ADI SASONO

11

 

Tepat empat tahun lalu, 13 Agustus 2016, dia wafat. Dua tahun kemudian, 16 Maret tepatnya, sang istri menyusul. Jumat ini saya tak sedang berhaul belaka atas tiadanya dia, namun lebih sebagai catatan dan doa pada sosok yang dikagumi sejak remaja.

Adi Sasono, namanya. Bersama Amien Rais, keduanya tokoh favorit saya kala SMA, di kurun ICMI berdiri semenjana. Hingga organisasi ini menjulang dan saya duduk di bangku kuliah di Jogja. Simpel saja alasannya. Keduanya vokal menyuarakan kepentingan bangsa. Spesifik lagi: aspirasi umat Islam yang mayoritas tak berdaya. Terutama ketika bicara ketidakadilan ekonomi yang ditanggung si pribumi papa.

Bila Amien melangkah bersama Tauhid Sosial, Adi aktif menyuarakan soal dominasi tiga dekade di bawah Orde Baru yang memanjakan pengusaha keturunan China. Suara dan aksinya sebelum dan setelah duduk di pemerintahan (era B.J. Habibie) masih konsisten. Soal koperasi dan kedaulatan ekonomi rakyat tema yang digeluti Adi. Sasarannya: pengusaha China kelas kakap. Terutama para konglomerat.

Entah bagaimana, keberpihakan Adi pada rakyat pengusaha pribumi dipandang “aneh” lagi berbahaya. Masa krisis keuangan 1997-1998 yang direspons Adi dengan menyoroti perilaku konglomerat hitam China, malah ditanggapi sebagai kebijakan rasialis. _Asian Week_ memopulerkan, bersama _Far Eastern Economic Review_ edisi Desember 1998, Adi sebagai “Indonesia’s Most Dangerous Man”!

Adi pun tidak sekadar dikritik, tapi juga mulai “digarap”. Beberapa cendekiawan yang tidak suka ICMI, meski Muslim sekalipun, mulai menyerang kebijakan dan retorika Adi. Yang disuarakan Adi sebetulnya fakta. Entah kenapa ihwal yang biasa saja terkesan begitu politis dan SARA. Seorang Gus pimpinan ormas Islam kala itu tidak sungkan mengamini pelabelan seram media asing pada Adi.

Adi, juga Amien, sejatinya suara jujur anak bangsa dari kantong Islam. Mereka tidak berjuang sempit demi kelompok atau primordialisme. Bukan pula takut asing dan investasi. Keduanya hanya perjuangkan keadilan. Amien vokal dalam kasus Freeport, pun bukan berarti tanpa misi kebaikan bagi negeri ini. Sayang, suara-suara tulus semacam keduanya acap dihadang kalangan sendiri yang memihak pihak lain dengan dalil dan dalih tafsirnya.

Adi dan Amien tidak selalu sejalan. Pernah keduanya di era partai politik marak selepas lengser Pak Harta, dipertarungkan. Seakan keduanya berseberangan. Perjuangan lama di era ICMI, _Republika_ pun seakan pudar oleh euforia partai. Amien dengan PAN; Adi dengan PDR.

Saya menikmati tulisan mereka semasa keduanya duduk aktif di redaksi ahli Republika. Kolom “Resonansi” begitu terang, menohok, tak perlu puitis di kata-kata layaknya sebuah kolom halaman belakang sebuah majalah yang pernah dibreidel Pak Harto. Reputasi kolom di koran _Republika_ adalah kejujuran. Dan gagasan kedua nama di atas dengan mudah ditemui di kolom tadi.

Adi dan Amien juga aktif menulis di tabloid besutan awak Republika: Tekad. Saya melanggani tabloid bernas dan analitis ini. Bersama tabloid sepupu jauh yang sempat populer era Orde Lama: Adil. Sayang, analisis keduanya tidak dapat dibaca lagi sekarang seturut matinya kedua tabloid tersebut. Tabloid yang banyak seimbangkan aspirasi umat di tengah transisi demokrasi masa itu.

Saya berusaha mencari-cari foto sampul tabloid yang mengulas “perseteruan” kedua tokoh di atas. Alhamdulillah, masih tersimpan. Semacam memorabilia atas wafatnya Adi Sasono empat tahun lalu.

Adi barangkali asing bagi anak muda era digital. Apatah lagi bila namanya diiringi label “seram” bikinan media asing, yang juga diam-diam disepakati beberapa koran lokal di sini. Adi tidak bakal utuh ditangkap sebagai sosok pejuang ekonomi kerakyatan, tapi sebagai lawan etnis tertentu. Dan ini mudah diseret sebagai sosok penggaung anti-kerukunan.

Barangkali di sisi ini nama Adi “dipantaskan” dilupakan oleh banyak media hari ini. Kecuali tentu saja _Republika_. Keterlaluan bila koran yang kini dimiliki penguasa grup Mahaka dan aktor penting di rezim Joko Widodo justru enggan memuat berita legasi Adi Sasono di lembarannya betapapun dia telah tiada berbilangan purnama politik.

 

YUSUF MAULANA

Penulis Buku Aktivis Bingung Eksis