Jalan Tunjungan, Mau Dibawa Ke Mana?

37
Adrian Perkasa
Adrian Perkasa

Rencana revitalisasi Siola sebagai salah satu ikon Jalan Tunjungan yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Surabaya menjadi isu hangat beberapa pekan belakangan. Gedung Siola akan dimanfaatkan sebagai kantor beberapa Dinas di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, Pusat UKM, dan Museum Kota. Pemkot berharap dengan mengaktifkan kembali Siola, kawasan sekitarnya yakni Kawasan Jalan Tunjungan dapat menggeliat kembali sebagai pusat perdagangan dan jujugan bagi warga Surabaya maupun wisatawan. Tak sedikit pula warga Surabaya yang berharap dan berekspektasi banyak atas rencana Pemkot tersebut. Pertanyaannya kemudian mau dibawa kemanakah Kawasan Jalan Tunjungan?

Surabaya dan Pusat Perbelanjaan

Howard Dick dalam bukunya, City of Work, menjelaskan bahwa Kota Surabaya pernah menjadi pusat perekonomian yang penting pada masa Hindia Belanda. Jika dibandingkan dengan Batavia dan Bandung, aktivitas perekonomian Surabaya selangkah lebih maju. Hal tersebut terjadi terutama karena aktivitas industri gula yang saat itu merupakan komoditas penting dalam perdagangan global. Pabrik–pabrik gula yang telah eksis sejak abad XVIII di Surabaya dan sekitarnya adalah daerah pemasok kebutuhan gula bagi pasar Asia dan Eropa.

Kebijakan baru tentang agraria dan industri gula yakni Agrarische Wet dan Suiker Wet yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870, membuat industri gula di Jawa semakin menggeliat. Kebijakan tersebut meretas jalan bagi semakin luasnya peran pihak swasta dalam perekonomian Hindia Belanda. Para pengusaha dan calon pengusaha dapat memperoleh kontrak atas suatu wilayah dalam jangka waktu hingga 75 tahun lamanya. Khususnya bagi pengusaha gula semakin mendapat banyak keleluasaan dalam melakukan ekspansi usahanya. Disebutkan dalam peraturan tersebut bahwa adanya keharusan swastanisasi perusahaan–perusahaan gula milik negara.

Semakin berkembangnya industri gula milik perorangan atau swasta di Jawa Timur menarik semakin banyak kedatangan orang luar daerah untuk bermigrasi ke wilayah ini. Ditambah pula dengan makin pesatnya perkembangan infrastruktur yang menunjang industri gula yang membutuhkan berbagai keahlian khusus dan membuka beragam kesempatan kerja baru. Terdapat peningkatan jumlah pekerjaan dan pendapatan di sektor industri gula pada periode ini. Para pekerja ini tidak hanya berasal dari daerah Hindia Belanda saja melainkan juga dari negara–negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, dan lainnya.

Surabaya sebagai kota terbesar di Jawa Timur tentu mendapatkan keuntungan dari meningkatnya perekonomian masyarakatnya. Dengan adanya pelabuhan Tanjung Perak yang menjadi saluran utama arus keluar masuk komoditas, kota ini berkembang semakin pesat. Terusan Suez yang dibuka pada tahun 1869 juga menjadi katalisator meningkatnya arus keluar masuk orang dan komoditas di Tanjung Perak. Toko dan pusat perbelanjaan di Surabaya mulai banyak dibuka periode ini. Jalan Tunjungan sebagai jalan utama di kota ini ternyata menarik minat para investor untuk membuka usahanya. Berawal dari Toko Serba Ada milik seorang Inggris yakni Robert Laidlaw, disusul kemudian Toko Serba Ada lainnya yakni Aurora yang terletak pada ujung lainnya Jalan Tunjungan, kawasan ini kemudian kondang sebagai pusat perbelanjaan utama di Jawa. Toko milik Laidlaw tersebut kemudian berubah namanya beberapa kali hingga saat ini dikenal sebagai Siola.

