Fahri Hamzah dan Mei 1998 (Bagian 2)

1347 views

Uraian tentang Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (FK SMPT) menjadi panjang dalam ulasan sebelumnya, dengan seikit porsi atas nama Fahri Hamzah. Sengaja saya memberikan gambaran itu, agar makna kehadiran SMPT tetap mendapat tempat. Aktivis-aktivis mahasiswa yang bergabung dalam SMPT bukanlah “Anak-anak Rektorat” atau “Binaan Penguasa”, dibandingkan dengan kelompok mahasiswa ekstra kampus yang lebih memilih isu-isu kerakyatan seperti Tegak Lima, SMID, Partai Rakyat Demokratik dan lain-lain. Bahwa menjadi aktivis mahasiswa lembaga intra kampus yang formal juga menghadapi resiko yang tak mudah.

Pernah, suatu ketika, saya memberikan pengumuman di Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI) seusai sholat Jumat tentang kehadiran ribuan buruh dari PT Ganda Guna Indonesia. Saya meminta para mahasiswa UI untuk mengawal dan menyambut mereka. Saya lihat ada kawan-kawan saya di barisan buruh itu, yakni Wignyo dan Dita Indah Sari. Saya mengawal mereka sampai ke halaman Rektorat UI. Sorenya, saya dipanggil oleh Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Saya dianggap sudah menyalahi wewenang sebagai pengurus Senat Mahasiswa UI. Saya katakan bahwa saya adalah semacam “Menteri Luar Negeri” dalam SMUI, sehingga siapapun tamu yang datang, wajib bagi saya untuk memberikan sambutan.

Begitu juga dalam kasus pemecatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung oleh Rektor Wiranto Arismunandar. Saya memberikan pendapat dalam mimbar bebas yang diadakan untuk itu. Hampir saja terjadi bentrok fisik antara kelompok saya – antara lain Subuh Prabowo – dengan kelompok Robertus Robert, Ikravany Hilman dan Budi Arie Setiadi. Bahkan, ada mahasiswa FEUI yang menangis. Padahal, usai acara itu, saya dan kelompok Muni kembali rangkul-rangkulan, lalu duduk di kantin Dibawah Pohon Rindang. Bagaimanapun, para aktivis kampus punya cara untuk melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa yang apatis, begitu juga mahasiswa baru. Dengan sedikit pertunjukan teatrikal, perhatian mahasiswa yang apatis bisa diraih.

***

Pertarungan yang benar-benar melibatkan semua tokoh mahasiswa terjadi dalam Pemira SMUI 1996. Seluruh macan kampus bergabung dalam tiga kelompok. Calon-calon Ketua Senat Mahasiswa UI yang munculpun berbobot, yakni Selamat Nurdin, Budi Septriyono dan Subuh Prabowo. Kelompok tarbiyah menggabungkan kekuatan dalam diri Selamat Nurdin (FISIP UI), kelompok aktivis mahasiswa generasi senior merapatkan diri dalam diri Subuh Prabowo (FISIP UI), sementara kekuatan yang melakukan aksi boikot  Pemira 1995 memajukan Budi Septriyono (FT UI). Sistem pemilihan juga diubah, yakni setiap kandidat didampingi oleh senator masing-masing.

Namun, dibalik ketiga kandidat itu, terjadi pertarungan segitiga antara Fahri Hamzah (Selamat Nurdin), Fadli Zon (Subuh Prabowo) dan saya (Busept). Saya dan Kun Nurachadijat yang sama-sama aktivis HMI malah menjadi Senator Nomor Satu dan Senator Nomor Dua bagi Busept. Seluruh elemen gerakan mahasiswa di UI nyaris bergerak, baik dari kalangan ikhwan, anak-anak kantin, anak-anak indepth, aktivis mahasiswa ekstra kampus, sampai senior-senior yang jarang muncul.

Walaupun Subuh Prabowo adalah Sekretaris Umum dari Panitia Pelaksana (OC)  Simposium Nasional Angkatan Muda 1990an: Menjawab Tantangan Abad 21 (SNAM) – dan saya adalah Ketua OC-nya –, ataupun selama ini Subuh dianggap sebagai bodyguard dan panglima perang nomor satu saya dalam setiap konflik dengan kelompok mahasiswa yang lain, saya sama sekali tak menjadikannya sebagai masalah personal. Sampai kapanpun saya dan Subuh, pun dengan Fahri, Fadli dan aktivis-aktivis mahasiswa lainnya, tetaplah sahabat dalam semesta almamater kami. Jika saya lebih banyak tampil orasi dengan membaca puisi, pun perawakan seperti Soe Hok Gie yang kurus; Subuh dianggap adalah representasi dari Hariman Siregar waktu muda.

