BM Diah dan Tugas Jurnalistik ke Rusia dan Irak (10)

952 views

BM Diah Cakrawarta

Jika kita baca berbagai referensi perpustakaan dari tulisan ilmiah, baik di dalam maupun luar negeri, maka dapatlah disimpulkan, serangan ke Irak oleh Amerika Serikat (AS) dan pasukan multinasional, selain dendam kepada Presiden Irak Saddam Hussein adalah juga demi kepentingan minyak.

Dendam, karena AS pernah membantu persenjataan ke Irak ketika terjadi Perang Irak-Iran selama 8 tahun. Di dalam hal bantuan senjata kepada Irak ini, sudah tentu berkemungkinan jenis senjata pemusnah massal boleh jadi ikut juga dalam daftar bantuan tersebut.

Selanjutnya, ketika Irak mulai menganggu Israel dengan menembakkan rudalnya beberapa kali, ke wilayah negara Yahudi tersebut demi membantu perjuangan rakyat Palestina, maka di sinilah AS menganggap Saddam Hussein harus dienyahkan. Dukungan AS kepada kelompok Yahudi bukan kali ini saja terjadi, sejak Perang Dunia II berakhir, AS selalu mendukung kelompok ini hingga mengakui berdirinya negara Israel. Pun sebaliknya lobi-lobi kelompok Yahudi di AS dalam rangka menentukan calon Presiden AS yang akan terpilih, sangat berperan.

Saddam Hussein jika di dunia intelijen dianggap pengkhianat oleh AS. Karenanya, harus dilenyapkan, apalagi Presiden AS George Herbert Walker Bush yang memerintah AS, sebelumnya pernah menjadi direktur agen rahasia AS, CIA. Direktur CIA dijabatnya tahun 1976. Oleh karena itu, ia sangat mengetahui berbagai hal tentang situasi dan kondisi di Irak.

Menurut saya, ini pula yang menyebabkan mengapa ketika AS ingin menyerang Irak, banyak sekali negara membantunya, yaitu 34 negara.

Sebetulnya jika AS dan beberapa negara saja yang menyerang Irak, sudah bisa menghancurkan negara itu. Tidak perlu sebanyak 34 negara melawan hanya satu negara, yaitu Irak.

Menurut saya, AS ingin menggalang opini dunia. Betapa serangan Irak ke Kuwait melanggar hukum internasional. Meski kenyataannya tidak demikian. Hal ini memperoleh reaksi keras di berbagai negara.

Di AS pada waktu itu, berlangsung unjuk rasa terbesar anti Perang Teluk. Di negara-negara lain seperti Jerman dan Australia, ribuan orang berunjuk rasa memprotes perang tersebut. Akibat Perang Teluk, Menteri Pertahanan Perancis waktu itu, Jean-Pierre Chevenement melancarkan protes dan mengundurkan diri pada penghujung bulan Januari 1991.

Sebelumnya di Indonesia, puluhan mahasiswa dari berbagai kelompok melakukan unjuk rasa agar Perang Teluk tidak terjadi. Mereka mendatangi Kedutaan Besar Irak, Arab Saudi dan Amerika Serikat, untuk menyatakan ketidaksetujuannya akan perang tersebut. Bahkan banyak sekali yang ingin mendaftarkan diri sebagai sukarelawan dan bersedia mati syahid melawan AS dan sekutunya.

BM Diah, wartawan, tokoh sejarah dan diplomat ulung Indonesia, malah menuduh Sekjen Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) waktu itu, yang tidak berhasil mengatasi kemelut di kawasan itu. Di dalam tulisannya yang dimuat di buku saya: “Saddam Hussein Menghalau Tantangan, ” halaman 75, dikatakan:

“Setelah Sekretaris Jenderal PBB, Javier Perez de Cuellar selesai berbincang-bincang dengan Menlu Irak, Tariq Aziz-sejak tanggal 31 Agustus hingga 1 September 1990-ia nenerangkan kepada pers dunia bahwa ia ‘kecewa’ dengan pertemuan itu. Ia menerangkan bahwa tidak ada tanda-tanda Irak bersedia menarik diri dari Kuwait seperti diputuskan Dewan Keamanan PBB. Mengapa ia ‘kecewa’? Sekjen PBB ini tidak perlu menyatakan perasaannya demikian. Ia datang, bertemu dengan Tariq Aziz bukan untuk meneruskan dengan muka tegang keputusan Dewan Keamanan PBB, bahwa Irak harus mundur dari Kuwait, kalau tidak dihancurkan.”

Menurut BM Diah, sebelum bertemu dengan Aziz, de Cuellar seyogyanya, sudah harus nengetahui bahwa Presiden Irak Saddam Hussein tidak bisa menerima keputusan PBB itu begitu saja. Seyogyanya pula, ia harus mencari formula, bagaimana mengatasi masalah yang memang sangat pelik dan sulit ini.

Persoalan perang damai, tulis BM Diah, haruslah diselesaikan seperti mencabut rambut dari tepung. Rambut tidak putus, tepung tidak berserakan. Kita tidak menganjurkan supaya ia yang berkompromi.Itu bukan haknya. Sejak 45 tahun berdiri, barangkali tidak pernah terjadi bahwa PBB mengalami masalah sesulit ini. Sampai hari ini, yang dapat diketahui yang bisa menghancurkan Irak hanya angkatan perang AS dan Barat saja. Apakah tidak terpikirkan pula bahwa angkatan perang Irak bisa menghancurkan? Jika tidak ada pemakluman perang oleh AS, maupun dunia Barat, apakah PBB membenarkan memakai segala senjata dan kekerasan untuk perdamaian? Apakah pemakaian kekerasan sesuai dengan prinsip PBB?

Irak sejak awal membenci kolonialisme, sehingga negara itu tergerak untuk masuk ke Kuwait pada tanggal 2 Agustus 1990. Alasan Irak itu lebih ditegaskan lagi di dalam surat pribadi Presiden Irak Saddam Hussein yang ditulisnya tanggal 8 September 1990 untuk Presiden AS George Herbert Walker Bush dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev ketika akan melangsungkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT).

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, sejarawan, dan penulis senior

author