Enzo, Islam dan TNI AD

64 views

 

Berawal dari viral beredar video Panglima TNI berbahasa prancis dengan seorang pria tampan berwajah bule bernama Enzo Zens Allie. Video ini juga di unduh dibeberapa laman resmi puspen TNI dan juga tersebar melalui jejaring sosial media facebook dan Instagram.

Awalnya berbagai pujian jamak mewarnai komentar para netizen Indonesia. Baik kepada Panglima TNI maupun kepada si anak muda Enzo yang kemudian diketahui berdarah prancis itu. Bahkan, viral ini juga diselingi dengan ‘viral tandingan’ prajurit TNI AD bernama kopral Rusdian Rusman yang ternyata, walaupun berpangkat rendah (tamtama) tetapi juga menguasai 8 bahasa asing seperti bahasa inggris, prancis, spanyol, italy, portugal, arab, dan china.

Viral video yang mengundang perhatian netizen Indonesia ini tiba-tiba berubah menjadi ajang cacian, sumpah serapah, bahkan ajang sensasi para politisi dan tokoh nasional ketika setelah itu juga beredar photo Enzo dengan berpose menggunakan bendera tauhid. Bendera kebanggaan ummat Islam dunia sejak zaman Rasulullah SAW. Namun bendera ini di Indonesia sekarang ini sedang sibuk distigmakan oleh sekelompok manusia Indonesia seolah sebuah bendera atau symbol menakutkan. Dengan mengkaitkannya dengan bendera organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), sebuah organisasi Islam yang dulu juga mirip nasib partai Masyumi, HMI, yang dibubarkan sepihak oleh pemerintah dizaman PKI berkuasa di era Soekarno.

Padahal, MUI dan para ahli, serta ulama sudah menjelaskan (di ILC TV ONE) bahkan juga sudah ada pernyataan resmi tertulis dari Majelis Ulama Indonesia, bahwa bendera hitam dengan kalimat tahuhid Laillah hailallah (Tiada Tuhan Selain Allah) itu bukanlah bendera HTI. Tetapi adalah bendera tauhid sebagai symbolnya persatuan Islam diseluruh dunia yang langsung bersumber dari hadist Nabi Muhammad SAW.

Kalau yang berkomentar sinis itu adalah para politisi yang teraviliasi dengan PKI wajar, macam cacing kepanasan memanfaatkan momen ini untuk kembali serang ummat Islam (karena memang sudah tabiat PKI itu membenci Islam).

Namun sangat sayangkan, si anak muda yang telah lulus seleksi Akmil TNI AD ini juga dibully dan minta dipecat oleh para tokoh bangsa yang bahkan bergelar profesor dan berpangkat jendral. Seakan mereka berlomba untuk bersuara nyaring atas nama Pancasila dan NKRI meminta Enzo dipecat dari taruna Akmil TNI AD.

Untung Kasad TNI AD, Jendral Andika tegas mementahkan akrobatik para tokoh bangsa dan politisi ini dengan menyatakan, Enzo tetap bisa melanjutkan pendidikan taruna Akmil TNI AD seperti rekannya yang lain, dan meminta para pihak untuk tidak intervensi mekanisme internal TNI AD. Karena jendral berwajah ganteng dan bertubuh kekar bak binaraga ini menjamin bahwa panitia seleksi internal TNI AD sudah teruji puluhan tahun, dengan mekanisme yang ketat untuk menyaring siapa putra/putri terbaik bangsa yang layak untuk menjadi taruna pendidikan militer paling bergengsi di Indonesia ini.

Apalagi setelah dijelaskan, ternyata nilai dan hasil test Enzo berada diatas rata-rata. Baik ujian jasmani, rohani, dan kesadaran bela negara (mental ideologi)nya.

Dengan komentar tegas dari Kasad TNI ini, membuat para pihak yang sebelumnya nyaring bersuara bak klason mobil di terminal bus yang macet, sedikit mulai menciut dan berkurang. Namun apakah permasalahan ini akan berhenti sampai disini ? Penulis menjawab tidak. Disinilah yang menurut penulis menarik untuk kita telaah dan cermati bersama. Apa sebenarnya yang terjadi dibalik ini semua. Apakah benar Enzo yang diserang sedemikian rupa adalah sasaran tunggal ? Kemana sebenarnya arah pisau opini ini sedang diarahkan ? Apa motif terselubung dibalik heboh ini ? Dan pihak mana saja yang sedang bermain dan mengambil momen manfaat ??

Berikut penulis mencoba menganalisis dan menterjemahkan benang merah dan bayangan kepentingan (hantu) yang bermain dibalik ini semua sebagai berikut :

1. Yang mereka serang itu sebenarnya adalah bukan Enzo. Tetapi symbol bendera tauhid ummat Islam. Nah lho kenapa ? Kok bisa ? Apa tujuannya ? Tentu akan banyak pertanyaan lagi dari kita semua.

