Buku Paus Fransiskus Mampu Mempengaruhi Dunia

54
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Sebuah buku akan berarti bagi pembaca bila memberikan wawasan, gagasan dan pengetahuan baru. Terlebih lagi bagi bacaan kesejarahan, keakurasian fakta dan kronologi peristiwa menjadi kunci utama untuk menarik pembaca.”

Itulah kalimat dalam majalah Panji Masyarakat Nomor 20 Tahun II, 2 September 1998, halaman 82, ketika Pracoyo Wiryoutomo mengulas buku yang saya tulis: “Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia/Grasindo, diterbitkan dua kali, pertama tahun 1998 dan 2008.

Kata-kata Pracoyo itu sekarang terbukti, ketika melalui sebuah buku pula, Paus Fransiskus untuk pertama kalinya menyebut muslim Uigur China.

“Saya kerap memikirkan orang-orang yang teraniaya: Rohingya, orang Uigur yang malang, Yazidi,” jelasnya dalam buku: “Let Us Dream: the Path to a Better Future,” dikutip dari South China Morning Post, Selasa, 24 November 2020.

Buku setebal 150 halaman ini merupakan kolaborasi Paus dengan penulis biografinya, Austen Ivereigh. Buku akan mulai beredar pada 1 Desember mendatang.

Komentar tersebut dilontarkan dalam sebuah bab ketika Paus juga membicarakan soal umat Kristen yang teraniaya di negara-negara Islam.

Sebelumnya Paus Fransiskus telah bersuara soal Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dan pembunuhan warga Yazidi oleh ISIS di Irak, namun ini untuk pertama kalinya dia menyinggung Uigur. Komentar tersebut dilontarkan dalam sebuah bab ketika Paus membicarakan soal umat Kristen, juga sekalugus membicarakan mengenai umat Islam yang teraniaya di beberapa negara seperti masalah umat Islam Rohingya di Myanmar, umat Islam Uighur di RRC dan kelompok Yazidi dari kekejaman gerilyawan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Irak.

Muslim Uighur di Republik Rakyat China (RRC) memang terus menjadi perbincangan dan perdebatan di Indonesia dan berbagai negara di dunia. Kenapa tidak? Bukankah Islam mengajarkan, jika ummat Muslim tersakiti di suatu wilayah, maka kita pun ikut merasakannya ?

Inilah rasa solidaritas di antara sesama ummat Muslim. Di Indonesia, pada hari Jumat, 21 Desember 2018, sebagian ummat muslim dan ada di antaranya Muslim Uighur berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar RRC di Jakarta. Hal ini menunjukkan rasa solidaritas di antara sesama ummat muslim di RRC.

Masalah Muslim Uighur ini sedikit berbeda cara penanganannya, karena terjadi di negara komunis yang akses informasi dan akses seseorang, misalnya seorang jurnalis memberitakan ke luar tidak sebegitu bebas seperti di negara bukan beraliran sosialis.

“Tidak sebegitu bebas,” berarti tidak juga bebas sebebas-bebasnya, karena di setiap negara memiliki intelijennya yang selalu menyaring informasi bila sudah menyangkut kepentingan negaranya, termasuk di Indonesia.

Masalah Muslim Uighur, itu benar menyangkut permasalahan dalam negeri China yang sulit memberikan akses ke dunia luar, karena negara Sosialis. Tetapi dengan bertambah banyaknya kecaman dari berbagai negara, termasuk dari Paus Fransiskus, maka RRC harusnya berbenah diri. Meski ada yang mengatakan, muslim Uighur harus dibedakan antara perlakuan diskriminatif dan kemungkinan adanya radikalisme di wilayah tersebut.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah menduga Agen Intelijen Amerika (CIA) ada di belakang informasi itu, karena memang untuk mengucilkan RRC. Tetapi dengan adanya pernyataan Paus Fransiskus ini menambah kepercayaan bahwa China benar telah melakukan tindakan tidak patut kepada rakyat Uighur.

Pembunuhan Warga Yazidi oleh ISIS di Irak

Selain mengecam soal Rohingya di RRC, Paus juga dalam bukunya mengecam pembunuhan warga Yazidi oleh ISIS di Irak.

Berbicara tentang Yazidi, sudah tentu mengingatkan kita kepada Nadia Murad, perempuan Yazidi, seorang pemenang penghargaan prestise Nobel Peace Prize.

Sejarah hidup Nadia Murad penuh penderitaan. Ia terpaksa melarikan diri ke Jerman setelah ISIS menyerang komunitas minoritas Yazidi di wilayah pegunungan Irak.

Penyerangan tersebut membuat banyak orang Yazidi terbunuh, termasuk ibu dan enam saudara laki-lakinya. Nadia dan lima ribu perempuan Yazidi lainnya akhirnya diculik untuk diperdagangkan sebagai budak seks.

