Empat Nomics Cawapres Jokowi 2019-2024 (2)

175 views

 

Bagian pertama sudah mengurai empat role models dalam posisi sebagai Cawapres Jokowi. Keempat nama yang disigi secara ekonomi. Kenapa? Karena dalam tiga kali pemilihan presiden dan wakil presiden (wapres) secara langsung, sosok wapres diambil dari kalangan ekonom atau memahami masalah-masalah ekonomi atau bahkan pengusaha sekaligus. Era Susilo Bambang Yudhoyono – Muhammad Jusuf Kalla (2004 – 2009), era Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono (2009 – 2014) dan era Joko Widodo – Muhammad Jusuf Kalla (2014 – 2019). Walau hanya sebagai “ban serap”, pemilihan sosok Jusuf Kalla dan Boediono tentu bukan tanpa sebab.

Bahkan, paket politikus – ekonom seakan sudah mulai dipolakan sejak era kemerdekaan, ketika Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta dipasangkan sebagai figur dwi tunggal. Seorang presiden bisa saja adalah seorang sopir bis atau pembalap yang memegang kemudi dalam rally Paris – Dakkar. Seorang kernet atau navigatorlah yang memberikan arahan, bahkan ikut serta membelokkan atau bahkan mengerem laju kendaraan. Satu adalah gas, satu merupakan rem. “Kekosongan” figur ekonom atau pelaku ekonomi yang punya visi negarawan seperti Jusuf Kalla dan Boediono (plus Mohammad Hatta atau BJ Habibie dalam arti luas), bakal mengganggu kebijakan-kebijakan strategis yang diambil seorang presiden yang berhadapan dengan palu godam demokrasi multipartai dan kebebasan berpendapat.

Apalagi dalam era kepemimpinan periode kedua, seorang presiden lebih bisa memaksimalkan visi dan misinya, tanpa harus terpengaruh kepada pemilihan berikutnya yang tak dia ikuti. Tapi, kegagalan, apalagi kehancuran di bidang ekonomi, bakal menjadi mimpi buruk dan coreng merah dalam catatan presiden paling populer sekalipun. Sehingga, kesempatan bagi figur politisi manapun yang bersiap atau menyatakan diri siap mengisi posisi sebagai Cawapres Jokowi 2019-2024, layak menengok rekam jejak ataupun isi kepala menyangkut ekonomi dengan segenap turbulensinya.

Dari pertimbangan itulah Empat Nomics muncul sebagai perspektif ekonomi makro. Empat nama yang melintasi usia kemerdekaan Republik Indonesia. Empat nama yang menjadi pesohor di bidangnya masing-masing, lengkap dengan pro dan kontranya. Dari Tan Malaka (1897-1949), Mohammad Hatta (1902-1980), Widjojo Nitisastro (1927-2012), hingga BJ Habibie (lahir pada tahun 1936). Empat nama yang memiliki keharuman dalam puncak pemikiran bangsa Indonesia. Dua orang pernah menjadi Wakil Presiden RI, yakni Mohammad Hatta dan BJ Habibie yang bahkan sempat menjadi presiden pengganti. Widjojo beberapa kali menjadi menteri. Tan? Pernah dipercaya memimpin organ gerilyawan: Persatuan Perjuangan yang beranggotakan Jenderal Sudirman dan sosok-sosok inspiratif lainnya.

Lantas? Dari empat pola atau model dalam pemikiran, pengetahuan dan pengalaman ekonomi itu, sosok seperti apa yang mau diambil Jokowi sebagai Cawapres? Terdapat empat nama yang layak disorongkan. Siapa saja nama-nama mereka?

Nomics Satu: Sri Mulyani Indrawati. Perempuan besi kelahiran 26 Agustus 1962. Nanti berusia 56 tahun pada saat dipilih untuk dipasangkan dengan Jokowi. Sosok ini adalah arsitek utama dalam pembangunan ekonomi Jokowi. Biasanya, dalam masa Orde Baru, triumvirat pembangunan ekonomi terhubung dengan tiga jabatan: Menteri Keuangan RI di Lapangan Banteng, Gubernur Bank Indonesia di Budi Kemuliaan dan Kepala Bappenas di Taman Suropati. Taman Suropati merancang prioritas pembangunan, Lapangan Banteng menyalurkan anggaran pembangunan, dan Budi Kemuliaan mengendalikan sistem moneter dalam fungsi intermediasi.