Ada program besar yang sedang berjalan di Indonesia. Yaitu, bagaimana menjadikan Islam sebagai agama terbesar di Indonesia menjadi musuh negara. Islam yang dimaksudkan disini adalah, Islam yang ummatnya tidak mau patuh, tunduk, ikut dengan kemauan mereka. Maka kelompok Islam yang seperti ini mereka sebut kelompok Islam radikal, fundamentalis, bahkan lebih sadis lagi teroris.

Program besar yang kotor dan jahat seperti ini secara global sebenarnya sudah tak laku lagi dibelahan eropah dan amerika. Namun di Asia (uighuyur China, Myanmar-Rohinya) termasuk di Indonesia program ini semakin dapat angin namun pemainnya bukan lagi barat secara intens dan spesifik tetapi pihak China komunis yang punya kepentingan besar untuk merealisasikan program BRI (Belt and Road Initiative) khususnya di Asia-Afrika yang mereka klaim sebagai tanah baru jajahannya secara internal.

Indonesia sebagai ‘pasak’ dari kawasan Asia Tenggara mempunyai nilai strategis dan objek penentu China untuk menguasai Asia. Dan China tahu, benteng utama bangsa Indonesia ini sejak zaman kerajaan, sebelum kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan itu adalah ummat Islam yang terkenal fanatis dan militan. Jadi kalau ingin menguasai Indonesia, secara etnisentris kultular rakyatnya, maka hancurkan dulu Islam yang ada didalam dada rakyat Indonesia. Jauhkan mereka dari agamanya.

Caranya ? Yaitu dengan membangun stigma negatif terhadap apa saja atas nama symbol, ajaran, tokoh Islam secara masive disetiap momen dan saat apapun. Agar Islam seolah buruk dan jahat dimata Ummatnya sendiri. Baru setelah itu melakukan maping (pemetaan) dan memecah belah barisan ummat Islam dengan modus ; kalau tokoh dan kelompok Islam itu tidak mau tunduk dan patuh pada mereka akan dicap radikal, teroris, jahat dan dijauhi (isolasi).

Tapi bagi tokoh, kelompok yang ikut, patuh dan tunduk dengan kepentingan mereka akan disanjung-sanjung, dipuja-puji slogan jadi ‘bapak bangsa’, tokoh moderat, serta plus panggung, fasilitas jabatan dan produk duniawi lainnya. Agar setelah itu ummat Islam terpecah belah dan saling cakar, saling hujat satu sama lain.

Cara seperti ini sebenarnya juga pernah dilakukan penjajah Belanda kepada orang tua kita terdahulu. Bagi siapa yang berjuang melawan Belanda akan di katakan extrimis, teroris, pemberontak, radikal, seperti yang mereka sematkan kepada Panggeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, Teuku Umar, serta para pahlawan nasional lainnya.

Namun bagi yang manut dan ikut, akan diangkat jadi Demang, centeng, dan juragan dimasing daerahnya. Apa bedanya dengan sekarang ??

2. Mereka tahu. TNI AD dan ummat Islam ketika masa pemberontakan PKI tahun 1965 mempunyai sejarah gemilang dalam menumpas komunis di Indonesia. Jargon TNI manunggal bersama rakyat juga lekat dimasyarakat.

Untuk itu, penulis melihat seolah ada upaya untuk membenturkan antara rakyat dengan TNI khususnya angkatan darat. Skenario mereka mungkin saja mengharapkan, pihak Mabes TNI AD akan ‘latah’ mengiyakan retak gendang ciloteh (opini) mereka yang secara eksokisit mau menekan TNI AD agar memecat Enzo dan mengeluarkannya dari pendidikan Akmil. Tujuannya adalah, agar ummat Islam dengan kejadian ini marah kepada TNI AD dan kalau bisa berbenturan keras dan konflik dengan TNI. Atau minimal citra TNI anti Islam akan dibangun dari titik isu ini.

Untung hal ini dapat dibaca oleh Kasad TNI dengan jernih dan tidak mau terpengaruh dengan permainan jebakan murahan ini.