***

Saya dan Subuh dikenal sebagai duo sejoli Soe Hok Gie – Hariman Siregar. Dari semua kawan selama menjadi aktivis mahasiswa UI, Subuhlah yang benar-benar menjadi muntahan segala macam persoalan saya, begitupun sebaliknya. Tak jarang kami “berdebat” dengan cara memegang kerah leher masing-masing. Bagi Subuh yang memang anak Tanjung Priok itu, saya adalah aktivis mahasiswa paling lugu, naif dan bodoh. Lembaran catatan harian saya paling banyak membeberkan dialog-dialog kami, termasuk soal-soal asmara, ahaay. Keputusan Subuh untuk kemudian menjadi sahabat Fadli Zon, bukan berarti tanpa perdebatan. Terdapat beberapa kawan lain yang mencoba berbisik yang ajaib-ajaib kepada saya.

Sejumlah puisi saya tulis untuk Subuh. Tapi, sekali lagi, hubungan saya dengan Subuh sama sekali tak ditingkahi adu kuat dalam politik. Bagaimana bisa adu kuat? Saya sering menguji seberapa luas saya memiliki nilai-nilai humanitas. Subuh? Silakan ia terus menjadi Ares, Dewa Perang Yunani. Kehadiran Subuh paling dipercakapkan dalam kelomopok Busept. Setiap ada informasi yang tak sesuai dengan fakta, atau hanya analisa efek kurang tidur, sudah pasti saya patahkan. Kalau ada yang perlu pandangan berbeda, saya pasti mengontak Bagus Hendraning.

“Kalian ini kayak orang pacaran saja, bertengkar terus. Mana pacar juga tidak punya, hidup kayak bergolak terus. Ngapain sih ribut-ribut?” begitu kata Bagus. Bagus memang adalah tokoh yang lebih banyak mengakurkan kami berdua. Di samping senior, latar belakang Bagus tentulah jadi alasan. Saya masih ingat tempat tinggalnya yang elite: Taman Alva Indah. Sudah kaya, humoris, gembrot lagi.

Subuh hanya patah arang kalau sudah menyangkut asmara. Berbulan-bulan saya menemaninya mengejar seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UI. Mahasiswi itu adalah anggota kepanitiaan kamidi SNAM. Bagi saya yang setiap hari dikelilingi mahasiswi-mahasiswi cantik di Hollywood van UI, tentu merasa heran dengan pilihan Subuh. Mahasiswi yang ia taksir itu berperawakan mirip Polwan, gagah, tinggi dan tak berkulit putih. Kalau sudah soal yang satu ini, saya bisa makan dua kali sehari ditraktir oleh Subuh. Sebaliknya, Subuh juga dengan bahasa jorok menanyakan hubungan saya dengan pacar saya satu-satunya sebagai Piala Pemira 1995: Faridah Thulhotimah.

“Emang kalau lu pacaran dengan Ida, gimana? Sudah ngapain aja?”

“Ngisi Teka Teki Silang. Setiap hari beli buku TTS dan mengisinya di jalan,” jawab saya.

“Terus? Pegang tangan doang?”

“Woi, gini-gini gue masih ikhwan. Lagian, Nyokap Ida kan Bu Hajah,” kata saya.

Sementara hubungan saya dengan Selamat Nurdin relatif baik. Dia salah satu Ketua Senat Fakultas yang paling baik dalam beretorika. Di luar dia, saya tentu mengenal hampir seluruh Ketua Senat Fakultas dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Kalau yang flamboyan, tentu Yaswin Iben Sina, Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Yang banyak melucunya Indra Kusuma, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UI, Wakil Ketua dalam SNAM. Kehadiran Selamat Nurdin sebetulnya tak terduga. Semula, saya menangkap infomasi bahwa yang maju adalah Fahri Hamzah. Entah mengapa, Fahri dinilai tak terlalu mewakili karakter ikhwan kampus. Saya pikir Fahri malah meradang, mengingat perannya yang membesar dalam era Komaruddin. Rupanya Fahri masih tegak lurus, tak lantas bergabung juga dengan Afdeling B bersama saya. Fahri menjadi Campaign Manager (CM) Selamat Nurdin dan mulai unjuk gigi kemampuan orasinya dalam panggung-panggung kampanye. Kalau dihitung, Pemira SMUI 1996 adalah kali kedua Fahri menjadi CM. Ya, pas Fahri menjadi CM di FEUI untuk Komaruddin, melawan CM saya Rama Pratama dalam Pemira SMUI 1995.

