan orkestrasi yang cantik sehingga yang terdengar adalah paduan harmoni.

Dalam permainan simulacra ini Jokowi membuktikan bahwa dia sekelas dewa. Seluruh panggung dia kuasai dengan baik. Dia muncul sendirian di panggung utama. Satu persatu para pemain figuran dia panggil naik ke panggung. Mereka semuanya patuh, manut, sesuai aplikasi kata anak-anak net generation zaman now.

Para figuran itu tampil sesuai skenario di aplikasi, pakaian warna apa yang harus mereka kenakan, jam berapa, menit keberapa, detik keberapa para figuran itu harus menghadap. Bahkan, cara mereka berjalan, cara melambai, dan cara berbicara kepada awak media semua serba diatur sama plek dengan skenario.

Apa yang boleh mereka katakan kepada awak media sudah diatur di aplikasi, siapa saja yang boleh bicara kepada media juga sudah ditulis dalam daftar.

Para figuran bahkan tidak tahu untuk apa mereka diundang, untuk apa mereka datang. Gestur, ekspresi, dan semiotika tubuh mereka bahkan tidak memberikan petanda apapun. Pun tidak ada yang bisa menunjukkan penanda apapun. “Saya diminta untuk membantu Bapak Presiden, dan saya siap membantu beliau,” narasi yang keluar dari mulut mereka ini tidak memberi makna apapun.

Memang, tidak ada yang tahu untuk apa mereka naik ke panggung. Kita disodorkan wajah-wajah yang asing. Seorang wanita mengenakan stelan high-end yang mahal, lengkap dengan clutch Hermes menyeruak di tengah panas Istana. Calon menteri apaan ini? Menteri urusan branded product kali, menteri urusan Hermes kali..? Ternyata si ibu adalah seorang bupati yang hanya dikenal karena tampilannya yang stylish, dan ternyata ia nyelonong sebagai tamu tak diundang. Lumayanlah ada intermezzo ala goro-goro yang lucu di tengah ketegangan panggung utama.

Tak ada yang boleh menonjol dari para figuran itu. Tak ada satu pun. Baju pun harus tanpa warna. Tak ada yang boleh beridentitas. Mereka adalah figuran, pembantu presiden, tanpa nama. Mereka harus menghadap. Mereka harus seba. Tak harus merangkak fisik memang, tapi psichologically mereka bukan hanya merangkak tapi ngesot..

Prabowo, Who? Segera setelah nama ini muncul di panggung ia langsung lumer menjadi bagian dari konformitas, bagian dari groupthink. Ia bagian dari sebuah kesebelasan yang bermain dengan taktik dan strategi yang disusun sang pelatih.

Tidak akan ada lagi aksi individu yang bisa menggiring dan menggocek bola sendirian, meliak-liuk melewati lawan. Semua harus bermain sesuai skema main yang disusun sang manajer, pelatih, yang sekaligus sang kapten yang ikut bermain sekalian.

Bagi-bagi posisi, rata, semua ketawa-ketawa. Yang menjadi pemain inti tersenyum gembira. Yang menjadi pemain cadangan tersenyum getir. Yang tidak lolos seleksi ngedumel di pinggir lapangan. Katanya, pemain yang terpilih adalah pemain yang berkeringat. Tapi, berkeringat pun bukan jaminan untuk bisa terpilih jadi pemain. Ada yang terlihat sudah berkeringat karena capai-capai membelot dari kesebelasan lawan, tapi, alih-alih dapat posisi dalam kesebelasan, dia harus puas menonton dari pinggir lapangan. Nasib.

Yang tidak kebagian peran terpaksa menonton dari pinggir panggung. Tidak semuanya benar-benar berniat jadi penonton di bawah panggung. Tapi, apa boleh buat, mereka tidak kebagian peran. Bahkan, peran figuran kecil sebagai jongos pun tidak mereka dapat. Terpaksalah menonton dari pinggir panggung sambil teriak-teriak. Sayang, jumlah mereka terlalu sedikit. Teriakannya akan sia-sia, nyaris tak terdengar.

Panggung sudah penuh sesak. Drama segera dimulai. Terlalu banyak yang berjejal berebut tempat di panggung itu. Terlalu sedikit yang memilih menonton dari luar panggung. Kalau panggung tak cukup kuat, tak lama akan ambruk, dan drama baru akan segera dimulai.

 

DHIMAM ABROR DJURAID

Wartawan Senior dan Dosen STIKOSA-AWS

author