Bulog dan Ahok Jual Daging Murah, APT2PHI Nilai Tidak Layak Konsumsi

Ketua APT2PHI, Rahman Sabon Nama.

Ketua APT2PHI, Rahman Sabon Nama.

YOGYAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pedagang Dan Hortikultura Indonesia (APT2PHI) Rahman Sabon Nama meminta Perum Bulog dan Pemda DKI agar mempertimbangkan kembali kebijakan menjual daging beku murah. Pasalnya menurut Rahman Sabon itu merupakan stok lama sekitar 6 bulan lalu yang diimpor oleh Bulog. Ia mencontohkan di luar negeri terutama Selandia Baru maksimum penyimpanan tidak boleh melebihi 5-6 bulan.

“Kalau di Selandia Baru aturan umumnya tidak boleh lebih dari 6 bulan dan harus dimusnahkan karena tidak layak konsumsi dan membahayakan kesehatan manusia,” ujar Rahman Sabon Nama kepada redaksi melalui sambungan telepon, Kamis (9/6/2016).

Untuk diketahui, saat ini Bulog dan Pemda DKI Jakarta menjual daging murah melalui operasi pasar bekerjasama dengan PD Pasar Jaya. Harga yang dilepas ke pembeli adalah Rp 50.000,-/kg dan Rp 80.000,-/kg. Pihak APT2PHI meminta untuk menghentikan penjualan karena dari informasi masyarakat pedagang, daging yang dijual oleh Pemda DKI dan juga di toko pangan Bulog maupun melalui operasi pasar Bulog dan Kementerian Pertanian itu adalah stok lama yang diimpor oleh PT Berdikari. Menurut data yang didapat APT2PHI, Rahman menjelaskan Bulog enam bulan yang lalu melakukan impor daging sapi beku mencapai 500 ribu ton. Karena kurang laku dijual melalui pedagang dengan sistem subsidi silang atau sistem kawin.

“Metodenya adalah 1000 ton beras Thailand kualitas baik dengan kadar broken 5% dikawinkan dengan 35 ton daging beku. Hal ini juga berlaku untuk 20 ton beras kualitas BCP (beras cadangan pemerintah) dikawin dengan satu ton bawang merah dengan harga Rp 25.000,-/kg,” papar pria kelahiran Nusa tenggara Timur (NTT) itu.

Rahman Sabon menilai cara kerja seperti ini tidak profesional dan harus segera dihentikan karena merugikan petani peternak, pedagang dan masyarakat konsumen. Jika demikian maka menurutnya justru pedagang yang mensubsidi pemerintah dalam hal ini Bulog. Apalagi menurut Rahman Sabon, dari data yang didapat pihaknya, sisa stok daging beku saat ini kurang lebih 80 ribu ton dan perkirakan butuh waktu 2 bulan baru habis terjual. “Kalau berdasarkan rujukan dari Selandia Baru berarti daging itu sudah kadaluwarsa dan harus dimusnahkan,” tegasnya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong telah memberikan ijin kepada sebuah perusahaan swasta untuk melakukan impor sebanyak 27.000 ton. Itu artinya kalau satu ekor sapi timbang hidup beratnya 240 kg, maka nilainya sama dengan 100 ribu ekor sapi.

“Harapan saya dengan impor swasta ini bisa menambah pasokan dan ini harusnya bisa menurunkan harga daging sapi yang terus melonjak karena 27.000 ton ini kemarin sudah masuk di pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta),” imbuhnya.

Dalam pernyataan terpisah, sebelumnya Mendag mengakui bahwa impor daging beku tersebut merupakan sesuatu yang sangat jarang dilakukan pemerintah, sebab dengan struktur perekonomian dan industri peternakan Indonesia, pemerintah seharusnya memang hanya mengimpor sapi bakalan yang kemudian digemukkan.

“Jadi kita mengambil langkah mengimpor daging beku ini, sebetulnya ini langkah ekstrem atau langkah darurat,” ujar Thomas Lembong pada Selasa (7/6/2016) lalu di Istana Negara.

Terkait kebijakan Mendag tersebut, Rahman Sabon sangat menyayangkan karena kuota impor yang diberikan ke swasta tersebut cukup besar yakni mencapai 27 ribu ton. Pasalnya kebijakan Mendag tersebut jelas merugikan petani peternak dan mengganggu industri ternak sapi dan daging olahan.

“Saya berharap kebijakan Mendag itu bisa meredam gejolak harga. Jangan sampai hanya sekedar mencari keuntungan ditengah carut-marut masalah penanganan pangan dan rakyat (konsumen,red) jadi korban. Karena sampai hari ini saja, harga daging sapi di Jawa Tengah dan Yogjakarta saat ini masih tinggi yakni berkisar Rp 125.000,-/kg,” pungkas Rahman Sabon Nama.

(bm/bti)

author