In Memoriam Terbakarnya Masjid Al-Aqsha dan Penguasaan Israel Atasnya

19

ilustrasi. (foto: istimewa)

Hari ini, 21 Agustus 2020, sudah tentu umat Islam di dunia tidak pernah melupakan peristiwa 51 tahun yang lalu, yaitu terbakarnya Masjid Al-Aqsa di Jerusalem.

Tepatnya pada hari Kamis, tanggal  21 Agustus 1969, pukul  9.30 waktu setempat, Radio Israel secara resmi mengumumkan suatu peristiwa yang sangat menyayat hati umat Islam, bahwa  Masjid Al-Aqsha telah terbakar. Nyala api kebakaran  itu sendiri, katanya  terjadi  mulai kira-kira  pukul 7.15, kurang lebih dua jam sebelum radio itu menyiarkannya.

Sudah tentu umat Islam  seluruh dunia, termasuk Indonesia marah dan mengecam siapa yang  membakarnya, karena masjid itu terletak di Jerusalem, wilayah yang dikuasai Israel.

Umat Islam sudah  tentu  marah  kepada Israel.  Oleh karena itulah, negara-negara Islam  bersatu membentuk OKI , Organisasi Konferensi Islam. Itulah awal mula OKI dibentuk.

Umat Islam di dunia menganggap penting Masjid Al-Aqsha ini, karena dari masjid ini, Nabi Muhammad SAW mengawali Mi’rajnya. Tempat ini namanya tercatat juga dalam  kitab suci  Al-Qur’an.

Sekarang, umat Islam sudah tentu bertambah prihatin setelah menyaksikan kesepakatan UEA (Uni Emirat Arab) dan Israel yang memberi kunci kepada Israel untuk menguasai Masjid Al-Aqsa.

Kesepakatan UEA dan Israel itu memunculkan protes dan UEA dinilai menghianati perjuangan rakyat Palestina.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perjanjian damai antara Uni Emirat Arab dan Israel.

Menurut Direktur Pusat Islam dan Urusan Global Turki yang berbasis di Istanbul, Turki, Sami al-Arian meyakini, kesepakatan baru UAE dan Israel merupakan penyerahan total pada salah satu masjid paling suci di seluruh dunia Muslim, Al-Aqsa. Al-Arian mengatakan, situasi seperti yang diterapkan oleh penguasa UEA atau siapa pun, memberi Israel kunci ke Al-Aqsa dan Yerusalem, adalah pengkhianatan, tidak hanya kepercayaan yang telah diberikan kepada dunia Muslim lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tetapi juga untuk perjuangan dan rakyat Palestina.

Meski mendapat tantangan, beberapa pemimpin negara seperti Presiden Mesir Adel-Fattah al-Sisi dan pemerintah Oman dan Bahrain memberi dukungan mereka terhadap perjanjian normalisasi UEA dan Israel.

Arab Saudi sebelumnya didesak oleh Amerika Serikat agar menjalin hubungan diplomatik dengan Israel mengikuti langkah UEA. Tetapi Arab Saudi menegaskan tidak akan mengikuti jejak UEA dalam membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Saudi mengatakan tidak akan sepakat memiliki hubungan kerja sama dengan Israel sampai telah menandatangani perjanjian perdamaian yang diakui secara internasional dengan Palestina.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior