Ahok Dinilai Sebagai Pemecah Belah

1123 views
Pengamat Kebijakan Publik Syafril Sjofyan.

Pengamat Kebijakan Publik Syafril Sjofyan.

JAKARTA – Pasangan dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) kembali menjadi sorotan. Kali ini terkait materi kampanye paslon nomor urut 2 ini yang dinilai kontroversial dan mengandung fitnah. Salah satu kritik atas iklan kampanye kontroversial tersebut muncul dari pengamat kebijakan publik, Syafril Sjofyan. Menurutnya kegaduhan yang timbul akibat materi kampanye Ahok-Djarot yang tengah ramai saat ini dikarenakan adanya isu SARA yang kembali dimainkan oleh tim kampanye paslon petahana ini.

Padahal menurut Syafril dalam berbagai aksi umat Islam di DKI termasuk aksi di pengadilan selama ini tidak pernah mengusung tema anti Cina, tetapi anehnya Ahok dan tim kampanyenya sengaja memilih gambar iklan yang tidak diketahui dimana dan kapan demo tersebut.

“Tapi terlihat jelas dalam iklan kampanye Ahok-Djarot tersebut pesannya bahwa seakan aksi-aksi umat Islam adalah anti cina, bukan anti Ahok sang penista agama,” ujar Syafril Sjofyan kepada redaksi cakrawarta.com, Senin (10/4/2017) sore.

Untuk diketahui, iklan berupa video dari kampanye Ahok-Djarot tersebut telah viral melalui #KampanyeAhokJahat dan telah dilaporkan oleh masyarakat ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Syafril yang juga aktivis 77/78 ini menambahkan bahwa terlepas dari kasus iklan video yang tendensius itu, bisa dilihat mulai kasus wifi dengan username Al-Maidah 51 dan password Kafir sebagai bahan olok-olok hingga kasus iklan video kampanyenya yang tengah menjadi trending topic ini menunjukkan bahwa Ahok dan timnya lebih menyukai isu SARA sebagai bahan materi kampanye.

“Bisa jadi bagi Ahok dan tim, tema SARA ini lebih mengena untuk kalangan umat Islam abangan yang jumlahnya lebih besar dari muslim yang paham al-Quran. Bisa jadi kampanye tersebut efektif, namun mereka lupa bahwa hal tersebut akan menyakitkan berbagai pihak,” papar Syafril.

Bagi Syafril, Ahok dan timnya seolah lupa bahwa Cina juga ada yang muslim dan di RRC sendiri terdapat sekitar 50 juta umat Muslim. Padahal hubungan umat Muslim dengan Cina yang bukan Ahok selama ini mesra tanpa ada gesekan.

Syafril mengingatkan jika Ahok dan timnya tidak hati-hati, maka isu yang dibawa sebagai bahan materi kampanye mereka bisa menjadi menjadi bumerang buat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Saya sependapat bahwa Ahok akan dikenang sebagai Gubernur Disintegrasi Bangsa. Semoga ada kesadaran untuk mengubah video yang lebih sejuk dan lebih menonjolkan kinerja yang telah dia capai selama ini,” tandas Syafril mengakhiri pernyataannya.

(bm/bti)

author