Anies Baswedan: Ajarkan Anak Untuk Bangga Pada Polri Bukan Kecaman

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan.

JAKARTA – Ledakan bom di area pusat perbelanjaan Sarinah (Persero) beberapa waktu lalu sangat mengguncang Indonesia, khususnya dari segi pengamanan. Banyak orang menilai penegak hukum “kecolongan” dalam peristiwa itu. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Anies Baswedan lantas menyebar pesanberantai terkait bom sarinah.

Isinya, ia mengajak masyarakat melihat sisi terang dari upaya kepolisian melawan terorisme. Menurut pendiri gerakan Indonesia Mengajar ini, baik teroris dan polisi melakukan segala upaya mencapai tujuan mereka, Polri berusaha menghentikan teroris dan sebaliknya pelaku teror berusaha membuat kekacauan.

“Bagi teroris, mencoba 100 kali dan terjadi 1 kali saja lalu sering disebut sukses. Bagi yang mencegah. Itu dia berhasil mencegah 99 kali; 1 kali terjadi saja, lalu disebut gagal,” tutur Anies dalam pesan berantainya kepada wartawan, Minggu (17/1).

Masyarakat Indonesia, menurutnya harus melihat sesuatu secara menyeluruh. Jangan ketika melihat satu kasus lantas langsung menilai. Apalagi jika di ujungnya melabeli pihak tertentu sebagai pihak gagal atau sukses.

Seperti diketahui, dalam peristiwa sarinah berdarah banyak pihak menilai kinerja Badan Intelijen Nasional (BIN) tidak maksimal, sehingga teroris bisa masuk ke wilayah ring 1. Anies mengajak masyarakat untuk mendukung kinerja aparat. Bukan dengan menjelek-jellekkan mereka.

“Kita harus terus dukung aparat yg sudah berhasil tangkis 99 kali itu. Mereka jalani hal-hal berat, tak terlihat, kerja sunyi dan penuh resiko. Mereka pasang, badan resiko nyawa untuk menyelamatkan kita semua,” imbuh Anies.

Anies juga mengimbau orang tua, sebagai pihak terdekat untuk generasi muda, agar tak selalu membicarakan tentang teroris. Lebih bagus jika orang tua menyebarkan khasanah tentang kinerja polisi indonesia yang berani dan sigap. Hal tersebut lebih bermanfaat karena anak-anak diajari sejak dini bagaimana wujud kebenaran, di kehidupan sehari-hari.

“Dari kejadian teror itu yang diharapkan muncul di anak-anak justru ¬†dari rasa bangga, semangat dan hormat. Bukan rasa takut karena cerita-cerita mencekam atas kekerasan yang dilakukan orang-orang yang tak terduga,” pungkas mantan Rektor Paramadina itu.

(msa/bti)

author