Agama, Politik dan Darah

241 views

 

Saya kok khawatir akan adanya gelombang anti agama bahkan ateisme baru di Timur Tengah pasca Arab Spring yang berdarah-darah apalagi ditambah kemunculan milisi-milisi ”berdarah dingin” yang mengatas namakan Islam, demikian curcol temen yang tidak mau terkenal itu, meski banyak curhatnya yang sebenarnya bermanfaat. Coba kita tengok Eropa menjelang renaissance, akhir abad pertengahan. Ketika agama menjadi jagal para saintis yang berlanjut pada konflik horizontal antara gereja Katolik Roma dengan Gereja-gereja Reformasi. Pertarungan berdarah selama dua ratus tahun yang melibatkan akar rumput, menyebabkan masyarakat Barat memilih menjadi sekular, deis, agnostik bahkan ateis sampai sekarang. Gereja-gereja kosong dari jema’at, banyak yang ditutup bahkan dijual karena tak lagi menjalankan kebaktian.

Hal itu pula dulu yang terjadi setelah sekian abad Hindu dan Budha berkembang di Indonesia. Meskipun Hindu hanya berkembang di kalangan wong njero (istilah Agus Sunyoto) yang elitis di lingkup Kraton, tapi ia bertahan cukup lama. Sampai ketika para penguasa Majapahit sibuk bertikai berebut tahta kekuasaan dalam Perang Paregreg yang berlangsung bergenerasi. Ajaran yang dibawa Prabu Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singasari, yakni aliran Bhairawa Tantra. Dalam kepercayaan Siwa-Budha menjadi diminati para petinggi negeri. Ini adalan jalan pintas menuju moksa dengan ritual yang disebut sebagai Ma-lima.

Menurut Prof Rasyidi, upacara ma lima itu terdiri dari ritus matsiya (memakan ikan gembung beracun), manuya (memakan daging dan minum darah gadis yang dijadikan kurban), madya (upacara ritual dengan meminum minuman keras hingga mabuk), muthra (ritual tari sampai ekstase tak sadarkan diri), dan maithuna (persetubuhan secara massal). Upacara itu dilakukan di tanah lapang yang disebut setra.

Pendapat Prof. De la valle Poussin yang menyatakan bahwa praktik Maithuna tidak dilaksanakan secara sungguh-sungguh dibantah oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi, sebab Maithuna ternyata banyak dipraktikkan secara konkret. Maithuna tidak dianggap berdosa sebab pelakunya dianggap telah menjadi dewa. Ma lima untuk penobatan seorang raja membutuhkan lebih banyak korban, tumbal bisa mencapai ratusan orang.

“Adityawarman, seorang Radja dari kerajaan Melayu (yang menjadi menantu raja Majapahit) menerima penasbihannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, menghadapkan kurban manusia yang menghamburkan bau busuk, tetapi bagi Adityawarman sangat semerbak baunya”.

Ritus kematian juga tidak kurang mengerikan. Bila seorang suami meninggal, maka ia akan dibakar dalam upacara ngaben. Tapi tidak berhenti di situ, resiko perempuan yang hidup dalam falsafah swarga nunut neraka katut, mewajibkan sang istri ikut dibakar hidup-hidup bersama jenazah suami. Upacara sati terbesar terjadi saat meninggalnya raja Blambangan, Tawang Alun.

Tawang Alun II banyak ditulis dalam arsip Belanda, justru pada masa akhirnya tahtanya. Yakni ketika upacara ngaben jenasahnya yang digelar secara spektakuler. Alkisah, dalam upacara sebanyak 271 isteri dari 400 isteri Tawang Alun ikut membakar diri (sati) .

Dalam suasana ”kejatuhan moral” agama seperti itulah, kata Dennys Lombard, masyarakat Jawa memang membutuhkan sentuhan keagamaan baru. Kalau pasca konflik berdarah Katolik dan Protestan di Eropa menghasilkan gelombang Sekularisasi besar-besaran, dan cara berfikir yang menyingkirkan Tuhan menjadi agama baru masyarakatnya. Maka di Jawa, Tantrisme ini kemudian menghasilkan gelombang keIslaman penduduknya secara massal. Keislaman raga, kata Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren. Yang penting Islam dulu.