Keterkaitan Sri Mulyani dengan Widjojonomics lebih dalam aspek keilmuan, dalam arti Fakultas (Pembangunan) Ekonomi Universitas Indonesia. Hampir seluruh ekonom yang disebut sebagai kelompok Widjojonomics adalah tenaga pengajar di F(P)EUI. Diluar itu, ia pernah mewakili pemegang saham Indonesia bersama sejumlah negara kecil di Pasifik dalam International Monetary Fund (IMF). Sri juga salah satu dari tiga orang Managing Director Bank Dunia. Dalam kapasitas sebagai menteri keuangan, baik di era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atau Joko Widodo, Sri mendapatkan sejumlah penghargaan berkelas dunia. Wajahnya yang santai, tak seperti kinerjanya dalam menggerakkan mesin raksasa ekonomi Indonesia yang semula dipandang sebelah mata oleh pihak asing.

Nomics Dua: Airlangga Hartarto. Hampir seumur dengan Jokowi, kelahiran 1 Oktober 1962. Berjarak satu bulan beberapa hari lebih muda dari Sri, menempuh usia 56 tahun pada saat dipilih untuk dipasangkan dengan Jokowi. Bukan saja Airlangga adalah mahasiswa Jurusan Teknik Mesin pertama yang menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakuktas Teknik (FT) Universitas Gajah Mada (UGM), melainkan juga ilmu yang ia timba ketika kuliah serius hingga magister di Australia. Bidang bisnis yang digeluti Airlangga ketika masih bergabung di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada usia 25 tahun juga sarat teknologi, yakni perakitan komputer. Ilmu komputer ini juga yang ia timba di bangku kuliah, selain tentu ilmu manajemen sebagai profesional handal. Ia memasuki industri komputer, manakala mesin ketik manual atau otomatis masih menjadi andalan para mahasiswa dan pekerja profesional. Ia berani bersaing sebagai pengusaha nasional yang berhadap-hadapan dengan kepungan teknologi dari Jepang, Taiwan, Korea dan lain-lain.

Sekalipun ia adalah putra biologis Ir. Hartarto, tetapi dalam kiprah legislatornya, profesionalnya – ketika menjadi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Ketua Dewan Insinyur Indonesia — dan termasuk unit bisnisnya: terhubung dengan pengembangan teknologi tinggi. Sejumlah undang-undang bidang ini lahir dari kepiawaiannya memimpin di parlemen. Airlangga bisa disebut sebagai anak ideologis Habibie, dengan cara “mematenkan” pikiran-pikiran Habibie dalam bentuk regulasi di parlemen. Walau rajin sholat tepat waktu, Airlangga tak memperlihatkan kiprahnya di kalangan cendekiawan Muslim. Perbedaan paling menonjol dari ke-Habibie-an Airlangga adalah ke-UGM-annya. Boleh dikatakan, sosok Airlangga adalah Habibienomics yang dibesarkan di UGM. Ia begitu penuh perhatian kepada masyarakat desa, termasuk dalam bidang ketahanan pangan dan industri yang terkait dengan itu. Namun ia tak banyak menyimpan replika industri di kantor atau rumah dinasnya, selain hadir dalam beragam peresmian atau peninjauan di area-area industri. Habibie? Punya banyak sekali replika pesawat pelbagai bentuk.

Satu persamaan penting keduanya: mengendalikan dan memimpin Golkar (dan Partai Golkar) dalam posisi Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum, dalam situasi krisis politik akibat suksesi yang tak normal dalam tubuh partai. Habibie menggantikan Pak Harto, Airlangga merotasi Setya Novanto.

Nomics Tiga: Rizal Ramli. Ekonom senior kelahiran 10 Desember 1954. Rizal bakal berusia 64 tahun, lebih senior dari Jokowi (sebagaimana dengan Jusuf Kalla), apabila disandingkan dengan posisi sebagai Cawapres. Ia terkenal dengan “Teori Cawan Emas”. Rizal sering mendeskripsikan betapa bangsa Indonesia memiliki banyak cawan emas yang dijajakan kepada bangsa-bangsa asing untuk dieksploitasi. Kiprah PT Freeport adalah contoh yang paling mewakili gambaran Rizal. Dalam lapangan pergerakan mahasiswa, Rizal adalah tokoh ensiklopedis dengan frase menyengat dibalik munculnya pledoi-pledoi Ketua-Ketua Dewan Mahasiswa yang ditangkap pada tahun 1978, bersama almarhum Dr. (Sutan) Sjahrir (Ciil). Rizal juga yang mendirikan sejumlah lembaga think tank seperti INDEF dan ECONIT, termasuk asosiasi Non Government Organization seperti INFID.

Rizal — bersama Todung Mulya Lubis — adalah “peternak NGO” bidang ekonomi, pembangunan dan hukum. Dengan beragam kiprahnya itu, Rizal adalah pengejawantahan dari pikiran dan semangat proteksi ekonomi kebangsaan yang pernah dijalankan Mohammad Hatta. Ia bisa hadir dalam simposium atau seminar internasional yang dipenuhi para ilmuwan. Tapi ia juga bisa ditemukan dalam kelompok-kelompok diskusi kecil, bahkan di daerah-daerah terpencil. Ia tak memilih panggung atau kelas.

