Buku, Label dan Sebuah Tafsir

119 views

 

“Buku mengubah takdir hidup orang-orang”, kata Dominguez dalam karyanya Rumah Kertas –judul aslinya La casa de papel-. Alkisah, seorang wanita berusia 45 tahun pengajar sastra di Universitas Cambridge, Bluma Lennon tewas ketabrak mobil ketika sedang membaca karangan Emily Dickinson, Poems. Sementara itu Carlos Brauer tokoh penting dari La casa de papel, menyendiri ke tepi pantai Rocha setelah indeks buku-buku yang ia buat dilahap api.

Nasib Carlos sangat tragis, ia boyong semua buku-bukunya (saat itu sekitar dua puluh ribu) dan dari buku-buku sebanyak itu ia bikin rumah dari buku-bukunya. Kejadian semisal ini hanya bisa kita temukan dalam karya fiksi. Namun, bukankah bangunan sebuah kisah fiksi dilatarbelakangi dari kejadian nyata?

Lain lagi kisah yang ditulis Miguel Cervantes abad ke-17. Tersebutlah, seorang lelaki tua yang berusia 50 tahun hidup di sebuah pedesaan bernama La Mancha. Alonso Quinjano, kesehariannya hanyalah membaca kisah-kisah pahlawan di zaman klasik. Kelak, ilham dari buku-buku kisah para pahlawan inilah yang akan membawanya kepada sebuah petualangan dan pertempuran. “Aku dilahirkan untuk jadi tauladan nasib malang, sasaran dan arah anak panah untuk disakiti”.

Don Quixote De La Mancha, begitulah nama yang diinginkan oleh lelaki tua nan kurus ini. Memulai petualangannya dengan kudanya, Rocinante. Buku-buku seri para pahlawan telah menyihir akal sehatnya, sehingga keluarga dan orang-orang sekitarnya terheran-heran dan geleng-geleng kepala. Kisah yang ditulis Miguel Cervantes dalam abad ke-17 mampu menggerakan daya imajinasi seseorang dan dari ini pula dunia kesusastraan Barat berkembang.

Syahdan, Manifesto Partai Komunis yang ditulis Marx-Engels, mampu menggerakkan kaum buruh dan pekerja berhasil membuat Rusia pada abad 19 mendirikan negara diktator proletariat pertama yang dipimpin oleh Lenin. Namun, George Orwell dengan karyanya Animal Farm, dicekal dan dibuang dari negaranya karena melakukan sebuah kritik tajam terhadap kekuasaan Comintern (Komunis Internasional).

Ketika Belanda masih kuat cengkramannya terhadap bangsa Indonesia, pada sidang Landrat di Bandung tahun 1931 Soekarno diadili karena memiliki buku Massa Aksi karya Tan Malaka. Diakui oleh Soekarno bahwa Massa Aksi menjadi referensi untuk dia menulis bukunya, Indonesia Menggugat. Dan memang pada rentang tahun 1926 hingga 1930an ketika aksi pemberontakan pertama PKI berhasil digagalkan Belanda, buku-buku yang berbau komunis dilarang. Termasuk tulisan-tulisan Tan Malaka. Dan nanti pada ketika Soeharto berkuasa buku-buku ini kembali dilarang.

“Saya percaya permintaan kepada buku-buku yang ada cukup keras” kata Tan Malaka, “serta nafsu dan keberanian buat mencari atau membagikan buku-buku terlarang cukup besar, tetapi rakyat Indonesia belum lagi sanggup mengatasi tamparan reaksi Belanda”. Perkara buku memang dari dulu sudah menjadi sebuah problem. Problem bagi suatu pemerintahan dan kekuasaan yang sengaja diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan.

Karya Pulau Buru yang ditulis oleh Pramodeya Ananta Toer pernah menjadi buku “terlarang” pada masa kepemimpinan Soeharto. Buku-buku yang berhaluan kiri diharamkan dan bagi siapa saja yang ketahuan membaca, berdiskusi atau memilikinya akan diciduk dan diadili. Ntah, kenapa sebuah pemerintahan sering kali menciptakan sebuah hantu yang padahal tidak perlu. Dan melabeli sesuatu seenak jidatnya saja. Ah, demi kekuasaan.

“Pada masa kediktatoran militer terakhir di Argentina” tulis Dominguez, “banyak orang membakari buku-buku mereka di toilet, di kamar mandi, atau mengubur koleksinya di bawah fondasi rumah. Buku menjadi sangat berbahaya. Di paksa memilih antara buku dengan hidup itu sendiri, orang-orang memilih menjadi algojonya. Di zaman itu buku-buku membuat banyak orang jadi tertuduh. Buku menjerumuskan mereka”.

Dari buku hidup seseorang bisa berubah. Baik ke hal romantis ataupun tragis. Tapi dalam sejarah kedua sisi itu selalu ada, yang dominan lebih banyak hal yang tragisnya. Abbas Mahmoud Al-Akkad, penyair Mesir lelaki yang tidak tamat sekolah memiliki kecerdasan karena kebiasaannya bergaul dengan buku. Lain lagi dengan Sayyid Quthb. Sastrawan sekaligus aktivis jama’ah Ikhwanul Muslimin ini, karena buku yang ditulisnya, ia dilempar ke penjara dan akhir hidupnya meninggal ditiang gantungan. Kata beliau, ”Kekuatan manakah selain dari kekuatan kata-kata, yang dalam waktu yang menakutkan dan gelap itu telah dapat memecah dinding keghaiban, melampaui batas dan rintangan, dan tertulis dalam catatan abadi kenyataan yang dapat disaksikan itu?”.

Tapi buku adalah buku. Ia hanyalah sebuah kertas dan tinta semata. Yang membuat sebuah buku bisa sebegitu mengerikan, bertenaga dan mampu menghantui para penguasa adalah jiwa para penulisnya.“Para penulis sebenarnya bisa berbuat banyak. Tetapi ada satu syaratnya: mereka mati agar pikirannya dapat hidup. Pikiran mereka itu harus diberi makan dengan daging dan darah mereka sendiri. Mereka harus mengatakan apa yang mereka percayai benar, dan meraka mau menyerahkan darah mereka sebagi tebusan dari kebenaran itu. Pemikiran dan kata-kata kita tetap akan merupakan mayat yang kaku, sampai kita mau mati untuk kepentingannya dan kita sirami ia dengan darah kita. Lalu ia tumbuh menjadi hidup, dan hidup di antara orang-orang hidup” tulis Sayyid Quthb dalam Beberapa Studi Tentang Islam. Mungkin saja, inilah faktor yang terbesar kenapa sebuah buku bisa dilabeli “terlarang”.

HAMDI IBRAHIM
Penyair dan Ketua Komunitas Pojok Sastra

author