CBA: Maskapai Garuda Terbang Ke Arah Kebangkrutan

298 views

Hasil gambar untuk Garuda Indonesia

 

JAKARTA – Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA) Jajang Nurjaman mengkritisi kinerja salah satu perusahaan pelat merah yakni Garuda Indonesia. Menurutnya gaji besar dan segudang fasilitas yang diberikan pada direksi dan pilot senior Garuda tidak mampu menggenjot kinerja perusahaan yang masuk jajaran bintang 5 maskapai dunia tersebut.

Jajang menjelaskan misalnya pada 2016, Garuda mengeluarkan dana Rp 1,7 miliar hanya untuk gaji satu orang direktur. Dengan jumlah 6 orang direktur saat itu, uang negara yang dikeluarkan dalam satu tahun sampai Rp 20 miliar hanya untuk gaji belum tunjangan lainnya.

“Puluhan miliar uang negara yang dikeluarkan untuk jajaran direksi Garuda ternyata tidak serta merta meningkatkan kinerja perusahaan. Terlihat dari laporan kerja operasional PT Garuda, dimana pertumbuhan penumpang dari tahun ke tahun justru mengalami penurunan,” ujar Jajang, Jumat (11/5/2018) pagi.

Jajang membeberkan bahwa pada kurun 2013-2014, pertumbuhan penumpang Garuda sanggup menyentuh angka 4.174.038 orang dan justru menurun drastis menjadi 3.821.750 penumpang pada kurun waktu 2014-2015.

“Terdapat penurunan yang sangat tinggi sebanyak 352.288 penumpang,” imbuhnya.

Penurunan jumlah penumpang itu menjadi lebih parah lagi pertumbuhan penumpang di tahun 2015 ke 2016, dimana Garuda hanya sanggup menambah 2.038.820 penumpang.

“Ini berarti maskapai penerbangan milik negara ini kehilangan sebanyak 1.782.930 pelanggan. Ini sangat miris,” sesal Jajang.

Kondisi terpuruk Garuda itu membuat Menteri BUMN Rini Soemarno sampai turun tangan dengan mengganti Direktur utama (Dirut) Garuda Arif Wibowo dengan Pahala N. Mansury. Tetapi dalam amatan CBA, kinerja Garuda tetap belum signifikan.

“Pertumbuhan penumpang di tahun 2017 masih mandeg di angka 2.936.181 orang. Ini masih jauh daripada pencapaian periode 2013-2014 yang capai angka 4.174.038 penumpang,” ujarnya.

CBA khawatir terkait merosotnya pertumbuhan penumpang Garuda dari tahun ke tahun tersebut karena bisa terbang menuju pada kebangkrutan. Data CBA menunjukkan bahwa kerugian Garuda pada 2017 lalu ditaksir mencapai angka Rp 2 triliun dan pada akhir Maret 2018 kerugiannya sebanyak USD 67.572.839 atau setara dengan Rp 878 miliar lebih.

“Ini sangat disayangkan karena maskapai kebanggaan masyarakat Indonesia nasibnya terseok-seok jauh tertinggal dari maskapai milik negara tetangga seperti Singapura Airlines,” tandasnya.

(bm/bti)

author