Nomics Empat: Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi. Usia termuda, kelahiran 31 Mei 1972. TGB hanya sebulan beberapa hari lebih muda dari saya, yakni 46 tahun, tapi lebih senior dari Mohammad Hatta (terpilih jadi Wapres pada usia 43 tahun), apabila dipilih sebagai Cawapres Jokowi. Ia menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di Universitas Al Azhar, Kairo. Ia juga mengelola pondok-pondok pesantren dengan kurikulum keagamaan yang kental melawan kolonialisme, feodalisme dan mistisisme di kalangan santri-santri Muslim Boemi Poetra. Ayahnya baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden BJ Habibie pada tanggal 17 Agustus 2017 lalu. Kepemimpinannya di Nusa Tenggara Barat selama dua periode telah menunjukkan bagaimana gairah ekonomi santri sama sekali tak bermusuhan dengan dunia moderen.

Saya tidak tahu, apakah kurikukum pendidikan ala “Sekolah Syarekat Islam” Tan Malaka di Semarang juga ikut diajarkan dalam pondok-pondok pesantren modern yang ia kelola bersama keluarganya. Sekali berdiskusi dengannya di kantor Gubernur NTB, terdengar gema ayat-ayat suci Al Qur’an. Apa yang ia telah bangun di NTB, dengan bandara yang bagus, jalanan yang lapang, pohon-pohon yang rindang, serta area-area rekreasi yang bukan ajang pesta dansa-dansi, menunjukkan kinerjanya yang tak sekadar santri. Diluar pribadinya yang relegius, lembut dan logis dalam berpikir, tak ada sama sekali upaya untuk men-syariat-kan pihak lain. Sisi nasionalisme dan relegiusitas bergerak seimbang dalam irama kerjanya.

Patut diingat, betapa keempat nama Cawapres Jokowi 2019-2024 ini bukanlah duplikat dari keempat nama tokoh sebelumnya. Sri Mulyani bukanlah Widjojo, Airlangga tidak sama dengan Habibie, Rizal juga tak kembar dengan Hatta, serta TGB tak mirip dengan Tan. Tiga orang mengalami dinamika kemahasiswaan di UI, ITB dan UGM, pada usia emas masing-masing pada tahun 1970an dan tahun 1980an. Satu orang sama sekali tak mengalami dinamika kemahasiswaan di dalam negeri, tetapi melihat dari dekat perubahan-perubahan di Mesir, termasuk dalam doktrin keagamaannya. Keempatnya mendapatkan pendidikan yang baik di kampus luar negeri, sehingga terbiasa dengan pemikiran yang teramat berbeda dengan kebanyakan masyarakat akademik Indonesia. Keempatnya fasih berbahasa Inggris. Hanya satu yang bahasa Arabnya luar biasa.

Apa yang mereka pikirkan tentulah tak sama dengan keempat tokoh dalam artikel pertama. Generasinya juga sudah berbeda. Airlangga adalah cucu dari perintis kemerdekaan, sementara TGB adalah anak dari pahlawan nasional. Rizal? Di dalam dirinya bertimbun banyak nama genetik dan kerabat dari tokoh-tokoh perintis kemerdekaan dan pahlawan kemerdekaan asal Ranah Minang yang berasal dari komunitas anti feodal yang kecil itu. Hanya Sri Mulyani yang tak mencatat sosok kepahlawanan nasional di pundaknya, tetapi memiliki ayah seorang profesor yang disegani di bidangnya. Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Keempatnya adalah mosaik geneanologi ke-Indonesia-an modern dalam puncak-puncak peradaban bangsa Indonesia yang tak putus dihoyak angin musim dua benua dan dua samudera.

Sebagai seseorang, masing-masing membuat perbedaan. Dalam satu kesatuan, keempatnya bisa mengisi penuh bejana ilmu dan jejaring pengetahuan bangsa ini. Bisa saja salah satu di antara mereka menjadi CawaRI pres 2019-2014, tetapi tak satupun yang layak dikeluarkan sebagai tim yang baik di bidang ekonomi. Posisi bisa dimana saja, di dalam atau di luar pemerintah. Terbang bak rajawali atau bergurau bagai perkutut di area pertunjukan wayang dan pengajian. Empat sosok yang sudah utuh, dengan luka-luka yang sudah sembuh dalam perjalanan hidup masing-masing sebagai manusia. Pun, sebagai pemimpin dalam ranah masing-masing.

(Bersambung)

Catatan: Pandangan dalam artikel ini sama sekali tidak mewakili pandangan lembaga atau organisasi Partai Golkar.

INDRA J PILIANG

Dewan Pakar Partai Golkar

Ketua Dewan Pendiri Sang Gerilya Institute

author