Jelang Pelantikan Joe Biden yang Masih Mencemaskan

8

 

Jangan membayangkan Amerika Serikat (AS) dibawah kendali Presiden Donald Trump, situasi dan kondisi AS sama dengan Pilpres (Pemilihan Presiden) AS sebelumnya.

Pernah ingat Pilpres mantan Capres antara Trump (Partai Republik AS) dengan Hillary Clinton (Partai Demokrat AS)? Pada tahun 2016, Partai Demokrat AS, empat tahun lalu, setelah sepakat mengajukan Hillary Clinton untuk mengalahkan Donald Trump dari Partai Republik, apa yang terjadi?

Pada waktu itu, istri mantan presiden Bill Clinton unggul “popular vote” Pilpres 2016, namun gagal menjadi presiden wanita pertama AS karena kalah pada perhitungan electoral college.

Kontroversi hasil Pilpres 2016 terus membekas. Intelijen Rusia yang diarahkan Presiden Vladimir Putin diduga berkolusi dengan tim kampanye Trump untuk membantu taipan real estate itu menumbangkan Hillary Clinton.

Donald Trump waktu bersaing dengan Hillary Clinton, ia berhasil menjadi Presiden AS ke-45. Jika dilihat ke belakang, sepertinya tokoh partai politik AS dari Partai Demokrat di dua kali Pilpres (Pilpres 2016 dan 2020) hanya menampilkan tokoh di lingkaran mantan Presiden Barack Obama.

Obama yang nama lengkapnya Barack Hussein Obama II adalah seorang politisi Amerika Serikat yang menjabat sebagai Presiden ke-44. Ia merupakan orang Afrika Amerika pertama yang menempati jabatan tersebut.

Waktu Obama menjadi Presiden AS, setelah terpilih pada Juni 2008, yang diangkat sebagai menteri luar negeri (Menlu) pada tanggal 22 Januari 2009, adalah Hillary Clinton. Ia menjadi Menlu AS hingga 1 Februari 2013. Lalu bagaimana dengan Joe Biden. Ia juga di masa Obama adalah Wakil Presiden AS. Berarti yang dihadapi Trump, adalah orang-orang Obama semasa berkuasa.

Sekarang, meski kerusuhan di Gedung Capitol dianggap sudah selesai dan Presiden AS yang akan dilantik tanggal 20 Januari 2021, adalah Joe Biden bersama wakilnya Kamala Harris, tetapi masih ada ganjalan buat rakyat AS, apakah benar Trump sudah mengubah sikapnya untuk ikut memuluskan pergantian Presiden AS kepada Joe Biden?

Kecemasan ini pula berpacu dengan waktu, di mana anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Ilhan Omar berusaha memakzulkan Presiden AS yang masih berkuasa sekarang ini, Donald Trump.

Sikap Trump yang sulit diterima oleh akal, kadang kala membuat rakyat AS baru-baru ini bisa terpecah belah, meski ia melakukan atas nama seorang presiden yang masih berkuasa, tetapi masih mencemaskan hingga pelantikan Joe Biden dan Kamala Harris berlangsung dengan aman.

Sepertinya rakyat AS masih cemas, apa yang akan dilakukan Trump jelang hari pelantikan presiden terpilih AS Joe Biden tanggal 20 Januari 2021, meski tersisa sepuluh hari lagi dari hari ini. Kecemasan rakyat AS bukan tanpa alasan. Bayangkan, bagaimana sikap seorang Presiden AS yang dirasa membahayakan kepentingan rakyat banyak ketika ia mengancam akan mengerahkan pendukungnya membatalkan rencana pengesahan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46 baru-baru ini.

Setelah timbul korban, sekarang Trump mala ikut pula mengecam kekerasan pendukungnya yang ia buat. Terlepas dari kegagalan membujuk Wakil Presiden AS Mike Pence agar ikut perintahnya membatalkan upaya pengesahan tersebut.

Semuanya nampak jelas di depan mata, ketika Gedung Capiton Hill tempat anggota Kongres AS bersidang dipenuhi para pengikut Trump yang ingin membatalkan agenda penegasan kembali Joe Biden sebagai Presiden AS, empat tahun berikutnya. Gedung itu diserbu para pengikut Trump, bahkan Trump sendiri berpidato yang ingin agar wakilnya, Mike Pence mengubah hasil kemenangan Joe Biden.

Usaha Trump gagal total, bahkan wakilnya sendiri, Mike Pence tidak mau mentaati apa yang dikatakan Trump.

Resolusi Pemakzulan

Resolusi pemakzulan terhadap Trump sudah dirilis dan ditandatangani anggota Parlemen.

Jumat, 8 Januari 2021, Resolusi pemakzulan terhadap Presiden AS Donald Trump telah ditandatangani oleh beberapa anggota Parlemen.

Melansir “The Denver,” Resolusi untuk memakzulkan Presiden Trump telah ditulis dengan lebih dari belasan anggota DPR mengawal dan menandatangani resolusi serta tindakan tersebut.

Langkah itu dilakukan sehari setelah pedemo pro-Trump yang anarkistis menyerbu Capitol Hill di Washington DC, membuat para anggota parlemen berlindung dan aparat menyemprotkan gas air mata serta tindakan penghalau lainnya di gedung tersebut.

Anggota DPR yang bernama Ilhan Omar pada Rabu malam mengetwit bahwa dia sedang menyusun lembar pemakzulan. Pada Kamis, dia mengunggah tulisan tersebut, “Kita harus bergerak cepat untuk mencopot presiden ini (Trump) dari jabatannya.”

Seruan Trump terhadap Menteri Luar Negeri Negara Bagian Georgia, Brad Raffensperger, pada 2 Januari lalu dan tindakannya terhadap pedemo pro-dirinya pada 6 Januari dijadikan sebagai dasar pemakzulan.

“Donald John Trump telah menyalahgunakan kekuasaan sebagai presiden dengan mencoba secara ilegal membatalkan hasil pemilihan Presiden November 2020 di Negara Bagian Georgia,” ungkap artikel tersebut tentang seruan Trump pada 2 Januari yang direkam dan dibagikan oleh media.

“Donald John Trump telah menyalahgunakan kekuasaan sebagai presiden untuk memicu kekerasan dan mengatur percobaan kudeta terhadap negara kita,” artikel selanjutnya menyatakan tentang tindakan sang presiden pada 6 Januari 2021.

Kita tunggu, apakah Donald Trump berhasil dimakzulkan, atau ia membuat ulah baru jelang atau di acara pelantikan, atau hingga 20 Januari 2021, situasi AS boleh dikatakan aman?

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Wartawan Senior