Belajar Humas Di Era Digital Dari Pak Sutopo

242 views

 

Minggu (7/7/2019) dini hari waktu Guangzhou, China, adalah akhir kehidupan duniawi seorang Sutopo Purwo Nugroho.

Selamat jalan Pak Sutopo. Sosok almarhum Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini patut menjadi pelajaran. Sekalipun mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 4, ia tetap loyal dan berdedikasi dalam menjalankan fungsi hubungan masyarakat (humas), sebuah cara dalam mengelola komunikasi antar organisasi dengan publiknya.

Dibalik sosok Sutopo pula, cara pandang banyak orang tentang figur humas berubah. Humas yang dulu dikenal sosok yang parlente, necis, bahkan sedikit glamour kini berubah. Humas tidak harus ganteng atau cantik. Dibalik penampilan Sutopo, fungsi humas “kembali ke khittah” untuk menyajikan informasi dan komunikasi yang lugas dan tidak multitafsir.

Dedikasi Sutopo dalam melayani dan meladeni informasi tentang bencana di Indonesia patut diacungi jempol. Informasi (saya tidak menyebut data) disajikan begitu cepat, akurat, dan lugas. Apalagi di era digital sekarang, informasi yang cepat sangat penting untuk menghindari hoaks. Informasi akurat pun dibutuhkan agar tiap informasi tidak salah dan tidak multitafsir. Lugas hanya bertumpu pada pokok-pokok informasi yang perlu saja, bersifat seperti apa adanya, tidak berbelit-belit, dan objektif. Bahkan di tengah sakitnya, Sutopo seolah berjuang untuk sebuah kebenaran informasi dengan gaya komunikasi yang natural dan sederhana. Figur Sutopo, sungguh telah memberikan pelajaran baru tentang humas di era digital, pelajaran tentang cara menyajikan informasi dan komunikasi di tengah kesemrawutan informasi itu sendiri.

Berangkat dari pengalaman dan praktik. Bahkan Bahkan di tengah pertarungan nama baik seperti sekarang, hubungan masyarakat (humas) atau public relations bolehlah didefinisikan sebagai seni mengelola informasi dan pengertian yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu organisasi. Buat saya itu sah-sah saja. Tapi bagaimana cara bisa mengelola pengertian publik di tengah era kebencian atau kegalauan seperti sekarang?

Maka, saya katakan. Humas itu bukan pengetahuan. Humas pun bukan pelajaran. Lebih dari itu, humas adalah sebuah sikap dan perilaku dalam memberikan informasi kepada publik melalui cara komunikasi yang efektif. Humas pun asal menyajikan data.

Karena ingat, data itu fakta mentah yang tidak punya arti. Sementara informasi itu fakta yang sudah diolah dan memiliki arti. Itu saja prinsip humas, persis seperti yang dipraktikkan Pak Sutopo.

Sementara banyak humas lelet dan sering tidak menghargai waktu, justru Sutopo mengubah “image” itu semua. Di tangannya, humas harus cepat, akurat, dan lugas. Maka untuk mengukur bagus atau tidaknya humas sangat sederhana. Karena humas adalah kinerja plus reputasi dan promosi. Artinya, humas harus bekerja atas dasar “kinerja” alias prestasi kerja sehingga membentuk reputasi yang pantas dipromosikan.

Harus diingat dalam humas, tidak ada reputasi baik yang dihasilkan dari kinerja buruk. Reputasi baik hanya dimiliki orang yang berkinerja baik dan dilakukan berulang secara konsisten. Maka dari reputasi itulah akan ada sebutan tentang “citra” atau “image”. Citra baik hanya lahir dari pemilik reputasi baik. Reputasi baik pun sama sekali tidak bisa direkayasa. Mau dikemas sebagus apapun, reputasi akan bicara seperti aslinya. Humas bukan bilang bisa padahal tidak bisa.

Di balik kepergian Pak Sutopo, ada pelajaran humas yang berharga di negeri ini. Bahwa siapapun dan organisasi apapun, sama sekali tidak perlu bilang orang lain jelek dan kita bagus. Karena yang bagus pasti bagus dan yang jelek pasti jelek. Dan untuk itu, humas akan membuktikannya. Maka fokuslah untuk menghasilkan kinerja bagus bukan berkata-kata bagus.

Lagi pula humas sama sekali tidak bisa didekati secara akademis. Apalagi teoretik dan penampilan fisik. Karena humas adalah pekerjaan lapangan, sesuatu yang harus terjun langsung. Selain butuh sikap, humas adalah perilaku, perbuatan nyata seperti yang dilalukan Pak Sutopo.

Sekali lagi, pelajaran humas dari Pak Sutopo. Bertanyalah kepada diri sendiri. Bila banyak bagusnya maka kita sudah mampu menjadi humas yang baik. Bila banyak orang bicara jeleknya maka kita belum berhasil menjadi humas buat diri sendiri. Jadi humas, adalah kinerja yang tetap pada diri sendiri bukan seberapa jago menunjuk orang lain. Selamat jalan Pak Sutopo.

SYARIFUDIN YUNITA

Dosen Pendidikan Bahasa Unindra

author