Nadia merasakan berbagai pedihnya penyiksaan sebagai budak seks di kamp ISIS. Mulai dari bentuk perkosaan, pukulan, penyiksaan, dan masih banyak lagi.

Tiga bulan setelah ia diculik, Nadia berhasil melarikan diri. Ia pun berkesampatan mendapatkan program pemulihan dari Jerman, yang kemudian membantunya bertekad untuk menjadi aktivis yang menyuarakan hak asasi orang-orang dan perempuan Yazidi untuk memberantas perdagangan seks.

Nadia Murad dalam berbagai kesempatan selalu menceritakan perjalanan dan pengalaman mencekamnya sebagai budak seks kelompok teroris ISIS. Bagaimana ia berusaha untuk bertahan hidup, perjuangannya untuk kabur, dan kini tinggal di Jerman sebagai aktivis hak asasi manusia.

Perempuan kelahiran 1993 ini adalah seorang aktivis hak asasi manusia Yazidi. Peraih Nobel Perdamaian 2018.

Dari ensiklopedia kita ketahui, bahwa Yazidi adalah kelompok etnoreligius dan berbahasa Kurdi yang mempraktikkan agama sinkretisme yang menggabungkan Syiah dan Sufi Islam dengan tradisi adat rakyat daerah.

Tradisi-tradisi tersebut mencakup unsur-unsur bersama dengan komunitas Kristen dan Mandaean di Timur Dekat, serta dengan yang lebih kuno seperti Gnostik, Marcionit, Zoroastrianisme dan agama awal Mesopotamia.

Mereka ini terutama tinggal di Provinsi Nineveh Irak utara, wilayah yang pernah menjadi bagian dari Asyria kuno. Komunitas tambahan di Armenia, Georgia dan Suriah telah menurun sejak tahun 1990-an sebagai akibat dari migrasi yang signifikan ke Eropa, terutama ke Jerman.

Yazidi percaya pada Tuhan sebagai pencipta dunia, yang ia telah menempatkan di bawah perlindungan dari tujuh “makhluk suci” atau malaikat, “ketua” (malaikat) di antaranya adalah Melek Taus, yang juga “Malaikat Merak.” Malaikat Merak, sebagai penguasa dunia, menyebabkan baik dan buruk menimpa individu, dan karakter ambivalen ini tercermin dalam mitos kejatuhan sendiri secara sementara dari nikmat Tuhan, sebelum air mata menyesalnya memadamkan api penjara neraka dan ia kemudian berdamai dengan Tuhan.

Mitos ini didasarkan pada refleksi mistik Sufi pada Iblis, yang dengan bangga menolak untuk melanggar monoteisme dengan menyembah Adam dan Hawa oleh perintah langsung dari Tuhan. Karena hubungan ini dengan tradisi Sufi Iblis, beberapa pemeluk agama monoteistik lain dari wilayah tersebut menyamakan Malaikat Merak dengan roh setan yang tak ditebus, yang kemudian telah mendorong penganiayaan berabad-abad terhadap orang Yazidi yang dijuluki “penyembah setan”.

Benar bahwa telah terjadi penganiayaan Yazidi terus berlangsung di komunitas asal mereka dalam batas-batas Irak modern.

Pada bulan Agustus 2014 Yazidi menjadi sasaran oleh Negara Islam Irak dan Syam, atau ISIS, dalam kampanyenya untuk “memurnikan” Irak dan negara-negara tetangga dari pengaruh non-Islam.

Lima tahun setelah Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) melancarkan kampanye pembantaian berdarah (genocidal) menentang agama Yazidi Irak sebuah wilayah minoritasnya. Berabad-abad kelompok etnis beragama ini, hidup dalam keadaan darurat sekitar 4000 tahun yang lalu, di mana penduduk aslinya berbaur di Barat Laut pegunungan Sinjar.

Bayangkan, ketika ISIS di sepanjang utara Irak, musim panas 2014, mereka telah membunuh sekitar 1.280 Yazidi dan menculik sekurang-kurangnya 6.400,Yazidi, sebahagian besarnya perempuan dan anak-anak, termasuk  Nadia Murad. Pusat pengungsia penduduk memang dipaksakan di wilayah Kurdistan di Irak.

Ada sekitar 550.000 Yazidi di Irak sebelum tahun 2014, sekitar 100.000 orang telah berimigrasi dan 360.000 tinggal di Irak, di mana sebahagian besarnya perempuan dan anak-anak.

Buku Paus Fransiskus ini memang menarik untuk dibaca, terutama pemikiran-pemikirannya tentang warga Muslim yang masih tertindas di RRC dan Irak.

 

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior