Front Bersama Eropa Melawan Politik Islam

68
(foto: istimewa)

 

Rencana Presiden Prancis Emmanuel Macron membentuk “Front Bersama Eropa Melawan Politik Islam,” memperoleh dukungan dari Kanselir Austria Sebastian Kurz.

Austria dan Prancis sama-sama terletak di Benua Eropa yang secara geologis dan geografis merupakan sebuah semenanjung atau anak benua. Pemisahannya sebagai benua lebih dikarenakan oleh perbedaan budaya. Batas utara adalah Samudera Arktik, di barat adalah Samudera Atlantik, dan di selatan dibatasi oleh Laut Tengah.

Dalam pernyataannya, Kanselir Austria itu mendesak sesama pemimpin Eropa untuk membentuk front bersama melawan apa yang oleh sebagian pemimpin disebut “politik Islam.”

“Saya mengharapkan diakhirinya toleransi yang dipahami secara salah dan semua negara di Eropa akhirnya menyadari betapa berbahayanya ideologi politik Islam bagi kebebasan kami dan cara hidup di Eropa,” kata Kurz kepada surat kabar Jerman “Die Welt.

“Uni Eropa harus lebih fokus pada masalah politik Islam pada masa depan,” jelas Kanselir Austria tersebut.

Pernyataan Kanselir Austria Sebastian Kurz muncul beberapa hari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron dinilai menghina agama Islam serta menyudutkan Nabi Muhammad SAW (Shalallaahu Alaihi Wassalaam). Peristiwanya terjadinya ketika seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal beberapa hari setelah mendiskusikan dan memperlihatkan gambar yang disebutnya sebagai Nabi Muhammad SAW.

Samuel Paty, seorang guru yang berusia 47 tahun dibunuh oleh seorang pemuda 18 tahun asal Chechnya. Saat itu korban dalam perjalanan pulang usai mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Conflans-Sainte-Honorine, tidak jauh dari ibu kota Paris.

Setelah peristiwa tersebut, Emmanuel Macron berkomentar, di mana ia bermaksud menjunjung hak kebebasan bersuara di Prancis, tetapi justru dianggap telah merendahkan Islam. Maksudnya untuk menghapus radikalisme di negaranya kemudian dinilai sebagai upaya pembelaan terhadap penghinaan Islam.

Melalui akun Twitter asli: @EmmanuelMacron, ia menuliskan beberapa cuitan klarifikasi dalam bahasa Arab.

خلافاً لكثير مما سمعت وشاهدت على وسائل التواصل الاجتماعي في الأيام الأخيرة، فإنّ بلدنا ليس لديه مشكلة مع أي دينٍ كان. وجميع هذه الأديان تمارَس بحرية على أرضه. ليس هناك وصم: فرنسا متمسكة بالسلام وبالعيش معاً.

—Emmanuel Macron (@EmmanuelMacron) October 31, 2020.

“Saya tidak akan pernah menerima bahwa mereka bisa membenarkan kekerasan. Saya percaya bahwa misi kami adalah untuk melindungi kebebasan dan hak kami,” tulis Macron dalam cuitannya.

Aksi Protes Bermunculan

Aksi protes bermunculan di negara-negara Islam. Peristiwa ini seakan-akan mengingatkan kita pada Salman Rusdhie. Ia adalah pengarang sejumlah buku berkebangsaan Inggris dan bertempat tinggal di Inggris. Ia juga merupakan seorang pengarang penting di akhir abad ke-20 yang terkenal karena campuran unik antara sejarah dan realisme magis dalam karyanya.

Di masa Iran masih dipimpin spiritual tertinggi Iran Ayatullah Khomeini, maka berdasarkan fatwa yang dikeluarkannya, Salman Rushdie dijatuhi hukuman mati. “The Satanic Verses” adalah salah satu karya Salman Rushdie. Novel yang diterbitkan pada 26 September 1988 oleh penerbit Viking Penguin ini telah memicu gelombang protes besar di berbagai dunia,  terutama di dunia Muslim.  Ini gara-gara isinya yang secara terang-terangan menghina Islam dan Rasulullah.

“The Satanic Verses” –diterjemahkan menjadi ‘Ayat-ayat Setan’– menyulut kontroversi dan polemik berkepanjangan. Rushdie pun harus bersembunyi demi menyelamatkan nyawanya. Ia juga harus bercerai dari istinya.

Untuk itu, selama tiga dekade, Salman Rusdhie perlu memakai nama palsu, meninggalkan tanah kelahiran, dan membutuhkan penjagaan aparat saat menghadiri acara di luar rumah. Tetapi sekarang? Ini pernyataannya:

“Saat itu usiaku 41 tahun. Sekarang 71. Kondisinya kini sudah baik-baik saja. Kita hidup di dunia di mana topik perbincangan berubah dengan sangat cepat. Dan ini (fatwa mati) adalah topik yang sangat lampau. Ada banyak hal yang lebih patut dikhawatirkan—dan orang lain untuk dibunuh.”

Agama Islam memang sering disalahtafsirkan. Terakhir, Amerika Serikat telah membentuk Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Pada masa kampanye Calon Presiden Amerika Serikat, di mana mengantarkan Donald Trump mulai menjabat tanggal 20 Januari 2017, ia mengatakan, bahwa Barack Obama semasa menjadi presiden, adalah orang yang bertanggung-jawab membentuk ISIS.

“Mereka menghormati Presiden Obama. Dia pendiri ISIS,” ujar Donald Trump dalam kampanye di Florida pada hari Rabu, 10 Agustus 2016.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Wartawan dan Sejarawan Senior