***

Fadli Zon? Ini sebetulnya juga kehadiran kedua setelah Pemira SMUI 1994 yang dimenangkan oleh Zulkieflimansyah. Waktu itu, Fadli hendak tampil sebagai salah satu calon Ketua Harian SMUI. Ia sudah membangun kekuatan bersama para senior, termasuk Nadya Madjid dan tandemnya: Reni Budi Lestari. Belakangan, Fadli mundur. Ia muncul dengan istilah “fasisme relegius” terhadap kalangan ikhwan kampus. Fadli memang pengguna istilah-istilah yang aduhai. Kepada kelompok kiri yang kembali membicarakan Pramodya Ananta Toer, Fadli menggunakan istilah “puber ideologi”. Beberapa kali saya bentrok dengan Fadli dan Pak taufik Ismail, ketika buku “Prahara Budaya” dibedah di kampus-kampus. Padahal, saya dan Fadli mulai berteman – dengan catatan bahwa Fadlilah yang mengajak saya menjadi temannya – ketika ia menjadi CM Calon Ketua Senat Mahasiswa FSUI Pandji Kian Santang. Satu pertanyaan saya kepada kandidat lawan dari Pandji di Ruang II3, dianggap Fadli sebagai “pertanyaan yang membunuh dan mengalahkan kaum kiri” di FSUI.

Barangkali, sikap Fadli itu dilandasi oleh ketidak-tahuan hubungan saya yang unik dengan kelompok merah dan kelompok hijau di FSUI yang notabene adalah senior-senior saya. Dua sosok utamanya adalah Arfandi Lubis (almarhum) dan Mustafa Kamal. Kedua orang senior ini rajin meminjamkan buku-bukunya kepada saya. Arfandi meminjamkan buku-buku kiri, Kamal meminjamkan buku-buku kanan. Sebaliknya, Arfandi dan Kamal saling bertukar buku. Dan saya menjadi murid dari dua kutub yang berseberangan ini selama bertahun-tahun sampai Arfandi meninggal dunia akibat kangker usus.

“Bagi Arfandi, saya adalah Abu Bakar Siddiq. Sementara dia sendiri: Umar bin Khattab,” begitu kata Mustafa Kamal kepada saya.

Makanya, saya tak berada dalam posisi yang taat, ketika memandang persoalan. Info yang saya dapat, kenapa saya gagal menjadi Asisten Dosen di Jurusan Ilmu Sejarah FSUI – sebelum Rektorat UI me-Lemhannas-kan saya – adalah “Indra itu seorang Marxis.” Sementara saya tak peduli dengan anggapan itu. Toh Muhammad Hatta juga dituduh sebagai seorang Marxis oleh para penuntutnya di Belanda, ketika Hatta mengeluarkan tulisan-tulisan krisis anti kolonial. Marxis, sepanjang ia hanya bagian dari pola pikir (dialektika, tesis, anti tesis, sintesis, dan seterusnya), bagi saya bukanlah sistem ideologi yang patut ditakuti. Karena itulah, saya pernah mengirim sebuah kolom ke Majalah Gatra, tempat kolom Fadli dimuat dalam edisi sebelumnya. Judul yang saya tulis: “Hegemoni Intelektual Karl Marx”. Sayang, artikel saya itu tak dimuat dan hanya menjadi bahan diskusi teman-teman saya yang membacanya.

***

Busept? Ia hanya seorang yang diangkat para elite kelompok independen dan sebetulnya anti-SMUI ke panggung Pemira SMUI 1996. Ia jago berdiskusi, tetapi tentu tak sehebat Gatot Priyo Utomo, kawan saya yang juga anak FTUI. Saya sering berdiskusi dengan Gatot di kostan Syamsul Hadi. Gatot (FTUI), Syamsul (FISIP UI) dan saya adalah tiga orang yang haus ilmu, namun gelagapan kalau sudah bicara asmara. Gatot asal Lampung, Syamsul asal Ciamis yang melakoni ilmu-ilmu laduni yang tak masuk akal. Belakangan, Syamsul jadi lulusan terbaik dari Hosei University di Jepang, padahal ketika melamar tak bisa sepatahpun berbahasa Jepang. Sayang, ia meninggal dunia dalam usia muda, yakni bulan Oktober 2014 lalu. Disertasinya menjadi disertasi terbaik yang menjadi rujukan sejumlah kepala negara, guna menghadapi krisis ekonomi 1998. Saya dan Gatot menangis bak anak kecil pas tahu kematian mendadak Syamsul.