3. Menguji soliditas TNI AD, dan memberi sinyal pada publik, bahwa TNI AD sekarang bukan lagi sebuah institusi yang ‘sakti’ dan menakutkan lagi seperti dulu. Topeng reformasi dan supremasi sipil telah memberikan pintu syurga bagi mereka untuk mempreteli kekuatan TNI dari dalam dan luar. Mereka seakan ingin memperlihatkan bahwa mereka sekarang punya kuasa luar biasa sampai TNI pun bisa mereka obok-obok dan dikte sedemikian rupa. Lihatlah saat ini banyak beredar photo-photo polisi dengan anjing pelacak memeriksa ransel prajurit TNI, dan isu ‘democratic policying’, dimana kedepan Polisi akan jadi garda terdepan dalam negara, boleh ditempatkan dimana saja,

Berbeda dengan TNI yang cukup berjaga diperbatasan serta dibarak-barak militer saja. Fungsi teritorial mulai dari Kodam, Korem, Koramil, dan Babins ditiadakan. Sekarang biaya operasional untuk Babinsa pun sudah mulai ditiadakan. Isu ini kuat beredar di pembicaraan keluarga besar TNI.

4. Melakukan scanning, pemetaan, bagi para tokoh mana yang pro dan kontra dengan isu Enzo ini. Bagi yang ‘keras dan nyaring’ suaranya menolak maka tentu akan mendapatkan prevelage khusus nantinya. Jadi jangan heran apabila, ada beberapa oknum dan tokoh yang berjibaku berkomentar menyerang Enzo.

Tapi bagi yang kontra, secara perlahan pasti akan disingkirkan karena dianggap berbeda paham dan jadi ancaman.

5. Meneguhkan doktrin komunis Mao, bahwa “ agama itu adalah candu “. Mungkin sekarang awalnya bendera tauhid yang mereka permasalahkan. Sebentar lagi bisa jadi atribut seperti jilbab, jenggot, celana jingkrang, bahkan AlQuran pun akan mereka permasalahkan. Lihatlah di sosial media saat ini, bagaimana mereka memperolok-olok agama Islam, mengerecoki ajaran Islam, melecehkan symbol Islam, karena sejatinya yang mereka benci itu adalah Islam. Sebagaiamana firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 120 ; Bahwa mereka kaum yahudi dan nasrani bersama orang munafik, tidak akan pernah berhenti memusuhi ummat Islam sampai kita semua berpaling dan mengikuti agama mereka.

Artinya. Upaya membenturkan agama (Islam) dengan negara, agama dengan Pancasila, alergi dengan bahasa syariah dan khilafah, semua itu tak lebih dari upaya mereka untuk membumi hanguskan Islam dari bumi Nusantara. Karena mereka sadar, selagi ada Islam didalam dada masyarakat Indonesia, maka akan tetap sulit dan kendala besar bagi mereka untuk kuasai Indonesia secara total dan penuh. Karena mereka sadar algoritma dan anatomi Islam itu adalah, amar maruf dan nahi munkar. Yaitu akan selalu terdepan untuk melawan setiap bentuk ketidak adilan. Dan Islam sangat jauh bertentangan dengan paham komunis-sosialis-liberalis-atheis yang mereka anut.

Jadi menurut penulis. Heboh isu Enzo diatas itu adalah bahagian kecil dari sebuah fenomonea gunung es yang sedang terjadi dibumi Nusantara bahkan dunia saat ini.

Tinggal jawabannya ada pada masyarakat Indonesia. Apakah masih mau diobok-obok oleh upaya adu domba antara agama dengan negara ? Isu HTI dengan NKRI ? Karena, Pancasila dan UUD 1945 itu bagi ummat Islam Indonesia sudah final. Tidak ada masalah lagi. Kehidupan agama dan bernegara sudah terbingkai indah didalam Pancasila dan UUD NRI 1946 pasal 29 (ayat) 2. Bahwa “ Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk menjalankan agama dan kepercayaan sesuai dengan agama kepercayaannya masing-masing “.

Jadi jangan usik lagi hal ini dengan asumsi liar, seolah menjadikan agama sebagai ancaman, dan bendera tauhid panji kehormatan ummat Islam seolah momok yang menakutkan.

Cukuplah, berhentilah. Masih banyak PR kita bersama terhadap bangsa ini. Mari kita saling hormati perasaan ummat Islam yang mayoritas dinegeri ini. Terima fakta ini dengan dada yang lapang dan mari jaga persatuan kesatuan bangsa ini.

Ingat. Apabila ada pihak yang mau membenturkan antara agama dan bangsa ? Maka yang diuntungkan itu adalah pihak ke tiga yaitu ; PKI. Waspadalah.

Dan mari kita saling menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini dimulai dari diri pribadi. Jangan mau lagi di provokasi pihak politisi dan tokoh oppurtunis yang teriak hanya dalam rangka modus cari perhatian agar mendapatkan jabatan serta fasilitas kekuasaan. Walaupun agama dan persatuan yang mereka korbankan. Wallahu’alam.

Jakarta, 14 Agustus 2019.

 

ANTON PERMANA

Penulis adalah Alumni Lemhannas PPRA LVIII tahun 2018

author