Fenomena Berdamai Dengan Virus dan Relaksasi PSBB

191

Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah penambahan kasus terkonfirmasi positif per hari ini Kamis (21/5/2020) pukul 12.00 WIB bertambah 973 orang sehingga totalnya menjadi 20.162 kasus sedangkan pasien sembuh menjadi 4.838 setelah ada penambahan 263 orang dan kasus meninggal menjadi 1.278 dengan penambahan 36 orang.

“Hari ini meningkat 973 orang. Peningkatan ini luar biasa dan peningkatan inilah yang tertinggi,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (21/5/2020).

Dalam keterangan yang sama kemarin, Jubir Pemerintah juga mengatakan hal yag sama, bahwa kemarin itu kenaikan terkonfirmasi terinfeksi adalah tertinggi sejak adanya Covid-19. Hari ini lebih tinggi lagi, kita tidak bisa memastikan apakah esok lebih tinggi, stagnan, atau berkurang.

Disisi lain, kita lihat angka kematiannya (case fatality rate), masih stabil di 6,3% dan ada cenderung menurun sementara angka yang sembuh sekitar 24%, yang relatif masih rendah dibandingkan di negara-negara yang kena pandemi Covid-19.

Apakah ada hubungannya peningkatan tajam terinfeksi Covid-19, sebagai hasil berdamai dengan virus, sebagaimana yang ditawarkan pemerintah, dibarengi dengan longgarnya PSBB dan moda transportasi?

Jawaban ya ada, dan sejauh mana pengaruh dari hubungan tersebut, tentu memerlukan uji statistik correlation regression analysis. Tapi biar mudah kita pakai ilmu penerawangan saja.

Hari ini, semua orang tentu sudah paham, kalau dilakukan ujian akhir semester (UAS) sekarang, mahasiswa atau siswa akan mendapatkan nilai 100. Apa itu? Pemahaman tentang virus penyebab Covid-19 itu tidak bisa berkembang biak dengan sendirinya, tetapi memerlukan sel hidup yang disebut dengan inangnya. Jadi mobilitasnya, tinggi atau rendah tergantung inangnya (manusia). Jika manusianya sadar ada virus dalam tubuhnya walaupun OTG (Orang Tanpa Gejala), berdiam diri di kamar selama 14 hari, sambil jaga imunitas dengan asupan makanan yang bergizi, bervitamin (A,B,C,D,E), maka tubuh memproduksi bala tentara yang tangguh melawan pasukan novel coronavirus yang berasyik ria di saluran pernafasan dan bergerak terus ke paru-paru sebagai tempat persemaian yang abadi.

Dalam pertempuran 14 hari itulah, nanti diketahui siapa pemenangnya. Jika usia masih muda, produksi immunitasnya luar biasa, virusnya bisa kocar-kacir dan mati dalam pertempuran. Tidak bisa melarikan diri, karena inangnya tetap di kamar, dan tidak membuat kontak fisik dengan ,manusia lainnya. Tetapi jika sudah usia lansia, dan pemborong berjenis penyakit katastropik (komorbid) bisa jadi pemenangnya sang virus, dan manusia itu tewas. Karena tewas, selnya menjadi mati, maka virus itu ikut mati juga.

Yang menjadi persoalan besar, jika OTG itu tidak sadar akan kondisinya sedang OTG, atau menyimpan virus di tubuhnya tapi baru tahap awal, tanpa disadari. Ada gejala, tapi tidak dicermati dan disadari. Pergi belanja, beli makanan untuk buka puasa, banyak kerumanan orang, tidak ada jarak, pakai masker seadanya, diletakkan dibawah dagu, tawar menawar, bersenggolan, maka saat itu virusnya akan berpindah inang dengan sukaria.

Pergi ke Tanah Abang, belanja pakaian untuk hari raya, berdesak-desakkan, maka hal yang sama terjadi juga seperti di tempat pasar jual makanan.

Di stasiun kereta api (KRL), pengawasan lebih ketat untuk menrerapkan physical distancing, tapi ternyata ada juga yang lolos dari pemantauan, karena sudah memang niatnya menghindar, dengan keyakinan dirinya “aman”, karena tidak sadar sedang OTG, atau masih tahap awal masuk virus.

Kenapa hal ini bisa terjadi, yakni masih banyaknya kerumunan yang begitu gencarnya diberitakan di TV, di pusat pasar, mall-mall, stasiun KRL terminal pesawat, walaupun di ingatkan untuk melakukan protokol kesehatan, bahkan perlu ada surat kesehatan. Banyak ditemukan surat kesehatannya palsu. Begitulah kondisi masyarakat yang katanya ingin menuju new normal (normal kebaruan) yang terjadi saat ini.

Kalau kita mau jujur, masyarakat ini prinsipya patuh. Mari kita cermati, saat diberlakukannya PSBB 10 April 2020 di Jakarta, selama 2 minggu pertama. Kita merasakan suasana di Jakarta berubah. Jalan-jalan sepi, mall-mall tutup, pusat pasar di segel, rumah makan dan rstoran tutup, pusat hiburan tutup, dan masjid tidak ada yang sholat Jumat. Kita merasakan langgengnya Jakarta seperti suasana lebaran.