Dan saya juga perlu tulis bahwa Syamsul, Rizal Ramli, Romo Magnis Suseno dan Thamrin Amal Tomagola adalah “Sidang Akademis” yang memutuskan agar saya terjun sebagai politisi pada tahun 2009. Saya mungkin tulis ini lain kali.

Banyak trik hitam dan trik putih yang dipakai selama proses kampanye Pemira SMUI 1996 itu. Ada kejadian “kwitansi Muslih” seharga jutaan rupiah sebagai sumber dana yang dituduhkan kepada Busept yang hampir memunculkan perkelahian massal. Setiap hari, saya dijaga oleh beberapa orang mahasiswa-mahasiswa sangar FTUI sebagai Senator Nomor Satu. Kalau berkumpul di Posko Busept dekat kampus Fakultas Hukum UI, saya yang tidur di atas dipan, sementara Busept dan lain-lain tidur di lantai. Penjagaan kepada saya jauh lebih hebat dari Pemira SMUI 1995. Paling banter, dalam Pemira SMUI 1995 itu, ada seorang anak pejabat polisi yang sekarang menjadi pengacara yang bakal teriak, kalau ada sikap bermusuhan dari kelompok mahasiswa lain.

“Siapapun yang berani menyentuh IJP, gue tembak!” itu saja katanya. Dia memang membawa beceng alias pistol bapaknya ke kampus untuk mengawal saya.

(Saya jadi ingat, almarhum ayah menegur saya. “Kamu kenapa jadi aktivis? Yang kamu hadapi anak-anak jenderal,” kata ayah saya. Saya dengan enteng bilang ke ayah saya, “Yah, anak-anak jenderal itu yang menjadi bodyguard saya.”)

Walau tak ada beceng dalam Pemira SMUI 1996, bukan berarti tanpa ada senjata. Ada pedang dan clurit yang digunakan untuk berjaga-jaga. Seingat saya, sejak era Dewan Mahasiswa tahun 1970-an, mahasiswa UI yang intelek dan jenius itu sudah membekali diri dengan senjata-senjata tajam tiap kali ada pemilihan. Syukurlah, semua senjata itu hanya bagai pedang-pedangan dan pisau-pisauan yang dipakai oleh punakawan dalam panggung Srimulat di layar televisi: Semar, Petruk, Bagong dan Gareng.

Singkat cerita, Selamat Nurdin menang. Busept kalah 500 suara. Celakanya, Subuh hanya mendapat 500 suara. Jadilah Subuh (dan Fadli) sebagai pihak tertuduh yang menghalangi Busept menjadi pemenang. Andai Subun tidak maju, Busept menang. Hanya saja, kalau ada yang memakai logika otak atik atuk itu ke saya, saya juga bawa hasil Pemira SMUI 1995: Andai Munis C.s dan Busept C.s tidak melakukan boikot atau golput, maka saya akan menang melawan Komaruddin. Bagaimanapun, saya tentu salut dengan quickly count yang muncul sebelum kotak suara dibuka itu. Sepolitis-politisnya anak UI, sepandir-pandirnya sebagai politikus kampus, tetap saja matematika jalan. Buktinya? Sebaran suara masing-masing pendukung sudah ada di masing-masing CM.

Dua kali Fahri Hamzah menang dari saya, dua kali juga ia menjungkalkan Fadli Zon – tentu termasuk psywar agar Fadli tak maju dalam Pemira SMUI 1994 –. Dalam drama dua kali itu, dalam hubungan kami bertiga, saya tetaplah berada di tengah-tengah keduanya. Fahri atau Fadli tak bisa menginjak jempol kaki saya. Saya? Tentu bisa, mengingat kalau condong ke salah satu di antara keduanya, terma yang digunakan Fadli bisa hidup, sekaligus juga bisa mati.

Hmmm, fasisme relegius… Puber ideologi.

(Bersambung)

 INDRAJPILIANG

Ketua Dewan Pendiri Sang Gerilya Institute

author