Para ulama kemudian meletakkan pondasi moralitas baru pada masyarakat Jawa, yakni aja nglakoni ma lima (jangan melakukan perbuatan ma lima), pada awalnya ini adalah seruan para ulama kepada masyarakat Jawa untuk tidak lagi melakukan ritual Bhairawa Tantra ini. Sebab ritual itu tidak hanya jahat kepada Tuhan tapi juga jahat pada manusia. Adapun istilah aja nglakoni ma lima, yang diartikan aja madat, aja madon, aja minum, aja main lan aja maling (jangan menghisap candu, jangan berzina, jangan mabuk, jangan berjudi dan jangan mencuri) yang menjadi standar dasar moralitas manusia Jawa adalah penerjemahan ma lima setelah masyarakat Jawa mengalami Islamisasi.

Sebuah revolusi moral yang menyebabkan para penyebar agama Islam menjadi panutan bagi seluruh masyarakat Jawa. Untuk masalah keakhiratan, agama dan do’a, kaum abangan menyerahkannya kepada para ulama atau setidaknya kaum santri. Menurut Nakamura dan CC Berg, ini adalah wujud dari keberhasilan proses Islamisasi di Jawa.

“Justru pada jantung religius kaum abangan, yaitu di dalam kehidupan ritual mereka, mereka betul-betul tergantung pada pertolongan kaum santri. Hanya santri lah yang dapat memimpin doa di dalam ritus yang paling sentral dari orang-orang abangan, yaitu slametan. Juga santrilah yang dapat memimpin upacara ketika seorang abangan mengalami, apa yang disebut Malinowsky, krisis yang paling utama dan paling final dalam kehidupan, yaitu: kematian”

Tidak hanya Islamisasi ritus keagamaan, bahasa, pola hubungan dalam masyarakat, pola kepemimpinan juga mengalami perubahan yang mendasar. Perubahan dari Bahasa sansekerta bahasa Jawa yang banyak mengadopsi istilah Islam, seperti adil, pikir, rakyat, Sultan ataupun Islamisasi makna sembahyang yang bermakna sholat, pasa bermakna shaum, suwarga bermakna jannah dan yang semisalnya adalah bukti dari eksistensi Islam menjadi fondasi bagi masyarakat Jawa baru yang lebih beradab.

Adalah sangat beralasan ketika Prof. Syed Naquib Al-Attas menyatakan bahwa kedatangan Islam ke kepulauan Melayu (termasuk Jawa di dalamnya) merupakan peristiwa yang paling penting dalam sejarah kepulauan ini. Hal ini diamini oleh Dr. H. Roeslan Abdulgani yang menyatakan bahwa Islam datang ke Nusantara membawa tamaddun (peradaban), kemajuan dan kecerdasan. Sebuah kesimpulan yang berhadapan secara diametral dengan pendapat para javanolog kolonial dan para pengikutnya bahwa Islam itu berhadapan secara diametral dengan Jawa, karena pada kenyataannya, masyarakat Jawalah yang secara sukarela memasukkan diri mereka ke dalam Islam.

Hanya saja, ketika kemudian seiring berjalannya waktu, Islam ditampilkan sebagai sebuah keriuhan konflik politik kekuasaan semata, saya kok jadi ikut kuatir seperti teman saya tadi, bahwa akan ada kelompok-kelompok masyarakat yang kemudian secara perlahan meninggalkan identitas keislamannya. Contoh telanjang dalam masalah ini adalah ketika santri hanya berwajah tunggal yakni politik, di Orde lama. Masyumi untuk modernis dan NU untuk tradisionalis yang kemudian berkonflik dengan kekuatan politik abangan (PKI) dengan intensitas konflik yang tinggi bahkan berdarah-darah. Akhirnya, akibat konflik berdarah, kata Avery T. Willis, dua juta abangan memilih meninggalkan Islam dan masuk Kristen / Katolik. Kalau kita berkeliling Merapi-Merbabu, desa-desa dan penduduk Kristen yang ada di sana, 90 % nya menjadi penganut Kristen pasca penumpasan PKI tahun 1965. Jadi, berjuang mereaih kekuasaan sah-sah saja, tapi ingat, ketika anda membawa agama sebagai jargon yang sangat eksplisit, kesalahan langkah anda bisa merugikan agama yang anda anut.

ARIF WIBOWO

Sejarawan dan Penulis

author