Kejayaan Jalan Tunjungan sebagai pusat perbelanjaan di Surabaya mulai menurun sejak terjadinya krisis ekonomi dunia pada tahun 1930–an. Malaise yang pada awalnya terjadi di Amerika Serikat tersebut ikut memukul perekonomian Surabaya. Di sisi lain dengan semakin banyaknya daerah lain yang memasok kebutuhan gula dunia seperti Cina dan Kuba, membuat sektor perindustrian Surabaya yang dominan ditopang oleh industri gula kian terpuruk. Masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia juga semakin memperburuk keadaan ekonomi Surabaya. Tidak banyak lagi aktivitas perdagangan yang dilakukan. Perusahaan–perusahaan multinasional yang berkantor di Surabaya juga mengalami nasionalisasi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Kenangan Masa Keemasan Jalan Tunjungan

Sejarah kejayaan Kawasan Jalan Tunjungan memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Surabaya. Memori tersebut setidaknya terekam dalam sebuah lagu karya Is Haryanto yang berjudul “Rek Ayo Rek”. Meskipun bukan seorang warga Surabaya, rupanya pencipta lagu ini sangat memahami bagaimana kejayaan Jalan Tunjungan di masa lalu masih melekat bagi warga Surabaya di era tahun 1970–an. Masyarakat pada umumnya tentu tidak akan menyangka bahwa pencipta lagu ini bahkan tidak pernah tinggal di Surabaya. Hanya saja kebetulan sosok yang mempopulerkan lagu ini pertama kali, Mus Mulyadi, adalah penyanyi kelahiran Surabaya. Dalam berbagai kesempatan di Surabaya, khususnya kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan, lagu “Rek Ayo Rek” selalu ditampilkan.

Memori kolektif masyarakat Surabaya akan masa keemasan Tunjungan kembali diproduksi dengan hadirnya pusat perbelanjaan modern yakni Tunjungan Plaza. Kehadiran pusat perbelanjaan dengan konsep baru yang telah berdiri sejak 1986 ini memberikan warna baru bagi kawasan Tunjungan. Walaupun tidak secara persis terletak di Jalan Tunjungan, pemakaian nama Tunjungan pada plaza ini semakin menguatkan memori kejayaan kawasan Tunjungan bagi masyarakat Surabaya. Perkembangan pusat perbelanjaan ini kemudian meningkat pesat hingga dibangun menjadi sebuah kompleks perbelanjaan modern terbesar di Surabaya. Sebuah superblok juga direncanakan akan hadir tahun ini untuk melengkapi kompleks tersebut.

Proses produksi dan reproduksi memori kolektif atas masa keemasan Tunjungan masih sering dilakukan baik oleh Pemerintah maupun pihak swasta. Seperti misalnya pada beberapa hajatan yang digelar Pemkot Surabaya selalu memanfaatkan Jalan Tunjungan entah sebagai rute utama sebuah konvoi, pawai, dan parade maupun sebagai tempat “sakral” dalam memperingati peristiwa perobekan bendera Merah Putih Biru di atas Hotel Yamato yang kini bernama Hotel Majapahit. Pihak swasta juga kerap mengadakan kegiatan seperti gelaran “Pasar Malam Tjap Toendjoengan” yang mau tidak mau pasti semakin mengukuhan memori masyarakat Surabaya terhadap Kawasan Tunjungan.

Berkaca dari kuatnya memori kolektif masyarakat Surabaya terhadap kawasan Tunjungan dan beragamnya pemanfaatan baik dari Pemerintah maupun pihak lain, adalah keniscayaan jika para pemangku kepentingan ikut terlibat dalam proses revitalisasi kawasan ini. Meskipun memang secara realistis akan sangat sulit untuk menyamakan visi seluruh pemangku kepentingan di sana, namun keterlibatan mereka sangat penting mulai dari sisi perencanaan hingga implementasi. Tidak hanya seniman ataupun budayawan saja yang harus dilibatkan, namun juga pihak pengusaha hingga masyarakat pada umumnya juga dapat berpartisipasi dalam menentukan akan dibawa kemanakah Kawasan Tunjungan ke depannya. Dengan semakin banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat, maka impian bersama untuk mengembalikan masa kejayaan Kawasan Tunjungan Surabaya bukanlah suatu mimpi yang tak dapat dicapai. Semoga!

ADRIAN PERKASA

Direktur Eksekutif Indonesian Heritage Trust