Pemerintah Pusat dan Pemda DKI Jakarta, secara simultan membagkan sembako. Oleh karena itu minggu lalu, Tim Gugas Covid-19, menyatakan bahwa DKI Jakarta, tren wabah mulai menurun. Pemerintah Pusat bahkan menyatakan kita harus berdamai dengan virus corona. Pak JK, menjawab, “jika virusnya nggak mau berdamai, bagaimana?” Ya korban tetap berjatuhanlah Pak.

Kemudian ada wacana yang dilemparkan oleh Pemerintah Pusat untuk melonggarkan PSBB. Menurut saya bukan lagi wacana, sudah action dengan keluarnya kebijakan Menteri Perhubungan (Menhub), untuk relaksasi moda transportasi mulai 7 Mei 2020, dengan tetap berpedoman protokol kesehatan. Ternyata protokol kesehatan itu, banyak dilanggar, dan di beberapa titik lokasi keberangkatan dan kedatangan, pemantauannya terkesan longgar.

Jangan heranlah, baru wacana saja, masyarakat sudah duluan melakukan relaksasi sendiri, dengan berbagai situasi yang diutarakan di atas. Bisakah kita menyalahkan masyarakat. Jangan lupa, masyarakat kita ini, masih paternalistik. Jika kata Presiden, berdamai dengan virus corona, ayo mari berdamai. Caranya bagaimana? Versi masyarakat, ajak itu virus jalan-jalan bersama inangnya. Maka relaksasi PSBB menjadi inisiatif masyarakat, walaupun pemerintah baru wacana.

Saat ini, dengan semakin menggilanya jumlah manusia yang terinfeksi, menjelang lebaran ini diingatkan lagi bahwa PSBB masih berlaku, lupakan relaksasi PSBB. Sesuatu yang susah dilupakan masyarakat, yang sudah jenuh dalam suasana PSBB.

Sikap standar ganda pemerintah, dirasakan masyarakat dan menjadi pembicaraan di dalam rumah saat mereka buka puasa, nonton TV. Banyak omongan penyelenggara negara itu, mereka rasakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Ada perbedaan situasi di atas panggung, dengan di belakang panggung. Virus corona menikmati situasi itu, dan terus meningkatkan cakupan kepesertaan lawan perangnya yang terinfeksi.

Jika seperti ini kebijakan yang terus dilakukan. Banyak pihak yang menduga kita sedang menuju pada strategi Herd Immunity, dalam membangun perdamaian dengan virus corona.

Semakin lemahnya kekuatan tenaga medis “memerangi” virus untuk menyelamatkan manusia, sehingga sudah sampai pada sikap pasrah, dengan menulis poster “Indonesia Terserah”, nyaris akan menjebolkan pertahanan di paling akhir hidup matinya manusia. Jika mereka melepas upaya kuratif, karena tidak ada jaminan tenaga medis itu selamat jiwanya, ya selanjutnyas terserah anda. Berlaku hukum Herd Immunity.
.
Apa dampak dari Herd Immunity? Antara lain, yang jadi umpan tewas adalah para lansia, dengan atau tanpa penyakit bawaan (komorbid). Yang immunitasnya sudah tidak optimal lagi. Herd Immunity ini, sepertinya upaya memutuskan rantai generasi. Apakah kebijakan Menteri BUMN, meminta karyawan usia dibawah 45 tahun sesudah lebaran masuk kerja juga bagian dari memutus rantai generasi tersebut. Susah kita menjawabnya.

Kapankah Berakhir Covid-19?

Menurut saya, jawabannya mudah saja. TERGANTUNG KITA SEMUA. Apa yang kita hadapi hari ini, merupakan buah kelakuan kita kemarin-kemarinya. Jika perilaku belum berubah, tidak cuci tangan, tidak pakai masker, masih berkerumun, tidak pelihara kesehatan, tidak makan yang begizi, tidak makan vitamin-vitamin untuk imunitas, masih senang berjalan-jalan yang tidak penting, hasilnya jumlah masyarakat yang terinfeksi semakin meningkat.

Agar berbagai syarat protokol kesehatan itu dilaksanakan dengan baik, pemerintah tidak lagi hanya mengimbau. Pemerintah ya perannya memerintah. Tidak cukup memerintah, tapi harus jadi role model, menjadi contoh bagaimana melaksanakan PSBB dengan baik.

Jika kedua hal itu, disiplin masyarakat, dan pemerintah yang memerintah dan menjadi role model dilaksanakan, maka tugas tenaga medis akan lebih ringan. Mereka bekerja dengan suka cita, bersemangat untuk menghancur leburkan virus corona dan menyelamatkan nyawa manusia. Saat itulah kita dapat tata kembali masyarakat baru yang kita sebut dengan New Normal. Semoga.

CHAZALI H. SITUMORANG

Pemerhati Kebijakan Publik dan Dosen FISIP UNAS